Rabu, 22 Juli 2015

Cinta Tak Pernah Sempurna


Cinta tak pernah sempurna.
Cinta tak selalu bahagia.
Cinta butuh diuji.
Cinta tak selamanya ada.

Cinta tak butuh kata-kata.
Karena kata tak menjamin cinta.
Cinta butuh keyakinan.
Cinta butuh kepastian.

Selasa, 07 Juli 2015

Tentang Seseorang


Tentang seseorang yang kukenal lugu, lucu, dan sedikit kaku.
Pertemuan pertama dengan tatapan berbeda.
"Ada sesuatu yang membuatnya terlihat berbeda dari pria lain."
Demikian ucapku dalam hati.
Aku ingin mengenal hatinya lebih dekat.

Kami bertemu dalam satu waktu.
Masih dengan suasana kaku.
Lama-lama kami berdua membisu.
Hanya saling tatap.
Tanpa ada kata yang terucap.

Tiba-tiba ada seorang perempuan yang mendekatinya.
Menceritakan permasalahan hidup.
Perempuan itu cantik tapi hidupnya rumit.
Membuat Pria itu tertarik dan simpatik.
Mereka semakin dekat dan akrab.
Sementara hatiku mulai meratap dan terjerembab.

Bersambung......

Minggu, 05 Juli 2015

Rantai Kehidupan


"Tak ada orang yang jahat, yang ada hanyalah orang yang belum menemukan hidayah. Dan tak ada orang buruk, yang ada hanyalah orang yang belum menemukan cahaya."

"Anda selalu dapat memetik pelajaran dari orang yang Anda temui. Yang baik dari dia menjadi contoh untuk ditiru. Sedangkan yang tidak baik dari seseorang menjadi contoh untuk tidak diteladani." - Confucius -

Manusia diciptakan bukan tanpa tujuan. Setiap jiwa yang lahir ke dunia diberikan kelebihan meski kadang orang tidak melihat kelebihan itu karena tertutupi oleh kekurangan.

Kita dapat melihat, merasakan, dan mengambil pelajaran dari setiap makhluk yang ada di muka bumi. Terhadap batu, kita belajar dari ketangguhan dan kekuatannya. Terhadap air, kita belajar dari kejernihannya, termasuk terhadap kotoran pun, kita bisa memetik hikmahnya.

Manusia memang ada yang terlihat baik, ada pula yang sebaliknya. Namun, terkadang kita mengabaikan apa yang ada dibaliknya. Pertanyaan, kenapa dia berbuat baik tapi ada orang berbuat jahat?

Orang yang terlihat baik dan kita pikir dia memang baik karena dia berbuat baik di mata kita maupun orang lain. Bagaimana dengan orang yang berbuat keji meskipun bukan terhadap diri kita? Kita bahkan ikut merasakan kekejian itu, melihatnya sebagai "kotoran" yang tergambar dari pikiran negatif. Ini yang biasa kita semua alami.

Segala sesuatu dicipatakan sepasang, termasuk baik dan buruk. Yang sama halnya dengan siang dan malam. Kenapa ada orang yang lebih menyukai siang dibanding malam atau sebaliknya? Kenapa ada orang yang lebih menyukai orang baik dibandingkan orang jahat? Kenapa terkadang orang jahat dipandang sebelah mata? Dihujat? Apakah kita sudah merasa lebih baik darinya?

Silahkan menghujat, tapi pikirkan lagi manfaatnya bagi kita. Bukankah lebih baik bila menjadikan perbuatan keji seseorang sebagai peringatan? Lebih bermanfaat ketimbang dengan menghujat yang malah menimbulkan pikiran negatif.

Tidak akan ada orang jahat jika tidak ada orang baik. Kita tidak akan mengatakannya dia buruk selama pikiran kita tidak fokus pada perbuatan buruknya. Tapi fokus pada pertanyaan, Kenapa orang itu berbuat buruk? Alasan dia berbuat buruk apa? Dan kita terbiasa mengabaikan pertanyaan itu.

Dengan kita mengetahui alasan dia berbuat buruk akan ada hikmah yang bisa kita petik. Misalnya, karena kurangnya pendidikan atau nilai-nilai agama yang dianut. Dari hal ini, kita jadi lebih bersyukur bahwa kita memiliki (pendidikan atau nilai agama) yang orang lain tidak punya. Makanya kita jadi lebih bisa mengontrol pikiran, perbuatan, dan sikap.

Sabtu, 04 Juli 2015

Pembunuhan


Apa yang terbesit dibenak Anda ketika mendengar judul di atas? Mungkin salah satunya adalah “sadis”.

Pembunuhan memang identik dengan tindakan kriminal yang dilakukan oleh orang lain karena motif tertentu, seperti dendam, sakit hati, atau karena keadaan tertentu.

Pembunuhan bisa dilakukan oleh pelaku dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan atas (bos) dengan menyewa pembunuh bayaran sampai kalangan bawah dengan dia sendiri sebagai pelaku.

Pembunuhan juga bisa dilakukan oleh orang yang memiliki pendidikan tinggi bahkan oleh orang yang tidak berpendidikan. Pembunuhan ini erat kaitannya dengan pengendalian emosi diri seseorang. Karena bahkan orang pintar yang terhormat pun bisa menjadi pelaku.

Pembunuhan juga bisa dilakukan oleh orang yang dikenal, seperti teman dan saudara kandung. Sementara pembunuhan yang dilakukan oleh orang yang tidak dikenal biasanya dilakukan oleh perampok, pemerkosa, dan bahkan pemabuk yang dalam keadaan tertentu.

Pembunuhan juga bisa dilakukan dengan cara massal, yaitu dilakukan oleh kelompok tertentu. Biasanya dilakukan karena motif kekuasaan.

Analisa kasus:

Belajar dari kasus pembunuhan saat ini, kebanyakan korban adalah perempuan. Kasus pembunuhan Ade Sara, Deudeuh, Angeline, Citra, dan lainnya dilakukan oleh orang terdekat. Ade Sara yang dibunuh oleh mantan pacar dan pacar dari mantannya (sepasang kekasih = sepasang pembunuh). Deudeuh dibunuh oleh tamunya. Angeline dibunuh oleh ibu angkatnya (dugaan). Citra dibunuh oleh suaminya.

Dari kasus tersebut dapat ditarik beberapa poin kesamaan aksi pembunuhan, diantaranya. Terdapat jeratan dibagian leher (Deudeuh, Angelin, Citra), terdapat sumpalan benda di mulut ( Ade Sarah ; kertas, Deudeuh ; Kaos Kaki).

Sementara untuk motif pembunuhan beragam. Ade Sara dibunuh karena rasa cemburu si pelaku (terkesan konyol), Deudeuh dibunuh karena mengejek “bau badan” (pelakunya baper), Angeline dibunuh karena motif peninggalan harta ayah angkat (masih dugaan), Citra dibunuh karena pelaku (suami) cemburu karena ada sms dari pria lain di hand phone istrinya.

Umur pelaku pembunuhan relatif masih muda (20 tahunan) kecuali Angeline. Kebanyakan mereka kurang bisa mengontrol emosi yang akhirnya menimbulkan penyesalan karena masa mudanya bakal dihabiskan di penjara.

Kamis, 02 Juli 2015

Hi.... Salam Kenal dari Mei Mei!


Namanya Mei Mei karena lahir bulan Mei. Umurnya sekarang dua bulan. Kesukaannya minum susu formula merk "Growssy". Suka ikutan main laptop klo gue lagi ngetik atau ngenet. Mei nggak suka dikandangin, setiap kali dimasukin kandang, "meong-meong". Kasian dengerrnya nggak tega. Jadi gue lepasin aja, berkeliaran di dalam rumah. Bebas.

Minggu, 21 Juni 2015

Mt. Papandayan Is My First Love (Lanjutan 3)


Kami kembali turun dari Tegal Alun menuju area Hutan Mati yang lebih luas. Di sini tak kalah menakjubkan. Aku tambah terpukau dengan pesona kumpulan pohon-pohon yang sudah mati karena erupsi, mereka sudah tak bernyawa, menyisakan batang-batang pohon yang telah menghitam, hangus terbakar akibat letusan, namun masih tegap berdiri dengan ranting-rantingnya, membuat panorama yang begitu eksotis.

Lebih dari sejam rombongan Batavia Publishing berada di area Hutan Mati. Ada yang sibuk memotret setiap sudut bagian Hutan Mati, ada juga yang sibuk foto selfie, ada yang hanya menikmati suasana, merasakan setiap detik sensasi yang timbul dari area ini. Aku termasuk yang sibuk merasakan setiap detik sensasi menakjubkan dari Maha Karya Tuhan yang satu ini.

Tak terasa gelap pun jatuh. Udara dingin menerobos jaket tebal yang kukenakan bahkan hingga menusuk-nusuk tulang.

Menjelang di ujung malam api unggun sudah mulai berkobar-kobar, siap menghangatkan kami yang sudah mulai menggigil kedinginan. Kami berkumpul membentuk lingkaran, duduk mengitari api unggun, melakukan kegiatan sharing atau curhat atas apa yang telah dirasakan selama pendakian hari ini sekaligus membahas soal kegiatan menulis yang dipandu Kak Aida.

Azmi bercerita kalau dia dibohongi kakaknya soal larangan makan malam saat berada di gunung. Dia percaya dengan omongan sang kakak, padahal kakaknya sendiri belum pernah mendaki gunung. Tapi malah nasihat kakanya dilakukan, sehingga seminggu sebelum berangkat, di setiap malamnya dia tak pernah menyentuh makanan. Kasian. Berat badanya turun beberapa kilo. Tidak hanya karena itu, tapi dia juga setiap pagi lari tujuh putaran untuk pemanasan.

Zul bercerita soal pengalamannya naik gunung di Aceh bersama rombongan santri dan pembimbingnya (pak ustadz) yang nekat mengenakan sarung pada saat mendaki.

Jamil juga bercerita soal pengalaman camping bersama rombongan pramuka, dia sama seperti Zul, sudah terbiasa menghadapi medan terjal dan udara dingin pegunungan. Lihat saja mereka berdua kompak tak mengenakan jaket tebal malam ini. Sementara yang lain menggigil kedinginan.

Bang Ipang memberikan masukan soal pendakian diantaranya, sebelum berangkat lakukan olahraga teratur, tidur teratur, makan teratur, dan carilah informasi tentang gunung tersebut. Gunakanlah standar perlengkapan gunung lengkap (sepatu, tas dll), aturlah nafas dengan baik, aturlah langkah kaki dengan benar (langkah kecil-kecil), jangan terlalu banyak minum, dan senantiasa berdoa.

Kak Cimot menceritakan pengalaman pertamanya naik Gunung Salak ketika masih SMP. Dia bahkan bilang kalau pendaki saat ini beruntung karena sekarang jalur pendakian sudah ditata sedemikian rupa agar pendaki merasa lebih nyaman dan aman. Dia juga pernah mengalami kesulitan besar kala itu, namun semua bisa teratasi bahkan menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan membuatnya ketagihan untuk naik ke dua puluh gunung lainnya.

Di sela sesi sharing Bang Ipang dengan baik hati membuatkan teh manis hangat. Semua menikmati suasana malam ini. Di sini juga banyak pendaki lain yang melakukan berbagai aktivitas seperti, bernyanyi, bermain, bercerita, dan kegiatan lain yang bisa mengalihkan dinginnya malam.

Angin mulai berhembus kencang, rintik-rintik air jatuh dari langit. Aku mulai khawatir dengan keadaanku sendiri, dan tiba-tiba saja aku teringat ucapan Kak Cimot (kejadian meninggalnya pendaki karena kedinginan).

Selesai diskusi aku izin istirahat di dalam tenda. Namun, percuma mataku tak bisa terpejam dan tubuhku tak bisa rileks. Tak lama Zul mengajak untuk memasak martabak mie. Namun yang terjadi malah jauh dari bentuk martabak mie dan rasanya juga asin pake banget. Semua tertawa melihat kegagalan kami memasak malam ini.

Lalu Zul dan Jamil balik ke dalam tenda. Istirahat. Aku hendak mengambil air ke tempat saluran mata air dekat toilet umum. Aku berjalan menggunakan headlamp di tengah malam yang dingin dan gelap namun masih ramai oleh suara dan lalu lalang pendaki lain. Di ujung malam, menuju pagi yang dingin akhirnya semua terlelap.

Dini hari. Hujan es, kabut tebal, dan suara para pendaki lain yang terdengar mulai ramai membangunkanku. Aku membuka tenda. Melihat sekitar yang hanya terselimuti kabut tebal. Jarak pandang hanya beberapa meter.

Setelah kabut dan hujan mulai meredam. Kami mulai beraktivitas kembali. salat, sarapan pagi, bersih-bersih badan, lalu siap-siap melakukan agenda pelatihan menulis bersama Kak Aida.

Kami diberikan materi seputar penulisan bertema Travelling. Lalu kami diberi tugas untuk menulis dengan tema yang sudah dipilih secara acak. Aku kebagian tema “Pondok Salada”. Aku menceritakan apapun yang berhubungan dengan pondok salada yang kuberi judul “Kehangatan di Pondok Salada”. Dua puluh menit semua peserta selesai mengerjakan tugas dan bersiap mendengar penilaian dari Kak Aida tentang masing-masing tulisan.

Penilaian diukur dari poin 5P 1H. Tulisan yang menarik harus menggunakan konsep 5P 1H(5 Panca Indera, 1 Hati). Semua peserta sudah cukup keatif menuangkan ide-idenya. Namun, dibutuhkan latihan rutin untuk dapat menghasilkan tulisan yang dahsyat dengan konsep tersebut.

Selesai penilaian, diumumkan tulisan terbaik dari yang terbaik. Dan ternyata tulisan dengan judul “Kehangatan di Pondok Salada” mendapat apresiasi lebih. Yap, aku bersyukur dengan apresiasi yang telah diberikan. Semoga aku bisa lebih baik dalam menulis. Terima kasih Kak Aida atas hadiahnya.

Selesai agenda pelatihan menulis, kami siap-siap untuk turun. Tepatnya setelah makan siang dan salat zuhur.

Siang hari. Kami turun melewati jalur Hutan Mati. Siang hari kabut tak terlihat. Pemandangan semakin eksotis tanpa kabut yang menghalangi, tebing-tebing menjulang tinggi, uap-uang belerang keluar dari dalam bebatuan, suara khas uap belerang yang keluar memanjakan telinga.

Luar biasa perjalanan turun kali ini. Di sisi kanan dan kiri kita bisa melihat dan merasakan betapa menakjubkan Maha Karya Tuhan yang berhasil disuguhkan begitu sempurna tanpa ada kabut yang menghalangi. Perjalanan yang bahkan terasa begitu cepat.

Pemandangan alam yang indah telah kurasakan, membuatku jatuh hati. Kapan-kapan aku akan kembali saat rindu menghampiri. Salam cinta untuk semua yang ada di sini.

Cinta memang butuh perjuangan. Perjuanganku untuk Papandayan adalah bukti cintaku. Inilah kisahku dengan cinta pertamaku. Mt. Papandayan Is My First Love.

Sabtu, 20 Juni 2015

Mt. Papandayan Is My First Love (Lanjutan)


Setelah membangun tenda lalu makan siang dan salat zuhur kami mendaki lagi. Tujuan selanjutnya adalah Hutan Mati dan Tegal Alun. Berbekal air mineral, cemilan secukupnya, dan sebanyak-banyaknya tekad kami berjalan menelusuri hutan-hutan, lalu sungai, dan bebatuan. Sekitar kurang dari sejam perjalanan kami sampai di kawasan Hutan Mati. Udara terasa hangat. Dari sini kita bisa melihat Pondok Salada yang dihiasi warna-warni tenda para pendaki. Terlihat sangat kecil, seperti titik-titik warna, merah, kuning, hijau, dan biru.

Karena Kawasan Hutan Mati begitu luas sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan pendakian ke Tegal Alun dan akan kembali ke Hutan Mati setelah turun dari Tegal Alun.

Lagi dan lagi nafasku mulai tersengal.

“Fera masih kuat nggak? Karena kita masih akan menanjak cukup lama. Kalau nggak kuat jangan dipaksa, kita main-main aja di hutan mati.” Ucap Bang Ipank.

Sementara keputusan lanjut atau tidaknya ada di tanganku dan otomatis jika aku bilang stop sampai di sini, aku nggak kuat, mereka juga akan berhenti di sini.

Wajah-wajah penuh harap, wajah-wajah yang seolah-olah mengatakan, “lanjut saja. Kamu pasti kuat. Kita selalu ada untukmu. Tegal Alun sudah menanti kita. Ayo semangat!”

Hening sejenak. Menunggu keputusan. Sementara yang lain bantu menyemangati.

Aku berpikir keras dan mengumpulkan seluruh keyakinan dan tenaga yang masih tersisa. Seketika terbesit di otakku tentang nasihat lama yaitu, kamu bisa jika kamu berpikir bahwa kamu bisa. Kamu kuat jika kamu berpikir bahwa kamu kuat. Namun, kamu akan menyerah jika kamu berpikir kamu tidak bisa.”

Akhirnya, aku memutuskan untuk LANJUT! Wajah-wajah cemas itu seketika berubah menjadi senyum yang merekah.

Perjuangan luar biasa untuk sampai di Padang Edelweis karena harus melewati tanjakan bernama “Tanjakan Mamang”. Tanjakannya terjal, curam, licin, dan sempit (lebar jalan tidak lebih dari setengah meter).

Biasanya di sini banyak pendaki yang terpeleset karena memang licin. Tanjakkan ini cukup menguras energi maka tidak jarang ada pendaki yang berhenti di tengah untuk istirahat sejenak atau mengabadikan momen dengan berfoto ria.

Setelah “Tanjakan Mamang” kita melewati jalur biasa, datar yang hanya beberapa meter dari sini akan terdengar suara orang-orang yang sudah lebih dulu sampai. Yap, kami telah tiba di Tegal Alun. Hamparan bunga Edelweis terbentang luas. Aku yang masih takjub dengan sensasi yang ada di Tegal Alun tak ngeh ketika Jamil memberikan beberapa kertas kosong dan spidol. Untuk apa ya kertas ini?

“Ini kertasnya, ambil aja beberapa, nanti sisanya kasih ke yang lain ya.” Ucap Jamil lalu beranjak pergi ke area lain. Aku membiarkannya pergi dan menyangka kalau dia mau bertafakur sejenak, mencari tempat yang agak sepi. Mungkinkah ini sisi lain dari seorang Jamil yang hobi foto-foto? Ucapku dalam hati.

Sementara aku yang masih terpaku, melihat betapa dahsyat pemandangan, udara dingin, dan kabut yang semakin tebal. Tak lama setelah itu zul datang, menghampiriku, meminta kertas, disusul Kak Aida. Sampai kertas itu habis, aku masih belum sadar ada apa dengan kertas itu.

Lalu Azmi nyeletuk, “Masih ada kertas lagi nggak yang kosong buat difoto? Nanti tulisannya biar bisa diedit-edit.”

Sementara Kak Aida terlihat sedang menuliskan ajakan kepada seseorang untuk datang ke sini, Tegal Alun. Dan aku baru tersadar bahwa kertas itu untuk dituliskan kepada orang-orang terdekat. Aku kehabisan kertas padahal tadi aku yang pegang banyak. Ckckck

Jamil? Aku melihatnya dari kejauhan. Ternyata dia bukan sedang bertafakur tapi malah asyik selfie dengan tulisan-tulisan yang ada di kertas itu. Hahaha.

Satu per satu mereka berfoto dengan kertas yang sudah dituliskan. Aku juga sempat diminta Jamil memotret dirinya dan kertanya. Sementara aku yang bingung kehabisan kertas, berusaha mencari apapun yang bisa dituliskan. Terbesit rasa syukur yang ingin kutulis di kertas itu.

Setelah satu per satu puas berfoto dengan kertasnya, Zul meminta kesediaan pendaki lain untuk memotret rombongan Batavia Publishing. Jepret! Jepret! Jepret! Selesai bernarsis ria dengan tiga gaya.

Hari semakin sore. Kabut semakin tebal. Udara semakin dingin. Kak Aida mengusulkan untuk beranjak dari sini, turun ke Hutan Mat, lalu kembali ke Pondok Salada. Aku masih mencari-cari kertas. Kebetulan aku lihat ada rombongan lain yang juga sedang berkumpul, menuliskan ini-itu. Aku mendekati mereka.

“Permisi akang-akang, wah lagi pada sibuk nih bikin ucapan di kertas. Ngomong-ngomong ini rombongan dari mana? Salam Kenal, aku Fera dari Jakarta. Oh iya, boleh minta kertasnya?”

Kami berkenalan. Lalu rombongan pendaki asal Tangerang itu dengan senang hati memberikan dua kerta berserta spidol.

“Kak sebentar ya, aku mau menuliskan sesuatu.” Pintaku soal waktu kepada Kak Aida.

Tanganku gemetar ketika menuliskan rasa itu di selembar kertas. Selesai. Aku meminta Azmi untuk memotret.

Kak Aida tersenyum melihat gayaku berfoto sambil menampilkan apa yang telah kutulis. Tersenyum melihat tulisan di kertas itu. Ia terlihat juga sedang membisikan sesuatu ke telinga Bang Ipank. Zul, menyusul memotretku. Dua kamera, dua fotografer, satu objek dengan tulisan “Terima kasih Allah ^_^” .

Terima kasih Allah, terima kasih Tegal Alun, terima kasih para Edelweis yang cantik, terima kasih Tanjakan Mamang, terima kasih udara dingin, terima kasih kabut, dan terima kasih teman-teman.

--------Bersambung---------

Selasa, 09 Juni 2015

Mt. Papandayan Is My First Love


Sabtu, 6 Juni 2015 pukul 05.00 rombongan Batavia Publishing tiba di Camp David. Setiba di sana kita salat subuh dan sarapan. Rombongan yang tergabung dalam kegiatan Traveling Writing ini terdiri dari empat lelaki dan tiga perempuan.

Pukul 07.00. pendakian dimulai. Bang Ipank sebagai ketua tim. Luar biasa yang dilakukannya ini, menyemangati, mendukung, memastikan segalanya berjalan dengan baik, dan membawa peralatan paling banyak seperti: tenda, kompor, matras, bahan makanan, dan obat-obatan. Kak Aida sebagai pembimbing. Kasih sayangnya tiada tara. Perhatian banget. Lalu ada Kak Cimot yang sebenarnya juga perhatian tapi jarang ditunjukkan. Azmi yang supel dan bersahabat. Zul yang selalu mengulurkan tangannya untuk siapa saja yang kelelahan saat dalam perjalanan, dan Jamil yang selalu semangat foto-foto. Masing-masing punya karakter yang menjadi ciri khasnya. Saling melengkapi. Saling mengisi. Saling berbagi.

Kabut menemani saat langkah demi langkah dilalui. Trek terjal mulai ditapaki, udara dingin mulai menghampiri, dan angin lembut mulai merasuki tubuh ini. Di tengah-tengah perjalanan terjal dan berbatu, perasaanku mulai terasa sendu. Aku bertanya dalam hati, kamu sanggup?


Kami melewati trek menuju kawah belerang. Menanjak. Licin. Terjal. Bebatuan. Bau belerang yang sangat menyengat, menusuk hidung. Aku mengambil masker dari dalam tas dan memakainya untuk mengurangi bau tersebut. Rekomendasi dari Kak Aida. Di sini nafasku mulai tersengal. Dadaku mulai terasa sesak. Kak Aida menanyakan keadaanku, memastikan aku dalam keadaan baik-baik saja. Aku tampak loyo. Semangatku pudar. tiba-tiba aku teringat perkataan kakak di rumah, memastikan bahwa apa yang dia katakan itu hanya kebohongan. Aku mengutuknya dalam hati. Katanya landai? Apaanya yang landai? Dasar penipu!

“Dek, Papandayan itu landai lho. Treknya nggak berat untuk pendaki pemula. “ Ucapnya beberapa waktu lalu sebelum aku berangkat. Dengan modal pengetahuan seadanya aku memberanikan diri untuk mengikuti kegiatan ini. Aku mendaftarkan diri dengan semangat menggebu-gebu. Aku menanamkan erat-erat dalam ingatanku ucapan kakak tadi. Papandayan landai.

Mungkin bagi yang sudah terbiasa mendaki gunung, jalur di papandayan tidak begitu sulit. Apalagi untuk ukuran seorang lelaki (kakak) yang memiliki tubuh tinggi besar. Sementara tubuhku ringkih (beda 180 derajat). Sementara pendakian ini adalah pendakian pertama bagiku. Jadi aku merasa sangat tertipu oleh ucapan kakak. Teganya dia bilang treknya landai? Padahal taruhannya nyawa.

Harus pelan-pelan dan be carefull. Meskipun aku merasa sudah sangat hati-hati dalam melangkah, namun beberapa kali hampir terpeleset. Berkat uluran tangan dan dukungan teman-teman, aku bisa melewati semua rintangan ini. Terima kasih ya.

Ingin rasanya menumpahkan air mata ini ketika melihat tebing-tebing menjulang tinggi dan kokoh, warna-warni bebatuan yang sungguh menawan, uap-uap belerang yang keluar dengan suaranya yang khas dan bau yang menyengat. Aku memilih menahan tumpahan air mata ini yang seolah-seolah ikut merasakan kekaguman yang aku rasakan. Maha Besar Allah atas segala ciptaanNya.

Setelah tiba di pos kawah belerang kami istirahat sejenak, menghela nafas panjang, minum, dan tak lupa foto-foto. Jamil terlihat sangat antusias melakukan hobi narsisnya. Dan seperti biasa, aku yang sering dimintai memfoto dirinya. Bergaya macam foto model. Hahaha.

Perjalanan dilanjutkan. Sekitar setengah jam melewati trek menanjak dan sempit, akhirnya kami tiba di jalur trek terakhir, melewati sungai dengan aliran langsung mata air, banyak pendaki yang berhenti untuk meminum air sungai ini. Pemandangannya pun luar biasa, hamparan pepohonan hijau menjulang dari atas ke bawah, terlihat beberapa pendaki yang masih berada di bawah.

Beberapa ratus meter sebelum sampai di pondok saladah, kami mendaftarkan diri ke pengurus di sana. Kirain sudah sampai di sini bangun tendanya. Ternyata masih harus naik sedikit lagi.

“Semangat ya. Lima menit lagi kita sampai.” Ucap Kak Aida.

Lima menit sudah berlalu, sementara trek semakin sempit dan menanjak.

“Kak, ini udah lebih dari lima menit lho. Kok belum sampai?”Aku protes. Seperti anak kecil yang menagih janji ibunya untuk dibelikan boneka.

“Fera kalo capek istirahat aja.” Sahut Kak Ipank sambil menatapku dengan tatapan prihatin.

Lanjutan....

Sabar Fera, sedikit lagi sampai. Kuatkan lagi tekadmu. Atur nafas dengan baik. Bisikku dalam hati.

Sejauh mata memandang akhirnya aku bisa melihat beberapa tenda terpasang. Setelah melalui jalanan sempit dan menanjak yang persisi seperti melewati sebuah hutan, terlihat secercah cahaya. Matahari begitu terang dengan sedikit kabut yang masih setia. Kita sudah keluar dari hutan.

Setelah berkeliling akhirnya didapat area untuk mendirikan tenda. Sementara Bang Ipank mengeluarkan perlengkapan tenda, Jamila dan Zul yang asik foto-foto, aku langsung menghempaskan tubuh di atas rumput-rumput yang terasa dingin. Nyeeeeesss. Huuuuuuuft. Akhirnya sampai di pondok salada. Perjuangan luar biasa terbayar dengan pemandangan cantik, udara sejuk. Nampak beberapa awan begitu dekat jaraknya, bergerak perlahan, disusul awan lain. Selfie dulu ah. Hahaha.

----- bersambung-----

Kamis, 07 Mei 2015

Pendapat MUI Soal Prostitusi


Majelis Ulama Indonesia (MUI) tak setuju tentang lokalisasi pelacuran di Ibukota Jakarta yang merupakan masalah lama di setiap pergantian pimpinan yang akan terus dibahas lagi. Lantaran Jakarta merupakan kota metropolitan yang segala kemungkinan bisa ada. Terkait usulan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama memunculkan lagi tentang pembangunan lokalisasi terhadap pelacuran, Prof DR Hj Amany Lubis selaku Wasekjen MUI kurang setuju dengan penyebutan Pekerja Seks Komersial (PSK) karena mereka bukan pekerja. Mereka adalah orang-orang yang terdesak, karena berbagai alasan dan latarbelakang, sehingga menjajakan dirinya dan melakukan pelacuran.

Namun menurut perwakilan dari MUI tersebut, penggunaan bahasa Pekerja Seks Komersial tidak pantas karena beberapa hal. “Jadi bahasanya jangan diperhalus mengenai pelacur bukan PSK. Kalau PSK status pekerjanya bisa sama dengan buruh, petani, pekerja seni, atau pekerja informasi. Sementara pelacur bukan terkait profesi yang memperoleh imbalan ekonomi, karena yang dijualbelikan harga diri seseorang walaupun pelakunya tidak menyadari karena berbagai alasan. Manusia ini ‘kan paling sering buat alasan,” ulas Amany kepada pers di Jakarta, Selasa (28/04/2015)

Menurut Amany, sebagai pengelola negara, harus berpikir panjang dan berpikir jauh, masalah lokalisasi dahulu sudah dihilangkan. Kramat Tunggak, Kali Jodo, dan di Doli Surabaya serta lainnya, sudah ditutup. Lalu kenapa sekarang mau dibuka lagi? Apa kurang kerjaan? Seharusnya ada hal lain yang lebih positif yang bisa dilakukan negara bukan malah masalah ini dibuka lagi. “Artinya, tentang lokalisasi, pendahulu-pendahulu Pak Ahok juga tak menyetujui dan juga sudah ditutup. Jadi adapun masih maraknya pelacuran, berarti kegagalan pengelola ibukKota ini, terkait hal-hal positif peluang kerja yang lebih terhormat untuk laki-laki dan perempuan,” ujar Amany.

Amany memaparkan, lokalisasi itu -yang saya baca tadi pagi di detik.com – Pak Ahok mengatakan lokalisasi pelacuran itu seperti sampah, maka harus dilokalisasi seperti tempat pembuangan sampah. Nanti dari situ mau dikelola, mau dibakar, didaur ulang. Jadi, disamakan dengan sampah. Kalau sampah itu akan diam saja diapapun juga, tapi kalau ini ‘kan manusia bukan benda mati. Mereka masih ada harapan apabila dinasehati atau diluruskan, seperti kebutuhan hidup terpenuhi, lowongan kerja yang memadai, agar menjadi anggota masyarakat yang berguna bukannya dengan membiarkan lokalisasi pelacuran itu.

“Sama saja dengan kita membiarkan masyarakat yang tidak membaur dengan masyarakat lain yang bersifat egois, mementingkan diri sendiri, mementingkan tujuan ekonomi sendiri, dan tidak menjadi anggota masyarakat yang berguna untuk semua. Jiwa manusia itu, walaupun sudah melakukan kesalahan, tetap kita juga memiliki harapan untuk orang tersebut berubah suatu saat, meskipun dari nasihat dia tidak sadar tetapi penyadaran itu datangnya dari mana-mana. Misalnya dengan memikirkan alam semesta, melihat bayi yang baru lahir menangis, melihat manusia cacat yang tidak memiliki anggota tubuh yang utuh tapi masih punya harapan dan semangat tinggi untuk menjalani hidup yang positif. Sementara mereka yang lengkap tubuhnnya tetapi menjajakan dirinya seperti itu. Ada peluang kesadaran bagi mereka,” papar Amany.

Dia pun mengupas, kalau misalnya saja ada 10 lokalisasi yang dibuat di Jakarta, maka akan jadi seperti apa masyakat dan negaranya? Semuanya egois memikirkan diri sendiri, syahwat, dan lainnya. Semua itu banyak dampak negatifnya. Oleh karena itu para pemimpin bijak yang terdahulu sudah betul, lokalisasi itu tidak dibenarkan.

“Dalam Islam, kita tentu menjunjung tinggi kehidupan yang suci dan bersih. Sementara semua agama, semua umat di dunia ini melarang prostitusi, karena itu sangat merendahkan martabat manusia ke martabat hewan,” tegas Amany. Amany mengatakan, terkait sertifikasi pelacur, malah merupakan hal yang mengada-ada. Apalagi demam sertifikasi sekarang ini, jadi semua orang memakai kata sertfikasi. Memangnya seperti laboratorium? Kita manusia berpikir lurus dan terdidik itu, mestinya bisa memilah-milah mana yang urgen dan yang tidak, mana yang layak dan yang tidak.

Tentang sikap Ahok sendiri, Amany mengatakan, karena dari awal naiknya Ahok sebagai Gubernur juga ada masalah. Tidak semuanya disetujui, secara UU juga masih bermasalah, tapi ada kekuatan lain yang mendukung, kemudian banyak masalah juga. Adapun masalah di suatu pemerintahan itu biasa saja, tapi jangan terus menunjukkan sikap yang tidak arif, arogan, itu mustinya siapapun menghindarinya.

“Seorang pejabat biasa melakukan tarik ulur. Namun, jangan selalu tarik, tensinya tinggi terus dalam segala bidang. Hal ini menunjukkan ketidakarifan dari sikap Ahok,” tegas Amany.

Menurut Amany, maraknya pelacuran di bawah umur (pelacuran anak) menjadi hal yang sangat memprihatinkan, berarti memang semua segmentasi masyarakat dari mulai keluarga, sekolah, masyarakat, pejabat, dan negara harus peduli. Harus mencanangkan dan menggembar-gemborkan secara luas pentingnya pendidikan moral dan martabat manusia. Terkait sifat manusia yang dinamis, berubah-ubah, kadang baik, kadang tidak. Maka kita ambil peluang jika dia mau berubah menjadi anggota masyarakat yang baik, maka harus didukung dan dicegah peluang-peluang untuk dia menjadi buruk. “Peran agama bisa diperoleh dari Alquran dan Hadis, sementara dari pemerintah bisa dengan membuat peraturan-peraturan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kemudian peraturan-peraturan yang memberikan kemaslahatan kepada rakyat. Peraturan tersebut juga harus dapat melindungi fisik dan mental, jasmani dan rohani,” ungkap Amany.

Dia pun mengingatkan, ayat tentang anjuran mentaati pemimpin atas segala peraturan yang memberikan kemaslahatan kepada rakyatnya. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta Ulil Amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu adalah yang terbaik untuk kalian dan paling bagus dampaknya.” (QS. an- Nisaa': 59) (fera)

Sabtu, 07 Maret 2015

Si Kitten Sembuh


Hore, Si Kitten Sembuh!

Handphoneku berdering tanda telepon masuk. Aku mengangkatnya.

“Hallo...”

Di seberang sana seseorang bicara dengan suara antusias.

“Fera, Mpusnya udah sembuh. Udah bisa lari-larian, loncat-loncatan. Matanya juga udah bisa melek sempurna.”

Ini telpon dari Mba Tuti. Orang yang selama ini merawat si kitten. Awalnya aku gak percaya kalau si kitten sembuh. Tapi, besoknya aku langsung ke rumah Mba Tuti, dan tralalala.... si kitten beneran udah sembuh! Setelah menjalani pengobatan dan perawatan selama tiga minggu.

Bagaimana bisa si kitten dirawat Mba Tuti? Begini ceritanya...

Setelah si kitten dibawa ke dokter dan menghabiskan biaya sekitar 200 ribu rupiah (suntik, obat, makanan), aku taruh si kitten yang dibungkus kardus di luar rumah. Terpaksa, karena aku gak boleh bawa masuk si kiiten yang sakit ke rumah lagi. Dua jam kemudian aku gak sengaja denger suara dia lagi “meong-meong”. Aku mengampirinya sekalian untuk memberinya makan dan obat. Pas aku kesana, si kitten tergelatak tanpa kardusnya.

Kata Mba Mur, tetangga depan rumah, kardusnya diambil pemulung. Ya ampun. Kasian banget. Sementara aku mau ngasih makan, dibantu sama Mba Mur. Aku cerita kalo kucing ini sakit dan aku kebingungan mau ditaruh di mana. Lalu, Mba Mur ngasih saran yang sangat brilian! Apa itu?

“Dek, kucingnya kasih ke Mba Tuti aja. Dia biasa ngerawat kucing-kucing. Apalagi kalo sakit begini, pasti dirawat sama dia.” Ceeeess.... perasaanku bagaikan es yang mencair seketika. Seneng banget dengernya. Setelah si kitten dikasih makan, aku langung bawa ke rumah Mba Tuti.

Bagaimana si kitten sembuh?

Selama sakit, si kitten ditaruh di kerangjang baju berbentuk persegi panjang yang berukuran sekitar 60 cm x 30 cm. Supaya si kitten nyaman, dialaskan kain yang lumayan tebal. Kalau malam si kitten dikasih lampu supaya gak kedinginan.

Lalu bagaimana si kitten makan dan minum obat?

Si kitten awalnya dikasih makanan daging olahan kemasan kaleng yang tersedia di pet shop. Harganya sekitar 38rb per kaleng. Makanan itu dikasih dengan menggunakan suntikan. Karena si kitten belum bisa makan, terpaksa menggunakan suntikan yang langsung ke mulutnya. Lalu setelah makan, dia dikasih obat berbentuk kapsul. Tapi kapsulnya dibuka, dan dimasukkan lagi ke suntikan ditambah air sedikit.

Setelah makan dan minum obat si kitten tidur pulas. Lalu kalau dia berisik “meong-meong” tandanya lagi buang air kecil atau besar. Kalau udah begitu, ya diganti kain alas kerangjangnya.

Nah, mengenai makanan, karena harga daging kaleng terlalu mahal bisa diganti dengan nestle cerelac bubur bayi yang untuk umur 6 – 12 bulan. Si kittten dikasih itu setelah daging kalengnya habis.

Setelah seminggu dirawat sudah mulai ada perubahan. Si kiiten bisa buang air kecil dan besar. Nafsu makan juga udah bagus. Sayang, matanya masih bengkak.

Mba Tuti berinisiatif memberikan obat herbal sebagai tambahan. Matanya dikompres air hangat dan daun sirih. Selain dikasih makan dan obat, si kitten juga dikasih perhatian dan kasih sayang. Kasih sayang penting lho buat hewan yang sedang sakit, supaya dia gak merasa stress dan ada semangat untuk sembuh. Kira-kira ini yang dibilang Mba Tuti.

28 Februari tepat si kitten berumur 4 bulan. Dan sehari setelah itu aku dikabarin kesembuhannya lewat telpon. Seneng banget rasanya. Makasih buat semua yang udah perhatian sama si kitten. Semua yang terlibat atas kesembuhan si kitten. ^_^

Foto-foto Si Tina dan Si Kitten (kembar belang).
Note : Si Kitten yang tadinya sakit yang sebelah kanan.

Jumat, 20 Februari 2015

Si Kitten Sayang, Si Kitten Malang


Jumat (050215) pukul 9 pagi aku bawa si kitten ke Kinik Rimba (pet shop & klinik hewan) Jatikramat, Bekasi karena keadaanya semakin parah.

Sejak hari minggu sebenarnya si kitten sudah mengalami penurunan nafsu makan dan jalannya agak oleng ke kanan. Tapi aku pikir hanya sakit biasa dan tidak parah karena si tina (induknya) masih mau ngelonin dan nyusuin.

Pagi harinya aku cuma liat si tina (induknya) sama si kitten 2 (kembarannya). Beberapa jam kemudian aku lihat si kitten 1 (yang sakit) terkapar penuh lumpur di pinggir kali. Dia menggigil dan sama sekali tidak bisa bergerak. Hanya bisa merintih kesakitan.

Aku bawa dia ke dalam rumah untuk dibilas dengan air bersih dan dikeringkan dengan hair dryer lalu aku taruh di kadus. Kondisinya semakin parah karena dia sudah tak bisa bangun. Hanya “meong-meong” lemah. Aku suapin wischas junior sarden dia masih mau makan. Lalu aku biarin dia tidur.

Keesokan harinya kubawa si kitten ke klinik dengan perasaan panik.

Saat dibawa ke klinik sang dokter hewan belum datang, Drh. Ilman praktek mulai pukul 11 siang. Si penjaga klinik bilang taruh di sini saja kucingnya. Akhirnya aku taruh si kitten dengan perasaan lega. Lega karena tempat ini lebih aman jika terjadi apa-apa dengan si kitten. Aku pulang ke rumah lalu kembali ke klinik ketika dokternya sms sudah berada di sana.

“Gimana dok anak kucingnya?”

“Suhu badannya 35 derajat. Ini berarti di bawah normal (38 derajat). Tadi sudah saya suntik. Sepertinya sakitnya sudah parah dan menjalar ke bagian syaraf. Matanya bisa dioperasi kalau badannya sudah sehat. Tapi, nanti dia cuma punya satu mata seperti kucing itu (menunjuk salah satu kucing berwarna putih).”

Aku menceritakan kronologi kejadian sakitnya si kitten.

“Awalnya si kitten jalan sempoyongan dan ga mau makan, dia cuma mau nyusu sama induknya. Matanya gak kenapa-kenapa. Tapi lama-lama matanya begini dan gak bisa bangun. Padahal kembarannya aja sehat. Lalu saya harus gimana dok? sebenarnya saya dilarang bawa kucing ini ke rumah lagi. Ini diam-diam saya bawa ke klinik karena tidak tega.”

Lalu dokternya bawa si kitten ke tempat pemeriksaan buat diinfus karena dia kekurangan nutrisi banyak. Beberapa menit dokter berusaha menaruh alat infus tapi gagal karena si kitten gak bisa diam. Meronta-ronta. Akhirnya dia dikasih obat cacing berbentuk tablet berwarna putih. Waktu dokternya masukin obatnya si kitten malah melepeh itu obat. Dokternya berusaha masukin lagi obatnya sampai jarinya tergigit dan akhirnya berdarah.

Aku kagum saat dokter mengobati si kitten. Dokternya sangat peduli. Si kitten diajak ngomong dan dielus-elus. Sampai dia rela digigit si kitten.

“Pasien saya hari ini banyak yang sangar. Nih liat saya dicakar dan digigit (terlihat bekas cakar di bagian lengan).” Ungkapnya sambil tertawa datar.

Setelah itu si kitten disuapin makanan sama dokternya. Dia lahap banget malah mau nambah terus.

"Kamu laper ya? Udah berapa hari gak makan?" Ungkap Dokter sambil menggoda si kitten.

Kitten masih dalam perawatan dan aku berharap (kitten) segera sembuh dan bisa bermain-main lagi dengan kembarannya.

Ini Si Kitten beberapa hari sebelum sakit.

Cicak Versus Buaya Jilid 3


Jumat, 23 Januari 2015 Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto ditangkap oleh Bareskrim Polri di Cimanggis Depok ketika mengantar anaknya ke sekolah. Polri menangkap BW dengan tuduhan pemalsuan keterangan pada kasus Pilkada Kotawringin, Kalimantan pada 2010.

Menurut Mahfud MD ketika dikonfirmasi oleh pihak Metro TV, Pilkada Kotawaringin pada 2010 bebas dari kasus. Dan menurutnya, tudingan Polri kepada BW hanya mengada-ngada. “Kita lihat saja nanti. Karena pada Pilkada Kotawingin itu sama sekali tidak ada kasus. Semuanya sudah clear Lagi pula, kenapa baru dibuka sekarang? Sudah lewat lima tahun yang lalu.”

Menurut Polri, BW merupakan kuasa hukum salah satu calon Pilkada Kotawaringin yang memberikan keterangan palsu pada persidangan sengketa Pilkada yang melibatkan Akil Muchtar.

Pada 15 Januari Polri menerima laporan pengaduan dari masyarakat terkait adanya pemalsuan keterangan yang dilakukan oleh BW. Saat ini, Polri mengatakan memiliki tiga bukti berupa dokumen, surat, dan saksi.

Siang hari sekitar pukul 13.00 ratusan aktivis mendatangi gedung KPK. Mereka menyerukan aksi #saveKPK.

Lalu, sore harinya Presiden Joko Widodo melakukan press conferences terkait penangkapan BW. Dalam konferensi pers tersebut, Presiden didampingi oleh JK (Wapres), Abraham Samad (Ketua KPK), dan Rony Sompi (Humas Polri). Menurut Presiden Jokowi, kedua institusi (KPK dan Polri) harus mengatasi permasalahan hukum secara objektif dan mengindari gesekan.

Menurut kuasa hukum BW, saat ini kliennya sedang menjalani pemeriksaan di Kapolri. Dan kasus ini merupakan kasus KUHP biasa bukan tentang penyuapan.

Masyarakat menuding ada tekanan-tekanan politik yang terjadi antara pihak Polri dan KPK. Sebelumnya, Calon Kapolri Komjend Pol Budi Gunawan dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK atas kasus pemberian grasi, pencucian uang dan rekening gendut. Hal ini direspon Polri dengan menyerang KPK dalam kasus BW.

Beberapa hari kemudian secara berurutan para petinggi KPK dinyatakan tersangka oleh Polri dalam kasus-kasus lain. Maka masyarakat menilai Polri ingin melumpuhkan KPK.

Diolah dari berbagai sumber

Vonis Sang Putri Mahkota


Dahulu kala di sebuah negeri hidup seorang Putri Mahkota pewaris tunggal kerajaan. Sang putri lalu menikah dengan pangeran tampan dan dikaruniai seorang bayi laki-laki.

Sang putri juga memperoleh kepercayaan penuh dari rakyat untuk menggantikan pemerintahan sebelumnya. Ia berjanji pada rakyat untuk memberantas korupsi dan menyejahterakan kehidupan rakyat miskin.

Ajaib! Negeri tersebut berubah menjadi sangat makmur dan sejahtera. Jumlah rakyat miskin berkurang. Hasil bumi melimpah.

Suatu ketika sang pangeran jatuh sakit. Sang putri terpaksa harus merawatnya dengan kasih sayang penuh. Ia tidak mau sang pangeran dirawat orang lain.

“Perintahkan kepada kementerian untuk mengurus proyek pembangunan Wisma Olahraga! Bilang kalau saya saat ini harus fokus merawat pangeran yang sedang sakit.” Ucapnya ketika sedang memimpin rapat.

Menteri-mentri yang ditugaskan justru berkhianat. Mereka memanipulasi jumlah angka yang harus dikeluarkan pemerintah . Biaya proyek membengkak tanpa sepengetahuan sang putri. Namun, sang putri terlanjur menandatangani surat persetujuan atas proyek tersebut.

Sang putri menangis. Matanya sembab, sambil mengusap peluh di kening.

“Saya dijebak. Mereka orang kepercayaan saya. Tapi mereka pengkhianat!” Ucapnya kepada hakim.

Sang putri lantas pergi meninggalkan ruang persidangan. Ia divonis lima tahun penjara dan denda ratusan juta. Sang pangeran meninggal dunia karena serangan jantung setelah mendengar kabar tersebut.

Kejar Paket C


Bagi adik-adik yang sebentar lagi menghadapi Ujian Nasional (UN), kalian gak usah cemas, khawatir, apalagi sampai nyontek dan membeli kunci jawaban. Kenapa? Karena itu hanya akan membodohi diri sendiri. Buktikan tanggungjawabmu selama tiga tahun menuntut ilmu dari pagi hingga sore hari di sekolah, ditambah les tambahan. Berapa banyak waktu dan tenaga yang kamu korbankan? Berapa banyak uang orangtuamu yang sudah dikeluarkan? Dengan tidak menyontek berarti kamu menghargai pengorbananmu dan pengorbanan orangtuamu selama ini. Dan banyangkan kalau kamu nyontek bagaimana nanti kamu bisa mempertanggjawabkan masa depanmu? Kuliahmu? Pekerjaanmu?

Lalu bagaimana jika kamu sudah belajar tekun dan memilih jujur, tidak menyontek tapi ternyata tidak lulus? Jangan khawatir apalagi sampai ingin bunuh diri. Ketidaklulusanmu sesungguhnya juga bisa karena kesalahan sistem pendidikan yang ada. Dan kabar baiknya kamu yang memilih jujur ini sudah lebih baik dari mereka yang lulus dengan nilai tinggi tapi dari hasil nyontek atau membeli kunci jawaban. Ingat! Masa depan kalian tidak ditentukan dari hasil UN.

Saya akan kasih beberapa contoh pegalaman kakak-kakak kita yang pernah tidak lulus UN dan ada juga yang memilih tidak sekolah SMA.

Apakah mereka bodoh sehingga tidak lulus? Apakah mereka tidak mampu bayar uang sekolah sehingga tidak bisa sekolah? TIDAK. Lalu bagaimana nasib mereka? Putus asakah? Malu? Tidak bisa kuliah? Atau masa depan suram?

TIDAK juga!

Mereka semua akhirnya BISA melanjutkan KULIAH di perguruan tinggi terkemuka dengan prestasi yang membanggakan! Langsung aja yuk, kita simak uraiannya.

1. Andri Riski Putra

Saya dari awal memilih tidak mengikuti sekolah menengah atas (SMA). Alasannya adalah saya merasa tidak perlu sekolah sampai 3 tahun, saya melihat banyak kekacauan sistem pendidikan. Jika kelulusan hanya ditentukan oleh Ujian Nasional (UN), bagaimana kalau ada yang selama tiga tahun sekolah, namun saat ujian nasional dia gagal meraih standar nilai kelulusan dan dinyatakan tidak lulus?

Sementara selama ini banyak beredar bocoran kunci jawaban yang membuat peserta ujian mengambil jalan pintas dengan membeli kunci jawaban tersebut dan mereka lulus dengan nilai tinggi. Bahkan ternyata kabar bocoran kunci jawaban itu diperoleh dari pihak sekolah adalah benar adanya. Hal ini menjadi sangat ironi karena terjadi hampir di seluruh sekolah.

Itulah mengapa saya memilih tidak bersekolah tapi bisa kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Bagaimana caranya? Saat itu saya langsung mengikuti Kejar Paket C. Setelah lulus ujian Paket C saya belajar dengan tekun dari pagi sampai malam. Saya mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan akhirnya saya diterima di Univeristas Indonesia, Fakultas Hukum.

Setelah saya lulus sebagai Sarjana Hukum, saya bekerja sebagai Junior Associate Assegaf Hamzah & Partner, Junior Associate Hadiputranto, Penggagas Masjidschoooling, dan saat ini saya adalah Pendiri dan Ketua Pembina Yayasan Pemimpin Anak Bangsa. Saya juga menerbitkan buku berjudul, "Orang Jujur Tidak Sekolah".

2. Farikha Mardhatillah

Saya pernah tidak lulus Ujian Nasional tingkat SMA. Lalu saya mengambil Kejar Paket C. Setelah dinyatakan lulus dengan mengantongi IJAZAH PAKET C saya belajar tekun dengan mengikuti bimbingan belajar di sebuah bimbel. Saya memilih program IPS di bimbel tersebut walaupun saya asli anak IPA. Alhamdulillah saya lolos pada Ujian Masuk Bersama (UMB) dan diterima di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulllah Jakarta dengan mengambil Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Saya mengikuti berbagai kegiatan ektra di kampus lalu saya juga mencari beasiswa dan penghasilan sendiri sebagai pengajar bimbel dan les privat.

Alhamdulillah saya mampu menyandang Sarjana Komunikasi Islam dalam waktu yang pas (4 tahun) dengan IPK 3,55.

3. Ikriema Adawiyah

Saya juga tidak lulus UN tingkat SMA. Saya melanjutkan Kejar Paket C. Setelah lulus saya mendaftarkan diri di Kampus Unindra Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Saya menikah saat semester 5. Suami saya cuti kuliah lalu bekerja untuk mencari nafkah. Saya tetap melanjutkan kuliah. Meski setelah itu saya hamil, saya selalu mengikuti kegiatan perkuliahan dan kegiatan positif lainnya. Saya mengajar anak-anak di sekitar rumah, memasak, mengurus suami, dan ikut berbagai lomba menulis. Dari salah satu lomba tersebut, tulisan saya akhirnya lolos seleksi dan dibukukan bersama beberapa penulis lain. Itu adalah kumpulan cerpen pertama saya. Saya merasa terharu saat dinyatakan menang. Karena cerpen tersebut adalah kisah nyata saya bersama suami yang pertama kali dibukukan. Kumpulan cerpen tersebut sudah beredar luas di toko buku.

Lalu bagaimana nasib kuliah saya? Sementara saya juga harus pintar membagi waktu. Saya ingin lulus tepat waktu. Keluarga sangat mendukung saya agar menyelesaikan kuliah. Berkat dukungan keluarga dan suami saya bisa menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 tahun. Saya sangat bahagia karena memiliki suami dan anak yang menjadi motivasi saya selama ini.

Nah kan, ternyata Ujian Nasional bukan sesuatu yang harus ditakuti. Sebenarnya masih banyak sosok lain yang memiliki pengalaman dengan Kejar Paket C. Namun, hanya beberapa yang saya tuliskan karena keterbatasan relasi. Saya tidak bisa menghubungi mereka satu per satu. Ini akan menjadi perwakilan saja.

Saya lupa namanya. Saat itu saya mengikuti acara seminar pendidikan nasional di Gelora Bung Karno. Ada seorang mahasiswa UHAMKA yang mendapatkan penghargaan sebagai “Mahasiswa Terbaik” dan mendapat beasiswa. Lalu dia diminta menceritakan pengalamannya. Ternyata dia waktu SMA tidak lulus UN. Dia sempat malu dengan teman-temannya yang lain. Namun, setelah itu dia bangkit dan melanjutkan kuliah di UHAMKA. Dia sungguh-sungguh menjalani kuliah dan kegiatan ektra lainnya.

Mereka ini hanya segeintir orang yang beruntung. Kenapa disebut beruntung? Karena mereka tahu bahwa terkadang orang yang jujur dan sungguh-sungguh hidupnya tidak selalu berjalan lancar. Mereka senantiasa diuji. Tapi karena keyakinan dan keteguhan hati mereka mampu melewati ujian tersebut dan yang terpenting mereka telah mendapatkan kedamaian hati serta kepuasan diri. So, berbahagialah menghadapi UN. Jangan Nyotek. Jujur itu pilihan. Karena sesungguhnya proses lebih penting daripada hasil. Tetap belajar yang rajin. Good luck!^_^