Sabtu, 06 Januari 2024

Manusia Digital

Di jaman ini manusia digital tercipta.

Manusia yang kesibukannya beralih ke dunia digital.

Hai, hai si manusia digital. Bagaimana kabar duniamu? 

Sudah berapa banyak receh yang kau habiskan di dunia digital?

Sudah berapa banyak hal kamu bagikan hanya untuk kebutuhan akan validasi orang - orang?

Sudah seberapa bahagia kamu hidup di dunia digital?

Musim viral apa lagi bulan ini?

Tetap waspada di dunia digital. Sama seperti di dunia realitas, ada saja kejahatan - kejahatan yang dibuat oleh manusia digital.

Kejahatan yang lebih halus, tak kasar mata, tipu - tipu yang semakin besar dibandingkan di dunia realitas. Semakin besar namun semakin halus.

Kebingungan adalah hal biasa yang dialami oleh manusia peralihan.

Hidup di antara era non digital dan terpaksa beralih ke dunia digital.

Adaptasi yang agak kaku terpaksa dijalani.

Hai manusia Digital, semakin banyak topeng yang kamu buat.

Padahal bisa aja sih nggak pakai topeng, tapi lagi - lagi ketakukan akan tidak diterimanya eksistensimu membuatmu terbuai sama topeng yang diciptakan.

Kelelahan yang bukan lagi lelah fisik karena aktivitas nyata. Tapi, kelelahan pikiran semakin dirasa.

Pikiran yang sibuk ke sana kemari. Tak berhenti mencari sebelum kuota habis. Tapi, lagi - lagi langsung cepat terisi demi eksistensi diri. 

Kamis, 04 Januari 2024

Menerima

Hal tersulit dalam hidup ini adalah menerima. Terutama menerima kekurangan diri sendiri. Menerima bahwa hal buruk yang terjadi dalam hidup adalah akibat perbuatan kita sendiri di masa lalu. Kita dihujat karena dulunya, sadar atau nggak pasti kita pernah menghujat orang lain. Kita sakit, karena kita nggak bisa merawat tubuh dengan menjaga pola makan, gaya hidup atau pengelolaan stress. 

Nggak ada satu keburukan pun yang kita lakukan yang luput kembali ke kita. Pun kebaikan. 

Semua yang kita keluarkan akan kembali ke kita. 

Ketika kita menghujat seseorang sadarilah kalau kita sedang menanam itu untuk diri kita sendiri di kemudian hari. 

Kita melihat kekurangan orang, tapi buta sama kekurangan diri sendiri. 

Disamping kita juga lebih suka membicarakan kelebihan diri sendiri kita pun sangat senang membicarakan kekurangan orang lain. Jadi mengganggap dirinya paling sempurna. 

Lagi - lagi lupa kalau dirinya juga punya luka, punya dosa. 

Kita semakin sulit membedakan mana yang real mana yang maya. 

Realitas yang selalu disangkal ketika yang terjadi nggak sesuai keinginan. 

Akhirnya menyalahkan faktor eksternal. Selalu yang disalahkan orang lain. 

Atau yang lebih ekstrem menyalahkan Tuhan. Kalau Tuhan aja disalahkan, gimana manusia lain. Nggak ada nilainya di matanya. Hina sekali. 

Semakin reaktif kita, semakin menunjukkan bahwa luka kita banyak. Ego kita besar. Dan kesadaran kita minim.

You know lah, manusia itu gampang dipanas-panasin. Gampang dikomporin. Jadi nggak usah diseriusin amat sih. Berita hoaks. Gosip itu tujuannya cuma buat nunjukkin si penggosip lebih baik dari yang digosipin. Sesimpel itu. 

Terus kita jadi ikut - ikutan memjelekkan. Kita jadi ikut - ikutan menyebar kebencian. Padahal yang punya kepentingan si penggosip.  Yang ingin lebih unggul dalam segala hal. Nggak mau kalah saing. Gengsinya besar. Nggak mau rugi. Jadinya sikut - sikutan. Capek banget lihatnya. 

Mampu menerima diri secara utuh akan berdampak pada kemampuan menerima orang lain secara utuh. Tidak mudah dihasut, tidak mudah dipengaruhi hal - hal negatif, tidak mudah percaya hoaks dan senantiasa membawa hati yang damai. 

Sabtu, 30 Desember 2023

Paradoks

Siapa bilang kita hanya butuh untuk dicintai. Ternyata kita juga butuh untuk dibenci. 

Orang semakin dibenci akan semakin tumbuh. 

Siapa bilang kita hanya butuh sehat.  Ternyata kita juga butuh sakit untuk menghapus dosa - dosa. 

Kita butuh musuh untuk tahu sisi kelemahan kita. 

Kita butuh paradoks dalam menjalani hidup. 

Kita butuh "neraka" untuk tahu "surga". Kita butuh penderitaan untuk tahu kesenangan. Sama halnya kita butuh sedih untuk tahu arti bahagia 

Cintailah musuhmu. Sayangilah orang yang membencimu.

Pun cintailah sewajarnya, karena cinta bisa jadi benci. 

Pun bencilah sewajarnya, karena benci bisa jadi cinta. 

Cintailah malam sebagaimana kamu mencintai siang.

Rabu, 27 Desember 2023

Drama Hidup










Banyak yang takut tampil apa adanya dan takut menunjukkan keasliannya.

Karena selama ini terbiasa memakai topeng. Topeng fisik maupun topeng psikologis. 

Tuntutan sosial mengharuskan setiap individu memainkan berbagai peran. Ketika di rumah, di masyarakat atau di tempat kerja. Berbeda rupa. Terus memainkan peran. 

Drama menjadi hal biasa. Padahal 'kehidupan' dengan 'drama hidup' sangat berbeda. 

Drama membuat lelah diri dan orang lain. Setiap orang terbebani dengan perannya sendiri. Dengan drama yang dibuatnya sendiri. 

Aku adalah Kesadaran

Aku bukan pelayan buat egoku. Aku juga bukan pikiran burukku apalagi emosi sesaatku. 

Aku adalah kesadaran. Aku yang mampu mengendalikan egoku. Aku yang mampu menyetir laju pikiranku. 

Aku bukanlah topengku. Aku adalah keberanian untuk menunjukkan sisi asliku. 

Asliku bukanlah tentang kepribadianku. Bukan juga tentang identitasku. Apalagi fisikku. 

Aku juga bukan kebahagiaan yang kalau sesuatu terjadi sesuai keinginanku. 

Selamat Liburan

Met liburan ya. Puas - puasin liburannya. Bahagianya juga di puas - puasin. Kan nanti back to rutinitas lagi. Udah nggak bisa bahagia lagi. 

Apalagi lihat rekannya bahagia, kamunya yang menderita. Padahal, abis liburan. Eh tapi, ko ky nggak bahagia. Padahal udah abis berapa M itu buat healing. Apa cuma sekedar refresing? 

Jadi, percuma aja liburan ke mana - mana tapi pribadinya masih yang gitu - gitu aja. Pengen diakui, pengen sukses di mata orang lain. 

Katanya be your self. Tapi, kenal diri aja belum clear. Jadinya ya gitu, sering marah - marah nggak jelas. Kalau ada masalah emosi duluan. Hmm, mau sampai kapan ky gitu? 

Zaman sekarang orang - orang nggak cuma pakai topeng fisik tapi lebih parah lagi topeng psikologis. 

Sabtu, 23 Desember 2023

Melepas 2023

2023 adalah tahun dengan paket komplit. Aku pernah senangnya kebangetan, tapi sedihnya juga kebangetan.

2023 adalah tahun kesadaran. Waktunya untuk banyak mengalah, waktunya untuk banyak "me time". Berkontemplasi. Menguliti diri sendiri. 

Menyadari bahwa tak ada yang luput dari apapun perbuatan yang sudah kita lakukan. Baik, buruk akan kembali ke kita. 

Jeda. Lalu mundur. Perlahan maju lagi. Tapi mungkin untuk kedepannya, nggak mau ngegas. Mau coba effortless aja. 

Lupakan soal tuntutan sosial. Yang kadang begitu kejam. Membuat manusia berubah jadi monster. Demi apa lagi? Demi sukses di mata orang lain. 

Berbuat baik nggak usah pilih - pilih orang. Supaya apa? Supaya dapat feedback dari org itu? Emang kalau nggak difeedback dari orangnya, Allah nggak akan balas kebaikan kita? Ini konsep yang sering orang lupa. 

Makanya banyak yang suka pura - pura. Banyak yang manis banget di depan. Tawain aja. Capek liat drama para manusia. Huuuft.

Tapi, mohon maaf dulu aku juga pernah gitu sih. Ahahaha makanya udah capek lah, pakai topeng terus. Mau dilepasin aja. Bodo amat orang mau bilang apa. 

Tapi kalau bisa sih, aku mau manis di depan dan manis di belakang. Bisa nggak ya? Bisa sih kynya dengan catatan harus bisa jaga jarak sm siapapun. Nggak terlalu dekat. Nggak terlalu jauh juga. Biasa aja ke semuanya. 

Senin, 18 Desember 2023

Manusia dan Kesadaran

Apa bedanya aku, kamu, dia, kita?

Gak ada bedanya secara substansi. Hanya saja "sadar" kita beda. Bukan soal salah benar, baik buruk. Tapi, lagi - lagi "sadar" kita berbeda.

Maafkan dia yang butuh sadar lebih lama untuk berproses menjadi lebih baik. 
Maafkan dia atas minimnya pengalaman, pengetahuan yang menjadikan dia mungkin terlihat buruk dimatamu. 
Maafkan dia yang sedang proses untuk menjadi kupu-kupu yang indah. 
Waktumu dan waktuku berbeda. 
Prosesmu dan prosesku juga berbeda. 
Tapi tujuan kita sama. Menjadi manusia yang utuh
Dengan kesadaran penuh.


Minggu, 10 Desember 2023

I am what I am

Me time adalah waktunya jujur sama diri sendiri. Berani menerima kekurangan diri sendiri, berani menerima kelebihan orang lain. 

Berani untuk bisa apa adanya di hadapan orang lain. Nggak dibuat - buat. Gak pura - pura. Karena goals nya bukan menjadi yang sempurna. Tapi tau apa yang sebenarnya dibutuhkan. Bukan apa yang diinginkan. Karena keinginan belum tentu kebutuhan. 

Bungkus memang suka menipu sih, karena kita lebih suka melihat ada apanya bukan apa adanya. 

Karena capek juga sih jadi orang lain, capek juga sih kalau terus - terusan berusaha menjadi yang sempurna. Capek kejar - kejaran sama orang lain. Tapi sebenarnya, diri sejatinya ya di situ - situ aja. 

Yang dikejar selalu faktor eksternal, padahal faktor eksternal itu kan tak terbatas. Yakin bisa merasa puas?

Sering - sering aja me time. Biar gak ketipu sama dunia yang tipu - tipu. Atau lebih parahnya ditipu sama diri yang palsu.

Rabu, 06 Desember 2023

Benci Bukan Solusi

Benci adalah kondisi yang melebihi rasa tidak suka terhadap sesuatu atau seseorang. Benci dipengaruhi oleh sebuah "belief system" yang udah tertanam di dalam diri. 

Benci ini akan terus bertambah jika sesuatu yang dibenci itu selalu kita undang untuk hadir membersamai hari - hari kita. Eh, kita? Kamu aja.

Sama seperti cinta, benci juga bisa membutakan seseorang. Hmm, ada pepatah bilang sebenernya kita ga pernah membenci orang lain, tapi kita hanya membenci diri kita versi yang lain. 

Coba deh buat "me time", bukan jalan - jalan ngabisin duit. Me time buat merenung. Sebenernya penting banget ga sih buat benci sama orang? Bukannya justru malah ngabisin energi ya? 

Tapi, bentar. Benci itu beda sama kesal ya. Ya kalau kesal sih biasa aja, ky ga lama gitu. 

Tapi kalau benci ini biasanya lamaaaaaaaa pake banget. Ya gimana ga lama, kan sebenernya yang dia benci itu diri dia sendiri. 

Makanya mungkin perlu self Inquiry. Ya, gak gampang sih. Dan berat. Harus siap sama realitanya. Harus siap sama kekurangan diri sendiri. 

Sabtu, 07 Januari 2023

Innerchild : Ada Luka Yang Terlupa

Apakah kita semua ingat detail kejadian yang kita alami saat masih anak – anak?

Jawabannya pasti tidak semua ingat. Saya bahkan hanya ingat sebagian kecil peristiwa di masa kecil. 

Saya berusaha keras untuk mengingatnya tapi tidak bisa. Padahal, semua kejadian selalu terekam di memori pikiran dan hati kita.

Lupa bukan berarti tidak ada. Luka yang membekaspun terkadang tanpa kenangan namun tetap ada di alam bawah sadar kita. Hal inilah yang mendasari perilaku kita ketika kita beranjak dewasa.

Pola yang salah dalam mengasuh buah hati kita terkadang tanpa sadar menyisakan luka yang bahkan terlupakan oleh si kecil namun justru langsung membentuk kepribadian seorang anak.

Ya, luka itu sekarang menjadi sebuah kepribadian. Karena terus terulang – ulang diberikan oleh pengasuh entah itu orang tua kita atau yang lainnya. 

Ketika seorang anak merasa berbeda dengan anak – anak yang lain yang mungkin diasuh dengan cara – cara yang lebih manusiawi mereka akan bertanya-tanya, aku berbeda.

Kenapa aku seperti ini?

Membesarkan anak manusia berbeda dengan membesarkan anak kucing, anak anjing, atau anak hewan lainnya. Tidak hanya soal memberinya makan dan minum. Jasmani mungkin terpenuhi tapi ruhaninya kering kerontang.

Terkadang anak menjadi pelampiasan orang tua yang bahkan belum berdamai dengan masa lalunya. Orang tua yang buta ilmu psikologi sering tidak sadar bahwa mereka memberikan luka kepada anak – anaknya.

Labeling yang sering terlontarkan, “iya anak saya mah pemalu.” Atau “iya, yang ini mah penakut.” Bisa membuat anak menjadi seperti itu. Dan pertanyaannya, apakah orang tua mau anaknya jadi pemalu atau penakut? Tapi, justru mereka sendiri yang membentuk itu.

Senin, 24 Oktober 2022

Menangislah, Tanda Kamu Manusia Bukan Batu!

"Nangis aja jangan ditahan, kamu bukan batu. Nangis aja nangis, gak usah maksa selalu pengen terlihat kuat gitu sih. Air mata gak akan abis ko. Oh tetep gamau. Giliran baca novel, nonton film/drakor ko langsung banjir itu. Bisa jadi itu sedih yang terpendam. Tapi gak sadar aja. Bener ga?"

Tiba - tiba suara hatiku mengatakan demikian. Entah kenapa banyak orang yang salah kaprah tentang air mata.

Dia yang nggak pernah nangis itu bukan berarti orang yang kuat (stroong)! sebaliknya orang yang mudah menangis bukan berarti dia lemah. 

Bahagia bukan juga berarti nggak pernah mengeluarkan air mata. Itu salah besar. 

Nangis itu menandakan kita manusia, punya hati. That's it!

Orang yg nggak pernah nangis bisa jadi hatinya keras seperti batu. Terus jadi nya lebih sering marah - marah. Lebih banyak mengkritik diri dan orang lain! Terlalu menuntut kesempurnaan. Harus serba bisa, serba Okay di mata orang lain. Hatinya belum tentu merasa cukup dan tenang. 😆

Tapi nggak juga nangis terus setiap hari ya. Ya, dikira - kira aja. Intinya kalau sedih itu nggak apa-apa nangis aja ko, wajar banget. Mau kamu perempuan atau laki - laki. Sama - sama punya stok air mata yang nggak akan habis.

Jumat, 14 Oktober 2022

Bullying membawa Petaka

Sebuah film yang berjudul, "Kalian Pantas Mati" yang bergenre horror ini pantas diberikan apresiasi karena related dengan kehidupan anak remaja jika dilihat dari sisi kenakalannya. Remaja yang notabenenya dilahirkan dari orang tua berada namun orang tuanya kurang memberikan perannya serta lebih sibuk diluar rumah membuat anak - anak tumbuh tanpa aturan. Mereka merasa bebas melakukan apapun yang mereka suka. Termasuk membully teman yang berasal dari keluarga miskin namun memiliki segudang prestasi. 
Bully di kalangan remaja memang sangat memprihatinkan. Banyak kasus perundungan yang melukai fisik dan psikis korban. 
Hal inilah yang harus diwaspadai oleh pihak sekolah dan kerjasama dari pihak orang tua untuk terus mengawasi pergaulan putra putrinya. 
Dari film tersebut, kita bisa lihat karakter Dini, seorang gadis remaja yang cantik, pintar dan berbakat di bidang seni tari. 
Namun, karena dini anak dari penjaga sekolah. Dia tidak punya power untuk melawan ketika teman - temannya yang tergabung dalam sebuah geng anak - anak tajir membully nya.
Dampak dari bully ini membuat dia merasa rendah diri dan ingin lepas dari kehidupan ayahnya yang hanya seorang penjaga sekolah. 
Namun, sayangnya kecelakaan membuat nyawanya tak tertolong. Hal inilah yang membuat ayahnya sangat kehilangan dan mempunyai dendam terhadap murid - murid yang sudah membully anaknya. 
Dengan belajar ilmu hitam, dia pun bisa memanggil arwah dini untuk membalas perbuatannya teman - temannya. 
Namun, dini aslinya adalah anak yang baik dan tidak pendendam, maka sosok hantu dini muncul dengan karakter yang baik. 
Sementara, hantu dini yang lain adalah sisi jahat dari ilmu hitam yang ayahnya lakukan untuk menyakiti teman - teman dini yang sudah membully nya.
Sementara Raka, adalah murid yang bisa melihat makhluk astral. 
So, segitu aja infonya dari saya. Film ini layak untuk ditonton. 
Film horor yang gak horor banget. Kebanyakan film horor dari awal sampai akhir bikin tegang. Kalau film ini sangat beda, ada sisi humornya, romantis, horor dan anak muda banget.