Rabu, 11 Mei 2016

Untukmu


Aku berdiam dalam tanya
Bertanya dalam diam
Tentang sebuah rasa yang tak pernah padam
Namun, semakin menghujam

Aku berdiam dalam tanya
Bertanya dalam diam
Tentang sebuah kerinduan
Yang Kau bilang sebagai ujian

Kala aku berkata dalam tatapan yang luar biasa hampa
Kamu bertanya, hatiku dimana?
Ketika Kamu terjaga
Ketika Kamu tertawa

Jika sudah Kau memberi kebahagiaan
Jangan Kau pergi untuk kemudian meninggalkan kesedihan
Jika sudah Kau memberi harapan
Jangan Kau pergi untuk kemudian meninggalkan kenangan

Bersambung......

Kamis, 28 April 2016

Islam dan Fundamentalisme


Semua kaum Muslim mengakui bahwa ajaran Islam bersumber dari Al-Qur’an dan al-Hadis, dua sumber yang bersifat transeden dan mengatasi ruang dan waktu.
Namun suatu telaah terhadap Islam tentu tidak dapat hanya dengan memahami kedua seumber yang transeden itu, sebab suatu ajaran senantiasa mengalami proses aktualisasi ke dalam realitas sosial para penganutnya. Aktualisasi doktrin ke dalam realitas sosial penganutnya itulah yang disebut dengan corak keberagamaan (religiositas) kuam muslimin.
Corak keberagamaan senantiasa dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, faktor internal yang meliputi kecenderungan corak pemahaman dan penafsiran terhadap doktrin agama yang bersangkutan. Kedua, faktor eksternal, yang meliputi pengaruh orang-orang penting di sekitarnya, termasuk guru-gurunya, keterlibatannya dalam sejarah etnik, budaya, dan faktor-faktor ekonomi serta politik.
Sepanjang sejarah Islam telah muncul corak keberagamaan yang tidak terbilang banyaknya, bahkan nyaris sejumlah kelompok yang menganut agama itu. Mulai dari kelompok yang menekankan aspek legal formal yang dikembangkan para fuqaha’, kelompok yang menekankan aspek spriritualitas, para sufi, sampai pada kecenderungan tradisionalisme dan modernisme , yang muncul beberapa abad terakhir. Dan, yang menarik dari kemunculan corak beragama tersebut adalah bahwa sering kali kemunculan yang satu sering diklaim merupakan alternatif, jika bukannya merupakan counter terhadap yang lain.
Ciri utama fundamentalisme adalah interpretasi mereka yang rigid (kaku) dan literalis (harfiah) terhadap doktrin agama. Ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, di antaranya: (1) penafsiran seperti itu penting menurut mereka demi menjaga kemurnian doktrin dan pelaksanaanya, (2) diyakini bahwa penerapan doktrin secara utuh (kaffah) merupakan satu-satunya cara dalam menyelamatkan agama dari kehancuran.
Penafsiran rigid dan literalis tersebut terlihat paling tidak dalam tiga hal. Pertama, memandang cakupan doktrin agama. Kedua, kedudukan sistem pemerintahan yang diselenggarakan Nabi Muhammad SAW. di Madinah. Ketiga, dalam memandang kemajemukan masyarakat.

Memandang Cakupan Doktrin Keagamaan

Kaum fundamentalis dan modernis sama-sama berkeyakinan bahwa doktrin agama sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an dan al-Hadis adalah doktrin yang universal, mencakup segala aspek kehidupan manusia. Namun, keduanya berbeda dalam menginterpretasikan universalitas Islam dan arti mencakup segala spek kehidupan manusia.
Bagi kaum modernis universalitas itu adalah prinsip-prinsip umum yang disimpulkan melalui perenungan intelektual (ijtihad) mengenai doktrin serta kajian ilmiah terhadap kehidupan sosial masyarakat di dunia ini. Adapun perinciannya dapat diserahkan kepada pertimbangan rasional sesuai dengan situasi dan kondisi.
Metode berpikir seperti ini memang sangat sukar diterima oleh kaum fundamentalis, sebab dapat berimplikasi pada pengadopsian sistem yang diproduksi Barat, untuk kajian-kajian dan bahkan konstitusi-konstitusi keislaman. Oleh karena sebab itu, kaum fundamentalis memandang bahwa kaum modernis sebagai pihak yang paling bertanggungjawab terhadap terjadinya sekulariasasi di dunia Islam karena pengaruh Barat, seperti pernah ditulis Fazlur Rahman: “Fundamentalisme post modernis ekarang, dalam skala penting adalah baru, karena antuasiasme dasarnya adalah anti-Barat. Isu kesukaan neofundamentalis adalah larangan atas bunga bank, keluarga berencana, kedudukan wanita, pengunpulan zakat, dan seterusnya hal-hal yang membedakan Islam dengan Barat. Sementara kaum modernis terkait dengan Barat.”
Dalam memandang cakupan doktrin itu kaum fundamentalisme menafsirkan bahwa seluruh doktrin adalah universal dan berlaku tanpa dibatasi ruang dan waktu. Proses intelektualisasi menjadi tidak penting. Fundamentalis lebih menekankan ketaatan dan kesediaan menundukkan diri kepada kehendak Tuhan, dan bukan perbincangan intelektual. Oleh karenanya, sering kali kaum fundamentalis berhujjah bahwa yang lebih penting lagi bagi mereka adalah “iman” dan bukan “diskusi”. Iman justru membuat orang mengerti dan bukan mengerti yang membuat orang menjadi beriman.
Rasionalitas menurut kaum fundamentalis pada umumnya cenderung hanya menjadi alat untuk melegitimasi keinginan nafsu dalam mempermudah agama. Menurut mereka yang paling penting adalah memelihara sikap “militan” dalam menegakkan agama, dan bukan memelihara semangat intelektualisme yang cenderung membuat orang tidak berbuat apa-apa.

Kedudukan Sistem Pemerintahan yang Diselenggarakan Nabi Muhammad SAW

Keinginan untuk melakukan idealisasi terhadap zaman awal Islam, pada masa Rasul dan para Khalifah nan saleh, namun menempuh cara yang berbeda-beda. Kaum modernis menekankan bahwa yang harus ditiru dari zaman awal itu adalah prinsip-prinsipnya yang universal, struktur pemerintahan pada masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafa al-Rasyidun tidak perlu dijelmakan kembali dalam bentuk aslinya tetapi hanya prinsip-prinsipnya, seperti tanggung jawab, musyawarah, keadilan, dan sebagainya. Sementara aplikasinya dapat disesuaikan menurut kondisi zaman.
Berbeda dengan itu kaum fundamentalis secara rigid ingin menegakkan pemerintahan zaman Nabi Muhammad SAW dan Khulafa a-Rasyidun itu sebab dipandang sebagai sesuatu yang berlaku untuk semua zaman dan kondisi.
Begitulah, kaum modernis tidak memandang penting menegakkan simbol-simbol yang bercorak distingtif akan tetapi senantiasa memikirkan bagaimana caranya agar prinsip-prinsip Islam dapat menjiwai kehidupan masyarakat dan negara. Kaum fundamentalis sebaliknya, ingin menegakkan simbol-simbol itu, sebab mereka menganggap Islam adalah sebuah sistem yang lengkap dan mencakup berbagai sistem di dalamnya, ekonomi, politik, pendidikan, dan sebagainya.

Sikap Memandang Kemajemukan Masyarakat

Kaum fundamentalis cenderung bersifat negatif terhadap kemajemukan masyarakat. Mereka membedakan secara tegas dua jenis masyarakat; masyarakat Islam dengan masyarakat jahiliyah. Perbedaan antara keduanya jelas, yang satu haq dan yang lain bathil. Sementara Al-Qur’an melarang untuk mencampuradukkan antara keduanya. Dengan demikian, mereka sangat menutup diri terhadap sumbangan peradaban lain, sungguh pun tidak selamanya dilaksanakan secara konsisten. Kebaikan tidak perlu diambil dari masyarakat jahiliah yang bercorak “kafir” dan thaghut itu. Kaum fundamentalis sangat terbiasa dengan ata-kata menjalankan Islam secara kaffah dan untuk itu keadaan masyarakat selalu harus dikembalikan seperti zaman Nabi dan para sahabat.
Analisis di atas memperlihatkan bahwa fundamentalisme muncul sering kali disebabkan sikap oposisi dan kecemburuan sosial, dan tidak membangun suatu kerangka intelektual yang canggih seperti yang dilakukan oleh kaum modernis atau neo-modernis. Oleh karenanya fundamentalisme akan tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat yang sulit berkembang akibat adanya penguasa yang tidak begitu peduli pada keadaan sosial, dan di tengah masyarakat yang tidak berkembang cara berpikir ilmiah dan cara hidup rasional.

Referensi :
1. Bruce Lawrenc. 1990. Defenders of God: The Fundamentalist Revolt Againts the Modern Age. New York: I.B. Tauris.
2. Fazlur Rahman. 1984. Islam and Modernity: Transformational of an Intellectual Tradition. Chicago: The University of Chicago Press.
3. Yusril Ihza Mahendra. Fundamentalime sebagai Corak Keagamaan.(KKA 74/Tahun VII/1993).
4. Abdul A’la al-Maududi. 1981. Mu’asiyat al-Islam. Lahore: Pan Islamic Publisher.
5. Sayyid Qutb. 1976. Ma’allim fi al-Tarikh. Kuwait: Lifso.

Rabu, 27 April 2016

Pengembangan Pemikiran Islam: Sebab-Sebab Terjadinya Distorsi Sumber Ajaran


Terjadinya distorsi sumber ajaran agama juga disebabkan karena keterbatasan pengetahuan penganut. Proses intelektualisasi menjadi tidak penting bagi kaum fundamentalisme. Fundamentalis lebih menekankan ketaatan dan kesediaan menundukkan diri kepada kehendak Tuhan, dan bukan perbincangan intelektual. Oleh karenanya, sering kali kaum fundamentalis berhujjah bahwa yang lebih penting lagi bagi mereka adalah “iman” dan bukan “diskusi”. Iman justru membuat orang mengerti dan bukan mengerti yang membuat orang menjadi beriman.
Salah satu tradisi agung umat Islam adalah adanya “pertukaran ide” secara bebas yang menunjukkan semangat keilmuan (scholary) yang tinggi, yang membuat umat Islam pernah mewarnai pemikiran Timur dan Barat. Memang, dalam tradisi umat Islam salah satu trik yang dapat digunakan dalam mencari kebenaran adalah dengan dialog.
Sementara Al-Qur’an memiliki gagasan-gagasan universal yang dapat diterima setiap manusia yang cerdas di segala zaman dan tempat, yaitu :
Pertama, ketundukan kepada yang Maha kuasa yang teraplikasi dalam keimanan dan ketakwaan. Kedua, perasaan persamaan, kehormatan, dan persaudaraan umat manusia. Jadi integritas manusia dalam satu perasaan kesatuan tanpa memandang perbedaan ras, warna kulit, pangkat, jabatan, dan status sosial lainnya. Ketiga, adanya toleransi dalam kehidupan yang beraneka. Keempat, pembebasan wanita dan persamaan spiritualnya dengan laki-laki. Kelima, pembebasan dari segala jenis perbudakan, dan eksploitasi. Keenam, kewajiban menegakkan keadilan. Ketujuh, devaluasi kecongkakan dan kesombongan yang didasarkan pada superioritas ras, warna kulit, kekayaan, dan kekuasaan. Kedelapan, semuanya itu dapat terlaksana dengan dua syarat utama, yaitu nilai pendidikan universal yang didasarkan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan ketundukkan pada yang Maha Kuasa?
Begitula, ajaran-ajaran universal yang dikedepankan Al-Qur’an itu tampaknya baru dapat terdaratkan dalam tataran kehidupan apabila didasarkan pada tiga syarat pokok:
1. Penguasaan ilmu pengetahuan secara maksimal dengan fungsionalisasi akal dan keharusan modernisasi serta rasionalisasi ajaran agama.
2. Penegakkan keadilan untuk persamaan kemanusiaan.
3. Ketundukkan dan pendekatan diri kepada Tuhan yang Mahakuasa untuk penegakkan moralitas dan kesalehan, baik individual maupun sosial.
Dan ketiga syarat utama itu telah ditekankan Allah dalam ayat pertama, surat al-A’laq : “Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmulah yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-bnar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesunguhnya hanya kepada tuhanmulah kembali (mu).” (QS.96/al-‘Alaq:1-8).
Ayat ini – bila dipahami secara mendalam – menggambarkan keadaan manusia yang senantiasa mengharapkan pengetahuan; jiwanya merindukan hubungan dengan Tuhan, prasangka, kebencian, dan kesalahpahaman membuat kegagalan usaha-usahanya serta menjauhkannya dari jalan lurus. Dalam mempercepat proses denyut jantungnya, yang tidak pernah membiarkan tinggal dalam kesenangan karena ingkar kepada Sang Pencipta.
Kata iqra’ merupakan kata kunci yang digunakan Al-Qur’an dalam usaha penguasaan ilmu pengetahuan. Kata ini (yang diambil dari kata qara’a) terulang tiga kali dalam Al-Qur’an (surah 17/al-Isra: 14; 96/al-‘Alaq; 1 dan 3). Adapun kata jadiannya dalam berbagai bentuk terulang 17 kali, selian kata qur’an yang terulang sebanyak 70 kali.
Iqra’ (qara’a) berarti menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-cirinya, dan sebagianya, yang semuanya dapat dikembalikan kepada arti pokok kata tersebut yaitu “menghimpun”.
Penggunaan kata qara’a dalam Al-Qur’an dapat menunjukkan bahwa yang diaca itu adalah kitab-kitab suci (QS. 17/al-Isra:45), tetapi bisa pula menyangkut himpunan karya-karya manusia (QS. 17/al-Isra: 14). Pada sisi lain bacaan itu objeknya tidak mesti ada teks tertulis. Boleh jadi yang tersurat dan yang terjadi.
Begitulah, Al-Qur’an menyampaikan gagasannya agar manusia menghimpun informasi melalui pengamatan (dalam konteks keseharian, umpamanya bisa melalui buku, informasi dari dunia maya, radio, televisi, majalah, dan surat kabar), penyelidikan terhadap alam dengan berbagai fenomenanya agar ia dibaca sebagai salah satu sumber ilmu. Semuanya itu dimaksudkan agar orang yang beriman dapat merealisasikan pesan universal Al-Qur’an itu, sebab di dalam kehidupan senantiasa terbukti bahwa ilmu pengetahuan merupakan kekuasaan (knowledge is power).
Dalam pandangan Islam ada dua jalan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Pertama, jalan wahyu dalam arti komunikasi antara manusia dengan Tuhan. Kedua, melalui akal yang dianugerahkan Allah kepada manusia dengan memakai kesan-kesan yang diperoleh pancaindera (penelitian dan pengamatan terhadap alam) untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan.
Al-‘Aql (akal) adalah daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia yang dengannya segala sesuatu dapat diserap. Ia merupakan anugerah Allah yang tidak dimiliki makhluk lain selain manusia. Di bawah pancarannya, manusia dapat membedakan yang benar dan yang batil, bersih, dan kotor, bermanfaat dan mudarat, serta baik dan buruk.
Bahkan menurut ‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad, akal adalah penahan hawa nafsu untuk mengetahui amanat dan beban kewajibannya. Ia adalah pemahaman dan pemikiran yang selalu berubah sesuai dengan masalah yang dihadapi. Ia merupakan petunjuk yang membedakan hidayah dan kesesatan, dan ia adalah kesadaran batin yang berdaya tembus melebihi penglihatan mata.
Dari berbagai pengertian itu dijumpai benag hijau yang menghubungkannya, yaitu al-‘aql berarti mengikat dan menahan. Orang yang menggunakan akalnya pada dasarnya adalah orang yang mampu mengikat hawa nafsunya sehingga hawa nafsu tersebut tidak dapat menguasai dirinya. Ia mampu mengendalikan diri dan dapat memahami kebenaran, sebab seorang yang dikuasai hawa nafsunya akan terhalang memahami kebenaran.
Mengenai fenomena sebab terjadinya distorsi sumber ajaran, selama beberapa dekade terakhir abad ke-20, masyarakat Muslim sebagaimana juga masyarakat lain mengalami transformasi yang amat penting di mana peran dan kedudukan kaum intelektual telah berubah secra radikal dan merupakan bagian tak terpisahkan dari proses transformasi itu.
Akbar S. Ahmed, pemikir kontemporer Muslim yang melakukan analisa yang cukup mendalam mengenai bagaimana kaum muslimin menyikapi modernitas membagi mazhab pemikir Muslim itu kepada tiga yang disebutnya sebagai ‘segi tiga kesarjanaan Muslim’. Kategori yang dibuatnya cenderung menyangkut pemikiran Islam kontemporer. Pertama, golongan tradisionalisyang menyakini bahwa pesan-pesan Islam yang lebih besar jauh lebih penting daripada pertengkaran personal atau sektarin yang lebih sempit. Sebagian besar sarjana ini berupaya hidup menurut prinsip-prinsip Islam. Bahkan menurutnya sebagaian mereka lebih menyukai kehidupan sarjana aktivis daripada merasa jadi akademisi. Sebagian dari mereka sangat terkenal dalam masyarakat.
Ahmed memasukan Islamil Ragi Al-Faruqi, Ali Syariati, Al-Asyraf, dan Fazlur Rahman pada mazhab tradisionalis, meskipun banyak yang menganggapnya sebagai modernis, karena tokoh ini menurutnya tidak dapat mengesampingkan atau meninggalkan Islam. Hal itu dapat dilihat dari karya-karyanya pada bagian terakhir kehidupannya yang tumbuh lebih konservatif.
Kedua, golongan radikal. Kaum radikalis menurutnya telah kehilangan kesabaran terhadap dan menolak para tradisionalis. Menurut Ahmed, ada garis halus yang membedakan antara tradisionalis dan radikalis, terutama bila dilihat dari karakter personal, usia, dan juga hidup mereka. Beberapa aktivis radikal bukanlah sarjana dan ingin mengimplementasikan tatanan Islam melalui perjuangan bersenjata atau konfrontasi. Biasanya mereka terdorong oleh kebencian dan rasa jijik pada apa yang mereka sebut ‘Barat’. Ahmed menginventarisasi sejumlah nama dalam mazhab ini, yaitu Shabbir Akhtar, Parez Manzoor, Ziauddin Sardar, dan M.W. Daries, serta memasukkan Kalim Shiddiqi sebagai radikalis yang paling terhormat.
Yang menarik menurut Ahmed adalah bahwa golongan radikalis memandang rendah para modernis, dan oleh para modernis mereka dicap sebagai fundamentalis. Sebagian besar sarjana Barat (berpendidikan Barat) termasuk sarjana dari generasi muda yang simpatik ditolak oleh mazhab radikal karena tercemari oleh orientalisme.
Ketiga, golongan modernis. Kelompok yang begitu beragam tingkat intelektualnya. Ciri umum dan temanya jelas. Mazhab ini berkeyakinan bahwa agama sebagai kekuatan, obat ajaib atau bimbingan tidak lagi dapat dipertahankan. Kita harus mendefinisikan lagi keberagamaan dan keberislaman kita serta harus menerima peradaban global yang didominasi Barat. Ahmed menyebut bahwa modernis secara sadar telah bergaul dengan para sosialis dan sekuler seperti terlihat pada karya-karya Hamzah Alavi, Eqbal Ahmed, Tariq Ali, Salman Rusydi, Hanif Quraishi, dan lain-lain, yang kebanyakan mereka berasal dari keluarga elit. Mereka menempatkan akal pada posisi yang tinggi, memahami takdir Allah sebagai sesuatu yang kausalitik (sesuai Sunnatulllah, natural law). Menggunakan takwil dalam memahami ayat-ayat mutajassimah dan memahami kasus-kasus ukhrawi sebagai sesuatu yang bersifat rohaniah.

Referensi :
1. Thomas Ballatine Irving et al. 1979. The Qur’an Basic Teaching. London: The Islamic Foundation.
2. Harun Nasution. 1983. Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta: UI Press.
3. Ibrahim Madkur. 1979. Al-Mu’jam al-Falsaf’i. Cairo: Al-Hai’at al-‘Ammah li al-Syu’un al-Muthabi’ al-Amiriyah.
4. Abbas Mahmud al-‘Aqqad. 1973. Al-Insan fi al-Qur’an al-Karim. Cairo: Dar al-Islam.
5. Akbar.S.Ahmed. 1992. Postmodernism and Islam: Predacement and Promise. London: Rouletdge.

Rabu, 22 Juli 2015

Cinta Tak Pernah Sempurna


Cinta tak pernah sempurna.
Cinta tak selalu bahagia.
Cinta butuh diuji.
Cinta tak selamanya ada.

Cinta tak butuh kata-kata.
Karena kata tak menjamin cinta.
Cinta butuh keyakinan.
Cinta butuh kepastian.

Selasa, 07 Juli 2015

Tentang Seseorang


Tentang seseorang yang kukenal lugu, lucu, dan sedikit kaku.
Pertemuan pertama dengan tatapan berbeda.
"Ada sesuatu yang membuatnya terlihat berbeda dari pria lain."
Demikian ucapku dalam hati.
Aku ingin mengenal hatinya lebih dekat.

Kami bertemu dalam satu waktu.
Masih dengan suasana kaku.
Lama-lama kami berdua membisu.
Hanya saling tatap.
Tanpa ada kata yang terucap.

Tiba-tiba ada seorang perempuan yang mendekatinya.
Menceritakan permasalahan hidup.
Perempuan itu cantik tapi hidupnya rumit.
Membuat Pria itu tertarik dan simpatik.
Mereka semakin dekat dan akrab.
Sementara hatiku mulai meratap dan terjerembab.

Bersambung......

Minggu, 05 Juli 2015

Rantai Kehidupan


"Tak ada orang yang jahat, yang ada hanyalah orang yang belum menemukan hidayah. Dan tak ada orang buruk, yang ada hanyalah orang yang belum menemukan cahaya."

"Anda selalu dapat memetik pelajaran dari orang yang Anda temui. Yang baik dari dia menjadi contoh untuk ditiru. Sedangkan yang tidak baik dari seseorang menjadi contoh untuk tidak diteladani." - Confucius -

Manusia diciptakan bukan tanpa tujuan. Setiap jiwa yang lahir ke dunia diberikan kelebihan meski kadang orang tidak melihat kelebihan itu karena tertutupi oleh kekurangan.

Kita dapat melihat, merasakan, dan mengambil pelajaran dari setiap makhluk yang ada di muka bumi. Terhadap batu, kita belajar dari ketangguhan dan kekuatannya. Terhadap air, kita belajar dari kejernihannya, termasuk terhadap kotoran pun, kita bisa memetik hikmahnya.

Manusia memang ada yang terlihat baik, ada pula yang sebaliknya. Namun, terkadang kita mengabaikan apa yang ada dibaliknya. Pertanyaan, kenapa dia berbuat baik tapi ada orang berbuat jahat?

Orang yang terlihat baik dan kita pikir dia memang baik karena dia berbuat baik di mata kita maupun orang lain. Bagaimana dengan orang yang berbuat keji meskipun bukan terhadap diri kita? Kita bahkan ikut merasakan kekejian itu, melihatnya sebagai "kotoran" yang tergambar dari pikiran negatif. Ini yang biasa kita semua alami.

Segala sesuatu dicipatakan sepasang, termasuk baik dan buruk. Yang sama halnya dengan siang dan malam. Kenapa ada orang yang lebih menyukai siang dibanding malam atau sebaliknya? Kenapa ada orang yang lebih menyukai orang baik dibandingkan orang jahat? Kenapa terkadang orang jahat dipandang sebelah mata? Dihujat? Apakah kita sudah merasa lebih baik darinya?

Silahkan menghujat, tapi pikirkan lagi manfaatnya bagi kita. Bukankah lebih baik bila menjadikan perbuatan keji seseorang sebagai peringatan? Lebih bermanfaat ketimbang dengan menghujat yang malah menimbulkan pikiran negatif.

Tidak akan ada orang jahat jika tidak ada orang baik. Kita tidak akan mengatakannya dia buruk selama pikiran kita tidak fokus pada perbuatan buruknya. Tapi fokus pada pertanyaan, Kenapa orang itu berbuat buruk? Alasan dia berbuat buruk apa? Dan kita terbiasa mengabaikan pertanyaan itu.

Dengan kita mengetahui alasan dia berbuat buruk akan ada hikmah yang bisa kita petik. Misalnya, karena kurangnya pendidikan atau nilai-nilai agama yang dianut. Dari hal ini, kita jadi lebih bersyukur bahwa kita memiliki (pendidikan atau nilai agama) yang orang lain tidak punya. Makanya kita jadi lebih bisa mengontrol pikiran, perbuatan, dan sikap.

Sabtu, 04 Juli 2015

Pembunuhan


Apa yang terbesit dibenak Anda ketika mendengar judul di atas? Mungkin salah satunya adalah “sadis”.

Pembunuhan memang identik dengan tindakan kriminal yang dilakukan oleh orang lain karena motif tertentu, seperti dendam, sakit hati, atau karena keadaan tertentu.

Pembunuhan bisa dilakukan oleh pelaku dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan atas (bos) dengan menyewa pembunuh bayaran sampai kalangan bawah dengan dia sendiri sebagai pelaku.

Pembunuhan juga bisa dilakukan oleh orang yang memiliki pendidikan tinggi bahkan oleh orang yang tidak berpendidikan. Pembunuhan ini erat kaitannya dengan pengendalian emosi diri seseorang. Karena bahkan orang pintar yang terhormat pun bisa menjadi pelaku.

Pembunuhan juga bisa dilakukan oleh orang yang dikenal, seperti teman dan saudara kandung. Sementara pembunuhan yang dilakukan oleh orang yang tidak dikenal biasanya dilakukan oleh perampok, pemerkosa, dan bahkan pemabuk yang dalam keadaan tertentu.

Pembunuhan juga bisa dilakukan dengan cara massal, yaitu dilakukan oleh kelompok tertentu. Biasanya dilakukan karena motif kekuasaan.

Analisa kasus:

Belajar dari kasus pembunuhan saat ini, kebanyakan korban adalah perempuan. Kasus pembunuhan Ade Sara, Deudeuh, Angeline, Citra, dan lainnya dilakukan oleh orang terdekat. Ade Sara yang dibunuh oleh mantan pacar dan pacar dari mantannya (sepasang kekasih = sepasang pembunuh). Deudeuh dibunuh oleh tamunya. Angeline dibunuh oleh ibu angkatnya (dugaan). Citra dibunuh oleh suaminya.

Dari kasus tersebut dapat ditarik beberapa poin kesamaan aksi pembunuhan, diantaranya. Terdapat jeratan dibagian leher (Deudeuh, Angelin, Citra), terdapat sumpalan benda di mulut ( Ade Sarah ; kertas, Deudeuh ; Kaos Kaki).

Sementara untuk motif pembunuhan beragam. Ade Sara dibunuh karena rasa cemburu si pelaku (terkesan konyol), Deudeuh dibunuh karena mengejek “bau badan” (pelakunya baper), Angeline dibunuh karena motif peninggalan harta ayah angkat (masih dugaan), Citra dibunuh karena pelaku (suami) cemburu karena ada sms dari pria lain di hand phone istrinya.

Umur pelaku pembunuhan relatif masih muda (20 tahunan) kecuali Angeline. Kebanyakan mereka kurang bisa mengontrol emosi yang akhirnya menimbulkan penyesalan karena masa mudanya bakal dihabiskan di penjara.

Kamis, 02 Juli 2015

Hi.... Salam Kenal dari Mei Mei!


Namanya Mei Mei karena lahir bulan Mei. Umurnya sekarang dua bulan. Kesukaannya minum susu formula merk "Growssy". Suka ikutan main laptop klo gue lagi ngetik atau ngenet. Mei nggak suka dikandangin, setiap kali dimasukin kandang, "meong-meong". Kasian dengerrnya nggak tega. Jadi gue lepasin aja, berkeliaran di dalam rumah. Bebas.

Minggu, 21 Juni 2015

Mt. Papandayan Is My First Love (Lanjutan 3)


Kami kembali turun dari Tegal Alun menuju area Hutan Mati yang lebih luas. Di sini tak kalah menakjubkan. Aku tambah terpukau dengan pesona kumpulan pohon-pohon yang sudah mati karena erupsi, mereka sudah tak bernyawa, menyisakan batang-batang pohon yang telah menghitam, hangus terbakar akibat letusan, namun masih tegap berdiri dengan ranting-rantingnya, membuat panorama yang begitu eksotis.

Lebih dari sejam rombongan Batavia Publishing berada di area Hutan Mati. Ada yang sibuk memotret setiap sudut bagian Hutan Mati, ada juga yang sibuk foto selfie, ada yang hanya menikmati suasana, merasakan setiap detik sensasi yang timbul dari area ini. Aku termasuk yang sibuk merasakan setiap detik sensasi menakjubkan dari Maha Karya Tuhan yang satu ini.

Tak terasa gelap pun jatuh. Udara dingin menerobos jaket tebal yang kukenakan bahkan hingga menusuk-nusuk tulang.

Menjelang di ujung malam api unggun sudah mulai berkobar-kobar, siap menghangatkan kami yang sudah mulai menggigil kedinginan. Kami berkumpul membentuk lingkaran, duduk mengitari api unggun, melakukan kegiatan sharing atau curhat atas apa yang telah dirasakan selama pendakian hari ini sekaligus membahas soal kegiatan menulis yang dipandu Kak Aida.

Azmi bercerita kalau dia dibohongi kakaknya soal larangan makan malam saat berada di gunung. Dia percaya dengan omongan sang kakak, padahal kakaknya sendiri belum pernah mendaki gunung. Tapi malah nasihat kakanya dilakukan, sehingga seminggu sebelum berangkat, di setiap malamnya dia tak pernah menyentuh makanan. Kasian. Berat badanya turun beberapa kilo. Tidak hanya karena itu, tapi dia juga setiap pagi lari tujuh putaran untuk pemanasan.

Zul bercerita soal pengalamannya naik gunung di Aceh bersama rombongan santri dan pembimbingnya (pak ustadz) yang nekat mengenakan sarung pada saat mendaki.

Jamil juga bercerita soal pengalaman camping bersama rombongan pramuka, dia sama seperti Zul, sudah terbiasa menghadapi medan terjal dan udara dingin pegunungan. Lihat saja mereka berdua kompak tak mengenakan jaket tebal malam ini. Sementara yang lain menggigil kedinginan.

Bang Ipang memberikan masukan soal pendakian diantaranya, sebelum berangkat lakukan olahraga teratur, tidur teratur, makan teratur, dan carilah informasi tentang gunung tersebut. Gunakanlah standar perlengkapan gunung lengkap (sepatu, tas dll), aturlah nafas dengan baik, aturlah langkah kaki dengan benar (langkah kecil-kecil), jangan terlalu banyak minum, dan senantiasa berdoa.

Kak Cimot menceritakan pengalaman pertamanya naik Gunung Salak ketika masih SMP. Dia bahkan bilang kalau pendaki saat ini beruntung karena sekarang jalur pendakian sudah ditata sedemikian rupa agar pendaki merasa lebih nyaman dan aman. Dia juga pernah mengalami kesulitan besar kala itu, namun semua bisa teratasi bahkan menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan membuatnya ketagihan untuk naik ke dua puluh gunung lainnya.

Di sela sesi sharing Bang Ipang dengan baik hati membuatkan teh manis hangat. Semua menikmati suasana malam ini. Di sini juga banyak pendaki lain yang melakukan berbagai aktivitas seperti, bernyanyi, bermain, bercerita, dan kegiatan lain yang bisa mengalihkan dinginnya malam.

Angin mulai berhembus kencang, rintik-rintik air jatuh dari langit. Aku mulai khawatir dengan keadaanku sendiri, dan tiba-tiba saja aku teringat ucapan Kak Cimot (kejadian meninggalnya pendaki karena kedinginan).

Selesai diskusi aku izin istirahat di dalam tenda. Namun, percuma mataku tak bisa terpejam dan tubuhku tak bisa rileks. Tak lama Zul mengajak untuk memasak martabak mie. Namun yang terjadi malah jauh dari bentuk martabak mie dan rasanya juga asin pake banget. Semua tertawa melihat kegagalan kami memasak malam ini.

Lalu Zul dan Jamil balik ke dalam tenda. Istirahat. Aku hendak mengambil air ke tempat saluran mata air dekat toilet umum. Aku berjalan menggunakan headlamp di tengah malam yang dingin dan gelap namun masih ramai oleh suara dan lalu lalang pendaki lain. Di ujung malam, menuju pagi yang dingin akhirnya semua terlelap.

Dini hari. Hujan es, kabut tebal, dan suara para pendaki lain yang terdengar mulai ramai membangunkanku. Aku membuka tenda. Melihat sekitar yang hanya terselimuti kabut tebal. Jarak pandang hanya beberapa meter.

Setelah kabut dan hujan mulai meredam. Kami mulai beraktivitas kembali. salat, sarapan pagi, bersih-bersih badan, lalu siap-siap melakukan agenda pelatihan menulis bersama Kak Aida.

Kami diberikan materi seputar penulisan bertema Travelling. Lalu kami diberi tugas untuk menulis dengan tema yang sudah dipilih secara acak. Aku kebagian tema “Pondok Salada”. Aku menceritakan apapun yang berhubungan dengan pondok salada yang kuberi judul “Kehangatan di Pondok Salada”. Dua puluh menit semua peserta selesai mengerjakan tugas dan bersiap mendengar penilaian dari Kak Aida tentang masing-masing tulisan.

Penilaian diukur dari poin 5P 1H. Tulisan yang menarik harus menggunakan konsep 5P 1H(5 Panca Indera, 1 Hati). Semua peserta sudah cukup keatif menuangkan ide-idenya. Namun, dibutuhkan latihan rutin untuk dapat menghasilkan tulisan yang dahsyat dengan konsep tersebut.

Selesai penilaian, diumumkan tulisan terbaik dari yang terbaik. Dan ternyata tulisan dengan judul “Kehangatan di Pondok Salada” mendapat apresiasi lebih. Yap, aku bersyukur dengan apresiasi yang telah diberikan. Semoga aku bisa lebih baik dalam menulis. Terima kasih Kak Aida atas hadiahnya.

Selesai agenda pelatihan menulis, kami siap-siap untuk turun. Tepatnya setelah makan siang dan salat zuhur.

Siang hari. Kami turun melewati jalur Hutan Mati. Siang hari kabut tak terlihat. Pemandangan semakin eksotis tanpa kabut yang menghalangi, tebing-tebing menjulang tinggi, uap-uang belerang keluar dari dalam bebatuan, suara khas uap belerang yang keluar memanjakan telinga.

Luar biasa perjalanan turun kali ini. Di sisi kanan dan kiri kita bisa melihat dan merasakan betapa menakjubkan Maha Karya Tuhan yang berhasil disuguhkan begitu sempurna tanpa ada kabut yang menghalangi. Perjalanan yang bahkan terasa begitu cepat.

Pemandangan alam yang indah telah kurasakan, membuatku jatuh hati. Kapan-kapan aku akan kembali saat rindu menghampiri. Salam cinta untuk semua yang ada di sini.

Cinta memang butuh perjuangan. Perjuanganku untuk Papandayan adalah bukti cintaku. Inilah kisahku dengan cinta pertamaku. Mt. Papandayan Is My First Love.

Sabtu, 20 Juni 2015

Mt. Papandayan Is My First Love (Lanjutan)


Setelah membangun tenda lalu makan siang dan salat zuhur kami mendaki lagi. Tujuan selanjutnya adalah Hutan Mati dan Tegal Alun. Berbekal air mineral, cemilan secukupnya, dan sebanyak-banyaknya tekad kami berjalan menelusuri hutan-hutan, lalu sungai, dan bebatuan. Sekitar kurang dari sejam perjalanan kami sampai di kawasan Hutan Mati. Udara terasa hangat. Dari sini kita bisa melihat Pondok Salada yang dihiasi warna-warni tenda para pendaki. Terlihat sangat kecil, seperti titik-titik warna, merah, kuning, hijau, dan biru.

Karena Kawasan Hutan Mati begitu luas sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan pendakian ke Tegal Alun dan akan kembali ke Hutan Mati setelah turun dari Tegal Alun.

Lagi dan lagi nafasku mulai tersengal.

“Fera masih kuat nggak? Karena kita masih akan menanjak cukup lama. Kalau nggak kuat jangan dipaksa, kita main-main aja di hutan mati.” Ucap Bang Ipank.

Sementara keputusan lanjut atau tidaknya ada di tanganku dan otomatis jika aku bilang stop sampai di sini, aku nggak kuat, mereka juga akan berhenti di sini.

Wajah-wajah penuh harap, wajah-wajah yang seolah-olah mengatakan, “lanjut saja. Kamu pasti kuat. Kita selalu ada untukmu. Tegal Alun sudah menanti kita. Ayo semangat!”

Hening sejenak. Menunggu keputusan. Sementara yang lain bantu menyemangati.

Aku berpikir keras dan mengumpulkan seluruh keyakinan dan tenaga yang masih tersisa. Seketika terbesit di otakku tentang nasihat lama yaitu, kamu bisa jika kamu berpikir bahwa kamu bisa. Kamu kuat jika kamu berpikir bahwa kamu kuat. Namun, kamu akan menyerah jika kamu berpikir kamu tidak bisa.”

Akhirnya, aku memutuskan untuk LANJUT! Wajah-wajah cemas itu seketika berubah menjadi senyum yang merekah.

Perjuangan luar biasa untuk sampai di Padang Edelweis karena harus melewati tanjakan bernama “Tanjakan Mamang”. Tanjakannya terjal, curam, licin, dan sempit (lebar jalan tidak lebih dari setengah meter).

Biasanya di sini banyak pendaki yang terpeleset karena memang licin. Tanjakkan ini cukup menguras energi maka tidak jarang ada pendaki yang berhenti di tengah untuk istirahat sejenak atau mengabadikan momen dengan berfoto ria.

Setelah “Tanjakan Mamang” kita melewati jalur biasa, datar yang hanya beberapa meter dari sini akan terdengar suara orang-orang yang sudah lebih dulu sampai. Yap, kami telah tiba di Tegal Alun. Hamparan bunga Edelweis terbentang luas. Aku yang masih takjub dengan sensasi yang ada di Tegal Alun tak ngeh ketika Jamil memberikan beberapa kertas kosong dan spidol. Untuk apa ya kertas ini?

“Ini kertasnya, ambil aja beberapa, nanti sisanya kasih ke yang lain ya.” Ucap Jamil lalu beranjak pergi ke area lain. Aku membiarkannya pergi dan menyangka kalau dia mau bertafakur sejenak, mencari tempat yang agak sepi. Mungkinkah ini sisi lain dari seorang Jamil yang hobi foto-foto? Ucapku dalam hati.

Sementara aku yang masih terpaku, melihat betapa dahsyat pemandangan, udara dingin, dan kabut yang semakin tebal. Tak lama setelah itu zul datang, menghampiriku, meminta kertas, disusul Kak Aida. Sampai kertas itu habis, aku masih belum sadar ada apa dengan kertas itu.

Lalu Azmi nyeletuk, “Masih ada kertas lagi nggak yang kosong buat difoto? Nanti tulisannya biar bisa diedit-edit.”

Sementara Kak Aida terlihat sedang menuliskan ajakan kepada seseorang untuk datang ke sini, Tegal Alun. Dan aku baru tersadar bahwa kertas itu untuk dituliskan kepada orang-orang terdekat. Aku kehabisan kertas padahal tadi aku yang pegang banyak. Ckckck

Jamil? Aku melihatnya dari kejauhan. Ternyata dia bukan sedang bertafakur tapi malah asyik selfie dengan tulisan-tulisan yang ada di kertas itu. Hahaha.

Satu per satu mereka berfoto dengan kertas yang sudah dituliskan. Aku juga sempat diminta Jamil memotret dirinya dan kertanya. Sementara aku yang bingung kehabisan kertas, berusaha mencari apapun yang bisa dituliskan. Terbesit rasa syukur yang ingin kutulis di kertas itu.

Setelah satu per satu puas berfoto dengan kertasnya, Zul meminta kesediaan pendaki lain untuk memotret rombongan Batavia Publishing. Jepret! Jepret! Jepret! Selesai bernarsis ria dengan tiga gaya.

Hari semakin sore. Kabut semakin tebal. Udara semakin dingin. Kak Aida mengusulkan untuk beranjak dari sini, turun ke Hutan Mat, lalu kembali ke Pondok Salada. Aku masih mencari-cari kertas. Kebetulan aku lihat ada rombongan lain yang juga sedang berkumpul, menuliskan ini-itu. Aku mendekati mereka.

“Permisi akang-akang, wah lagi pada sibuk nih bikin ucapan di kertas. Ngomong-ngomong ini rombongan dari mana? Salam Kenal, aku Fera dari Jakarta. Oh iya, boleh minta kertasnya?”

Kami berkenalan. Lalu rombongan pendaki asal Tangerang itu dengan senang hati memberikan dua kerta berserta spidol.

“Kak sebentar ya, aku mau menuliskan sesuatu.” Pintaku soal waktu kepada Kak Aida.

Tanganku gemetar ketika menuliskan rasa itu di selembar kertas. Selesai. Aku meminta Azmi untuk memotret.

Kak Aida tersenyum melihat gayaku berfoto sambil menampilkan apa yang telah kutulis. Tersenyum melihat tulisan di kertas itu. Ia terlihat juga sedang membisikan sesuatu ke telinga Bang Ipank. Zul, menyusul memotretku. Dua kamera, dua fotografer, satu objek dengan tulisan “Terima kasih Allah ^_^” .

Terima kasih Allah, terima kasih Tegal Alun, terima kasih para Edelweis yang cantik, terima kasih Tanjakan Mamang, terima kasih udara dingin, terima kasih kabut, dan terima kasih teman-teman.

--------Bersambung---------

Selasa, 09 Juni 2015

Mt. Papandayan Is My First Love


Sabtu, 6 Juni 2015 pukul 05.00 rombongan Batavia Publishing tiba di Camp David. Setiba di sana kita salat subuh dan sarapan. Rombongan yang tergabung dalam kegiatan Traveling Writing ini terdiri dari empat lelaki dan tiga perempuan.

Pukul 07.00. pendakian dimulai. Bang Ipank sebagai ketua tim. Luar biasa yang dilakukannya ini, menyemangati, mendukung, memastikan segalanya berjalan dengan baik, dan membawa peralatan paling banyak seperti: tenda, kompor, matras, bahan makanan, dan obat-obatan. Kak Aida sebagai pembimbing. Kasih sayangnya tiada tara. Perhatian banget. Lalu ada Kak Cimot yang sebenarnya juga perhatian tapi jarang ditunjukkan. Azmi yang supel dan bersahabat. Zul yang selalu mengulurkan tangannya untuk siapa saja yang kelelahan saat dalam perjalanan, dan Jamil yang selalu semangat foto-foto. Masing-masing punya karakter yang menjadi ciri khasnya. Saling melengkapi. Saling mengisi. Saling berbagi.

Kabut menemani saat langkah demi langkah dilalui. Trek terjal mulai ditapaki, udara dingin mulai menghampiri, dan angin lembut mulai merasuki tubuh ini. Di tengah-tengah perjalanan terjal dan berbatu, perasaanku mulai terasa sendu. Aku bertanya dalam hati, kamu sanggup?


Kami melewati trek menuju kawah belerang. Menanjak. Licin. Terjal. Bebatuan. Bau belerang yang sangat menyengat, menusuk hidung. Aku mengambil masker dari dalam tas dan memakainya untuk mengurangi bau tersebut. Rekomendasi dari Kak Aida. Di sini nafasku mulai tersengal. Dadaku mulai terasa sesak. Kak Aida menanyakan keadaanku, memastikan aku dalam keadaan baik-baik saja. Aku tampak loyo. Semangatku pudar. tiba-tiba aku teringat perkataan kakak di rumah, memastikan bahwa apa yang dia katakan itu hanya kebohongan. Aku mengutuknya dalam hati. Katanya landai? Apaanya yang landai? Dasar penipu!

“Dek, Papandayan itu landai lho. Treknya nggak berat untuk pendaki pemula. “ Ucapnya beberapa waktu lalu sebelum aku berangkat. Dengan modal pengetahuan seadanya aku memberanikan diri untuk mengikuti kegiatan ini. Aku mendaftarkan diri dengan semangat menggebu-gebu. Aku menanamkan erat-erat dalam ingatanku ucapan kakak tadi. Papandayan landai.

Mungkin bagi yang sudah terbiasa mendaki gunung, jalur di papandayan tidak begitu sulit. Apalagi untuk ukuran seorang lelaki (kakak) yang memiliki tubuh tinggi besar. Sementara tubuhku ringkih (beda 180 derajat). Sementara pendakian ini adalah pendakian pertama bagiku. Jadi aku merasa sangat tertipu oleh ucapan kakak. Teganya dia bilang treknya landai? Padahal taruhannya nyawa.

Harus pelan-pelan dan be carefull. Meskipun aku merasa sudah sangat hati-hati dalam melangkah, namun beberapa kali hampir terpeleset. Berkat uluran tangan dan dukungan teman-teman, aku bisa melewati semua rintangan ini. Terima kasih ya.

Ingin rasanya menumpahkan air mata ini ketika melihat tebing-tebing menjulang tinggi dan kokoh, warna-warni bebatuan yang sungguh menawan, uap-uap belerang yang keluar dengan suaranya yang khas dan bau yang menyengat. Aku memilih menahan tumpahan air mata ini yang seolah-seolah ikut merasakan kekaguman yang aku rasakan. Maha Besar Allah atas segala ciptaanNya.

Setelah tiba di pos kawah belerang kami istirahat sejenak, menghela nafas panjang, minum, dan tak lupa foto-foto. Jamil terlihat sangat antusias melakukan hobi narsisnya. Dan seperti biasa, aku yang sering dimintai memfoto dirinya. Bergaya macam foto model. Hahaha.

Perjalanan dilanjutkan. Sekitar setengah jam melewati trek menanjak dan sempit, akhirnya kami tiba di jalur trek terakhir, melewati sungai dengan aliran langsung mata air, banyak pendaki yang berhenti untuk meminum air sungai ini. Pemandangannya pun luar biasa, hamparan pepohonan hijau menjulang dari atas ke bawah, terlihat beberapa pendaki yang masih berada di bawah.

Beberapa ratus meter sebelum sampai di pondok saladah, kami mendaftarkan diri ke pengurus di sana. Kirain sudah sampai di sini bangun tendanya. Ternyata masih harus naik sedikit lagi.

“Semangat ya. Lima menit lagi kita sampai.” Ucap Kak Aida.

Lima menit sudah berlalu, sementara trek semakin sempit dan menanjak.

“Kak, ini udah lebih dari lima menit lho. Kok belum sampai?”Aku protes. Seperti anak kecil yang menagih janji ibunya untuk dibelikan boneka.

“Fera kalo capek istirahat aja.” Sahut Kak Ipank sambil menatapku dengan tatapan prihatin.

Lanjutan....

Sabar Fera, sedikit lagi sampai. Kuatkan lagi tekadmu. Atur nafas dengan baik. Bisikku dalam hati.

Sejauh mata memandang akhirnya aku bisa melihat beberapa tenda terpasang. Setelah melalui jalanan sempit dan menanjak yang persisi seperti melewati sebuah hutan, terlihat secercah cahaya. Matahari begitu terang dengan sedikit kabut yang masih setia. Kita sudah keluar dari hutan.

Setelah berkeliling akhirnya didapat area untuk mendirikan tenda. Sementara Bang Ipank mengeluarkan perlengkapan tenda, Jamila dan Zul yang asik foto-foto, aku langsung menghempaskan tubuh di atas rumput-rumput yang terasa dingin. Nyeeeeesss. Huuuuuuuft. Akhirnya sampai di pondok salada. Perjuangan luar biasa terbayar dengan pemandangan cantik, udara sejuk. Nampak beberapa awan begitu dekat jaraknya, bergerak perlahan, disusul awan lain. Selfie dulu ah. Hahaha.

----- bersambung-----

Kamis, 07 Mei 2015

Pendapat MUI Soal Prostitusi


Majelis Ulama Indonesia (MUI) tak setuju tentang lokalisasi pelacuran di Ibukota Jakarta yang merupakan masalah lama di setiap pergantian pimpinan yang akan terus dibahas lagi. Lantaran Jakarta merupakan kota metropolitan yang segala kemungkinan bisa ada. Terkait usulan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama memunculkan lagi tentang pembangunan lokalisasi terhadap pelacuran, Prof DR Hj Amany Lubis selaku Wasekjen MUI kurang setuju dengan penyebutan Pekerja Seks Komersial (PSK) karena mereka bukan pekerja. Mereka adalah orang-orang yang terdesak, karena berbagai alasan dan latarbelakang, sehingga menjajakan dirinya dan melakukan pelacuran.

Namun menurut perwakilan dari MUI tersebut, penggunaan bahasa Pekerja Seks Komersial tidak pantas karena beberapa hal. “Jadi bahasanya jangan diperhalus mengenai pelacur bukan PSK. Kalau PSK status pekerjanya bisa sama dengan buruh, petani, pekerja seni, atau pekerja informasi. Sementara pelacur bukan terkait profesi yang memperoleh imbalan ekonomi, karena yang dijualbelikan harga diri seseorang walaupun pelakunya tidak menyadari karena berbagai alasan. Manusia ini ‘kan paling sering buat alasan,” ulas Amany kepada pers di Jakarta, Selasa (28/04/2015)

Menurut Amany, sebagai pengelola negara, harus berpikir panjang dan berpikir jauh, masalah lokalisasi dahulu sudah dihilangkan. Kramat Tunggak, Kali Jodo, dan di Doli Surabaya serta lainnya, sudah ditutup. Lalu kenapa sekarang mau dibuka lagi? Apa kurang kerjaan? Seharusnya ada hal lain yang lebih positif yang bisa dilakukan negara bukan malah masalah ini dibuka lagi. “Artinya, tentang lokalisasi, pendahulu-pendahulu Pak Ahok juga tak menyetujui dan juga sudah ditutup. Jadi adapun masih maraknya pelacuran, berarti kegagalan pengelola ibukKota ini, terkait hal-hal positif peluang kerja yang lebih terhormat untuk laki-laki dan perempuan,” ujar Amany.

Amany memaparkan, lokalisasi itu -yang saya baca tadi pagi di detik.com – Pak Ahok mengatakan lokalisasi pelacuran itu seperti sampah, maka harus dilokalisasi seperti tempat pembuangan sampah. Nanti dari situ mau dikelola, mau dibakar, didaur ulang. Jadi, disamakan dengan sampah. Kalau sampah itu akan diam saja diapapun juga, tapi kalau ini ‘kan manusia bukan benda mati. Mereka masih ada harapan apabila dinasehati atau diluruskan, seperti kebutuhan hidup terpenuhi, lowongan kerja yang memadai, agar menjadi anggota masyarakat yang berguna bukannya dengan membiarkan lokalisasi pelacuran itu.

“Sama saja dengan kita membiarkan masyarakat yang tidak membaur dengan masyarakat lain yang bersifat egois, mementingkan diri sendiri, mementingkan tujuan ekonomi sendiri, dan tidak menjadi anggota masyarakat yang berguna untuk semua. Jiwa manusia itu, walaupun sudah melakukan kesalahan, tetap kita juga memiliki harapan untuk orang tersebut berubah suatu saat, meskipun dari nasihat dia tidak sadar tetapi penyadaran itu datangnya dari mana-mana. Misalnya dengan memikirkan alam semesta, melihat bayi yang baru lahir menangis, melihat manusia cacat yang tidak memiliki anggota tubuh yang utuh tapi masih punya harapan dan semangat tinggi untuk menjalani hidup yang positif. Sementara mereka yang lengkap tubuhnnya tetapi menjajakan dirinya seperti itu. Ada peluang kesadaran bagi mereka,” papar Amany.

Dia pun mengupas, kalau misalnya saja ada 10 lokalisasi yang dibuat di Jakarta, maka akan jadi seperti apa masyakat dan negaranya? Semuanya egois memikirkan diri sendiri, syahwat, dan lainnya. Semua itu banyak dampak negatifnya. Oleh karena itu para pemimpin bijak yang terdahulu sudah betul, lokalisasi itu tidak dibenarkan.

“Dalam Islam, kita tentu menjunjung tinggi kehidupan yang suci dan bersih. Sementara semua agama, semua umat di dunia ini melarang prostitusi, karena itu sangat merendahkan martabat manusia ke martabat hewan,” tegas Amany. Amany mengatakan, terkait sertifikasi pelacur, malah merupakan hal yang mengada-ada. Apalagi demam sertifikasi sekarang ini, jadi semua orang memakai kata sertfikasi. Memangnya seperti laboratorium? Kita manusia berpikir lurus dan terdidik itu, mestinya bisa memilah-milah mana yang urgen dan yang tidak, mana yang layak dan yang tidak.

Tentang sikap Ahok sendiri, Amany mengatakan, karena dari awal naiknya Ahok sebagai Gubernur juga ada masalah. Tidak semuanya disetujui, secara UU juga masih bermasalah, tapi ada kekuatan lain yang mendukung, kemudian banyak masalah juga. Adapun masalah di suatu pemerintahan itu biasa saja, tapi jangan terus menunjukkan sikap yang tidak arif, arogan, itu mustinya siapapun menghindarinya.

“Seorang pejabat biasa melakukan tarik ulur. Namun, jangan selalu tarik, tensinya tinggi terus dalam segala bidang. Hal ini menunjukkan ketidakarifan dari sikap Ahok,” tegas Amany.

Menurut Amany, maraknya pelacuran di bawah umur (pelacuran anak) menjadi hal yang sangat memprihatinkan, berarti memang semua segmentasi masyarakat dari mulai keluarga, sekolah, masyarakat, pejabat, dan negara harus peduli. Harus mencanangkan dan menggembar-gemborkan secara luas pentingnya pendidikan moral dan martabat manusia. Terkait sifat manusia yang dinamis, berubah-ubah, kadang baik, kadang tidak. Maka kita ambil peluang jika dia mau berubah menjadi anggota masyarakat yang baik, maka harus didukung dan dicegah peluang-peluang untuk dia menjadi buruk. “Peran agama bisa diperoleh dari Alquran dan Hadis, sementara dari pemerintah bisa dengan membuat peraturan-peraturan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kemudian peraturan-peraturan yang memberikan kemaslahatan kepada rakyat. Peraturan tersebut juga harus dapat melindungi fisik dan mental, jasmani dan rohani,” ungkap Amany.

Dia pun mengingatkan, ayat tentang anjuran mentaati pemimpin atas segala peraturan yang memberikan kemaslahatan kepada rakyatnya. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta Ulil Amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu adalah yang terbaik untuk kalian dan paling bagus dampaknya.” (QS. an- Nisaa': 59) (fera)

Sabtu, 07 Maret 2015

Si Kitten Sembuh


Hore, Si Kitten Sembuh!

Handphoneku berdering tanda telepon masuk. Aku mengangkatnya.

“Hallo...”

Di seberang sana seseorang bicara dengan suara antusias.

“Fera, Mpusnya udah sembuh. Udah bisa lari-larian, loncat-loncatan. Matanya juga udah bisa melek sempurna.”

Ini telpon dari Mba Tuti. Orang yang selama ini merawat si kitten. Awalnya aku gak percaya kalau si kitten sembuh. Tapi, besoknya aku langsung ke rumah Mba Tuti, dan tralalala.... si kitten beneran udah sembuh! Setelah menjalani pengobatan dan perawatan selama tiga minggu.

Bagaimana bisa si kitten dirawat Mba Tuti? Begini ceritanya...

Setelah si kitten dibawa ke dokter dan menghabiskan biaya sekitar 200 ribu rupiah (suntik, obat, makanan), aku taruh si kitten yang dibungkus kardus di luar rumah. Terpaksa, karena aku gak boleh bawa masuk si kiiten yang sakit ke rumah lagi. Dua jam kemudian aku gak sengaja denger suara dia lagi “meong-meong”. Aku mengampirinya sekalian untuk memberinya makan dan obat. Pas aku kesana, si kitten tergelatak tanpa kardusnya.

Kata Mba Mur, tetangga depan rumah, kardusnya diambil pemulung. Ya ampun. Kasian banget. Sementara aku mau ngasih makan, dibantu sama Mba Mur. Aku cerita kalo kucing ini sakit dan aku kebingungan mau ditaruh di mana. Lalu, Mba Mur ngasih saran yang sangat brilian! Apa itu?

“Dek, kucingnya kasih ke Mba Tuti aja. Dia biasa ngerawat kucing-kucing. Apalagi kalo sakit begini, pasti dirawat sama dia.” Ceeeess.... perasaanku bagaikan es yang mencair seketika. Seneng banget dengernya. Setelah si kitten dikasih makan, aku langung bawa ke rumah Mba Tuti.

Bagaimana si kitten sembuh?

Selama sakit, si kitten ditaruh di kerangjang baju berbentuk persegi panjang yang berukuran sekitar 60 cm x 30 cm. Supaya si kitten nyaman, dialaskan kain yang lumayan tebal. Kalau malam si kitten dikasih lampu supaya gak kedinginan.

Lalu bagaimana si kitten makan dan minum obat?

Si kitten awalnya dikasih makanan daging olahan kemasan kaleng yang tersedia di pet shop. Harganya sekitar 38rb per kaleng. Makanan itu dikasih dengan menggunakan suntikan. Karena si kitten belum bisa makan, terpaksa menggunakan suntikan yang langsung ke mulutnya. Lalu setelah makan, dia dikasih obat berbentuk kapsul. Tapi kapsulnya dibuka, dan dimasukkan lagi ke suntikan ditambah air sedikit.

Setelah makan dan minum obat si kitten tidur pulas. Lalu kalau dia berisik “meong-meong” tandanya lagi buang air kecil atau besar. Kalau udah begitu, ya diganti kain alas kerangjangnya.

Nah, mengenai makanan, karena harga daging kaleng terlalu mahal bisa diganti dengan nestle cerelac bubur bayi yang untuk umur 6 – 12 bulan. Si kittten dikasih itu setelah daging kalengnya habis.

Setelah seminggu dirawat sudah mulai ada perubahan. Si kiiten bisa buang air kecil dan besar. Nafsu makan juga udah bagus. Sayang, matanya masih bengkak.

Mba Tuti berinisiatif memberikan obat herbal sebagai tambahan. Matanya dikompres air hangat dan daun sirih. Selain dikasih makan dan obat, si kitten juga dikasih perhatian dan kasih sayang. Kasih sayang penting lho buat hewan yang sedang sakit, supaya dia gak merasa stress dan ada semangat untuk sembuh. Kira-kira ini yang dibilang Mba Tuti.

28 Februari tepat si kitten berumur 4 bulan. Dan sehari setelah itu aku dikabarin kesembuhannya lewat telpon. Seneng banget rasanya. Makasih buat semua yang udah perhatian sama si kitten. Semua yang terlibat atas kesembuhan si kitten. ^_^

Foto-foto Si Tina dan Si Kitten (kembar belang).
Note : Si Kitten yang tadinya sakit yang sebelah kanan.