Rabu, 27 Desember 2023

Drama Hidup










Banyak yang takut tampil apa adanya dan takut menunjukkan keasliannya.

Karena selama ini terbiasa memakai topeng. Topeng fisik maupun topeng psikologis. 

Tuntutan sosial mengharuskan setiap individu memainkan berbagai peran. Ketika di rumah, di masyarakat atau di tempat kerja. Berbeda rupa. Terus memainkan peran. 

Drama menjadi hal biasa. Padahal 'kehidupan' dengan 'drama hidup' sangat berbeda. 

Drama membuat lelah diri dan orang lain. Setiap orang terbebani dengan perannya sendiri. Dengan drama yang dibuatnya sendiri. 

Aku adalah Kesadaran

Aku bukan pelayan buat egoku. Aku juga bukan pikiran burukku apalagi emosi sesaatku. 

Aku adalah kesadaran. Aku yang mampu mengendalikan egoku. Aku yang mampu menyetir laju pikiranku. 

Aku bukanlah topengku. Aku adalah keberanian untuk menunjukkan sisi asliku. 

Asliku bukanlah tentang kepribadianku. Bukan juga tentang identitasku. Apalagi fisikku. 

Aku juga bukan kebahagiaan yang kalau sesuatu terjadi sesuai keinginanku. 

Selamat Liburan

Met liburan ya. Puas - puasin liburannya. Bahagianya juga di puas - puasin. Kan nanti back to rutinitas lagi. Udah nggak bisa bahagia lagi. 

Apalagi lihat rekannya bahagia, kamunya yang menderita. Padahal, abis liburan. Eh tapi, ko ky nggak bahagia. Padahal udah abis berapa M itu buat healing. Apa cuma sekedar refresing? 

Jadi, percuma aja liburan ke mana - mana tapi pribadinya masih yang gitu - gitu aja. Pengen diakui, pengen sukses di mata orang lain. 

Katanya be your self. Tapi, kenal diri aja belum clear. Jadinya ya gitu, sering marah - marah nggak jelas. Kalau ada masalah emosi duluan. Hmm, mau sampai kapan ky gitu? 

Zaman sekarang orang - orang nggak cuma pakai topeng fisik tapi lebih parah lagi topeng psikologis. 

Sabtu, 23 Desember 2023

Melepas 2023

2023 adalah tahun dengan paket komplit. Aku pernah senangnya kebangetan, tapi sedihnya juga kebangetan.

2023 adalah tahun kesadaran. Waktunya untuk banyak mengalah, waktunya untuk banyak "me time". Berkontemplasi. Menguliti diri sendiri. 

Menyadari bahwa tak ada yang luput dari apapun perbuatan yang sudah kita lakukan. Baik, buruk akan kembali ke kita. 

Jeda. Lalu mundur. Perlahan maju lagi. Tapi mungkin untuk kedepannya, nggak mau ngegas. Mau coba effortless aja. 

Lupakan soal tuntutan sosial. Yang kadang begitu kejam. Membuat manusia berubah jadi monster. Demi apa lagi? Demi sukses di mata orang lain. 

Berbuat baik nggak usah pilih - pilih orang. Supaya apa? Supaya dapat feedback dari org itu? Emang kalau nggak difeedback dari orangnya, Allah nggak akan balas kebaikan kita? Ini konsep yang sering orang lupa. 

Makanya banyak yang suka pura - pura. Banyak yang manis banget di depan. Tawain aja. Capek liat drama para manusia. Huuuft.

Tapi, mohon maaf dulu aku juga pernah gitu sih. Ahahaha makanya udah capek lah, pakai topeng terus. Mau dilepasin aja. Bodo amat orang mau bilang apa. 

Tapi kalau bisa sih, aku mau manis di depan dan manis di belakang. Bisa nggak ya? Bisa sih kynya dengan catatan harus bisa jaga jarak sm siapapun. Nggak terlalu dekat. Nggak terlalu jauh juga. Biasa aja ke semuanya. 

Senin, 18 Desember 2023

Manusia dan Kesadaran

Apa bedanya aku, kamu, dia, kita?

Gak ada bedanya secara substansi. Hanya saja "sadar" kita beda. Bukan soal salah benar, baik buruk. Tapi, lagi - lagi "sadar" kita berbeda.

Maafkan dia yang butuh sadar lebih lama untuk berproses menjadi lebih baik. 
Maafkan dia atas minimnya pengalaman, pengetahuan yang menjadikan dia mungkin terlihat buruk dimatamu. 
Maafkan dia yang sedang proses untuk menjadi kupu-kupu yang indah. 
Waktumu dan waktuku berbeda. 
Prosesmu dan prosesku juga berbeda. 
Tapi tujuan kita sama. Menjadi manusia yang utuh
Dengan kesadaran penuh.


Minggu, 10 Desember 2023

I am what I am

Me time adalah waktunya jujur sama diri sendiri. Berani menerima kekurangan diri sendiri, berani menerima kelebihan orang lain. 

Berani untuk bisa apa adanya di hadapan orang lain. Nggak dibuat - buat. Gak pura - pura. Karena goals nya bukan menjadi yang sempurna. Tapi tau apa yang sebenarnya dibutuhkan. Bukan apa yang diinginkan. Karena keinginan belum tentu kebutuhan. 

Bungkus memang suka menipu sih, karena kita lebih suka melihat ada apanya bukan apa adanya. 

Karena capek juga sih jadi orang lain, capek juga sih kalau terus - terusan berusaha menjadi yang sempurna. Capek kejar - kejaran sama orang lain. Tapi sebenarnya, diri sejatinya ya di situ - situ aja. 

Yang dikejar selalu faktor eksternal, padahal faktor eksternal itu kan tak terbatas. Yakin bisa merasa puas?

Sering - sering aja me time. Biar gak ketipu sama dunia yang tipu - tipu. Atau lebih parahnya ditipu sama diri yang palsu.

Rabu, 06 Desember 2023

Benci Bukan Solusi

Benci adalah kondisi yang melebihi rasa tidak suka terhadap sesuatu atau seseorang. Benci dipengaruhi oleh sebuah "belief system" yang udah tertanam di dalam diri. 

Benci ini akan terus bertambah jika sesuatu yang dibenci itu selalu kita undang untuk hadir membersamai hari - hari kita. Eh, kita? Kamu aja.

Sama seperti cinta, benci juga bisa membutakan seseorang. Hmm, ada pepatah bilang sebenernya kita ga pernah membenci orang lain, tapi kita hanya membenci diri kita versi yang lain. 

Coba deh buat "me time", bukan jalan - jalan ngabisin duit. Me time buat merenung. Sebenernya penting banget ga sih buat benci sama orang? Bukannya justru malah ngabisin energi ya? 

Tapi, bentar. Benci itu beda sama kesal ya. Ya kalau kesal sih biasa aja, ky ga lama gitu. 

Tapi kalau benci ini biasanya lamaaaaaaaa pake banget. Ya gimana ga lama, kan sebenernya yang dia benci itu diri dia sendiri. 

Makanya mungkin perlu self Inquiry. Ya, gak gampang sih. Dan berat. Harus siap sama realitanya. Harus siap sama kekurangan diri sendiri. 

Sabtu, 07 Januari 2023

Innerchild : Ada Luka Yang Terlupa

Apakah kita semua ingat detail kejadian yang kita alami saat masih anak – anak?

Jawabannya pasti tidak semua ingat. Saya bahkan hanya ingat sebagian kecil peristiwa di masa kecil. 

Saya berusaha keras untuk mengingatnya tapi tidak bisa. Padahal, semua kejadian selalu terekam di memori pikiran dan hati kita.

Lupa bukan berarti tidak ada. Luka yang membekaspun terkadang tanpa kenangan namun tetap ada di alam bawah sadar kita. Hal inilah yang mendasari perilaku kita ketika kita beranjak dewasa.

Pola yang salah dalam mengasuh buah hati kita terkadang tanpa sadar menyisakan luka yang bahkan terlupakan oleh si kecil namun justru langsung membentuk kepribadian seorang anak.

Ya, luka itu sekarang menjadi sebuah kepribadian. Karena terus terulang – ulang diberikan oleh pengasuh entah itu orang tua kita atau yang lainnya. 

Ketika seorang anak merasa berbeda dengan anak – anak yang lain yang mungkin diasuh dengan cara – cara yang lebih manusiawi mereka akan bertanya-tanya, aku berbeda.

Kenapa aku seperti ini?

Membesarkan anak manusia berbeda dengan membesarkan anak kucing, anak anjing, atau anak hewan lainnya. Tidak hanya soal memberinya makan dan minum. Jasmani mungkin terpenuhi tapi ruhaninya kering kerontang.

Terkadang anak menjadi pelampiasan orang tua yang bahkan belum berdamai dengan masa lalunya. Orang tua yang buta ilmu psikologi sering tidak sadar bahwa mereka memberikan luka kepada anak – anaknya.

Labeling yang sering terlontarkan, “iya anak saya mah pemalu.” Atau “iya, yang ini mah penakut.” Bisa membuat anak menjadi seperti itu. Dan pertanyaannya, apakah orang tua mau anaknya jadi pemalu atau penakut? Tapi, justru mereka sendiri yang membentuk itu.

Senin, 24 Oktober 2022

Menangislah, Tanda Kamu Manusia Bukan Batu!

"Nangis aja jangan ditahan, kamu bukan batu. Nangis aja nangis, gak usah maksa selalu pengen terlihat kuat gitu sih. Air mata gak akan abis ko. Oh tetep gamau. Giliran baca novel, nonton film/drakor ko langsung banjir itu. Bisa jadi itu sedih yang terpendam. Tapi gak sadar aja. Bener ga?"

Tiba - tiba suara hatiku mengatakan demikian. Entah kenapa banyak orang yang salah kaprah tentang air mata.

Dia yang nggak pernah nangis itu bukan berarti orang yang kuat (stroong)! sebaliknya orang yang mudah menangis bukan berarti dia lemah. 

Bahagia bukan juga berarti nggak pernah mengeluarkan air mata. Itu salah besar. 

Nangis itu menandakan kita manusia, punya hati. That's it!

Orang yg nggak pernah nangis bisa jadi hatinya keras seperti batu. Terus jadi nya lebih sering marah - marah. Lebih banyak mengkritik diri dan orang lain! Terlalu menuntut kesempurnaan. Harus serba bisa, serba Okay di mata orang lain. Hatinya belum tentu merasa cukup dan tenang. 😆

Tapi nggak juga nangis terus setiap hari ya. Ya, dikira - kira aja. Intinya kalau sedih itu nggak apa-apa nangis aja ko, wajar banget. Mau kamu perempuan atau laki - laki. Sama - sama punya stok air mata yang nggak akan habis.

Jumat, 14 Oktober 2022

Bullying membawa Petaka

Sebuah film yang berjudul, "Kalian Pantas Mati" yang bergenre horror ini pantas diberikan apresiasi karena related dengan kehidupan anak remaja jika dilihat dari sisi kenakalannya. Remaja yang notabenenya dilahirkan dari orang tua berada namun orang tuanya kurang memberikan perannya serta lebih sibuk diluar rumah membuat anak - anak tumbuh tanpa aturan. Mereka merasa bebas melakukan apapun yang mereka suka. Termasuk membully teman yang berasal dari keluarga miskin namun memiliki segudang prestasi. 
Bully di kalangan remaja memang sangat memprihatinkan. Banyak kasus perundungan yang melukai fisik dan psikis korban. 
Hal inilah yang harus diwaspadai oleh pihak sekolah dan kerjasama dari pihak orang tua untuk terus mengawasi pergaulan putra putrinya. 
Dari film tersebut, kita bisa lihat karakter Dini, seorang gadis remaja yang cantik, pintar dan berbakat di bidang seni tari. 
Namun, karena dini anak dari penjaga sekolah. Dia tidak punya power untuk melawan ketika teman - temannya yang tergabung dalam sebuah geng anak - anak tajir membully nya.
Dampak dari bully ini membuat dia merasa rendah diri dan ingin lepas dari kehidupan ayahnya yang hanya seorang penjaga sekolah. 
Namun, sayangnya kecelakaan membuat nyawanya tak tertolong. Hal inilah yang membuat ayahnya sangat kehilangan dan mempunyai dendam terhadap murid - murid yang sudah membully anaknya. 
Dengan belajar ilmu hitam, dia pun bisa memanggil arwah dini untuk membalas perbuatannya teman - temannya. 
Namun, dini aslinya adalah anak yang baik dan tidak pendendam, maka sosok hantu dini muncul dengan karakter yang baik. 
Sementara, hantu dini yang lain adalah sisi jahat dari ilmu hitam yang ayahnya lakukan untuk menyakiti teman - teman dini yang sudah membully nya.
Sementara Raka, adalah murid yang bisa melihat makhluk astral. 
So, segitu aja infonya dari saya. Film ini layak untuk ditonton. 
Film horor yang gak horor banget. Kebanyakan film horor dari awal sampai akhir bikin tegang. Kalau film ini sangat beda, ada sisi humornya, romantis, horor dan anak muda banget.

Sabtu, 08 Oktober 2022

Pentingnya Menyadari Kesehatan Mental Sejak Dini

Beberapa orang yang saya kenal ternyata mempunyai isu tentang keluarga. Beraneka ragam problematika. Dengan berbagai emosi yang bergejolak. Bahkan di usia yang masih sangat kecil salah satu teman saya sudah menyaksikan orang tuanya bertengkar hebat dan akhirnya berpisah. Sejak saat itu dia diasuh oleh kakek dan neneknya. Ibunya yang sejak kejadian itu tak pernah lagi menemuinya. Dan ayahnya yang masih ada namun selalu terasa asing bagi anaknya sendiri. 

Emosi terkadang menjadi bumerang bagi yang memilikinya. Apalagi jika emosi yang sudah bertahun-tahun itu disimpan dan terus terakumulasi sehingga tanpa sadar kadarnya membesar. Ketika ada pemicu yang pas, di saat itulah ego mengendalikan diri,  menghancurkan naluri. 

Sisi baik yang sudah terbentuk pun seolah tak ada artinya. 

Banyak sekali orang tua yang ternyata masih menyimpan emosi entah itu kemarahan, ketakutan dan kesedihan nya terhadap orang tua mereka namun sayangnya emosi itu diabaikan tanpa diproses dengan benar sehingga puluhan tahun kemudian emosi itu kembali menghampiri ketika dia sudah menikah. 

Sisi kekanak - kanakan nya muncul setelah mereka punya pasangan dan anak.

Jarang sekali ada orang tua yang rendah hati mau mengakui emosi yang masih tersimpan puluhan tahun ini. Mereka terus berasumsi bahwa mereka baik - baik saja. "mana mungkin saya masih menyimpan kemarahan saya terhadap orang tua saya."

Ditambah doktrin bahwa orang tua harus dipatuhi dan tidak boleh dilawan. 

Seorang anak yang sering melihat, mendengar dan merasakan kemarahan orang tuanya akan merekam semua itu dan menganggapnya itu adalah hal yang normal. Dan ketika dia menikah pun keadaan yang harmonis menjadi sangat asing dan tidak normal. Sehingga keributan - keributan yang dipicu hal - hal sederhana menjadi konflik yang selalu ada dan menyertai di hari - harinya.

Orang tua yang dulunya terluka tanpa sadar ketika dewasa luka itu masih ada dan ditularkan ke pasangan serta anaknya. Tanpa adanya kesadaran, hal ini terus terjadi bagaikan lingkaran setan. 

Mereka yang terlihat "baik - baik saja" ternyata masih menyimpan kemarahan. Di usia saya yang masih remaja saya pun mengalami penyakit psikosomatik yang ternyata disebabkan oleh kemarahan yang saya pendam bertahun - tahun dan terus terakumulasi. Penyakit ini pun seolah tak bisa hilang dengan obat - obatan medis. Penyakit yang kambuh - kambuhan. Ternyata akarnya adalah kemarahan yang saya tahan saat masih anak - anak sampai menginjak usia dewasa. Beberapa tahun belakangan ini, isu kesehatan mental menjadi sangat booming. Dan saya mencoba mempelajari dan mendalami itu. Hingga saya menyadarinya, menerimanya dan memasrahkannya. Hingga kini saya tak pernah lagi merasakan sakit seperti dulu.

Banyak anak yang tumbuh dengan luka dan luka itu tak pernah disadari keberadaanya. 

Selamat hari kesehatan mental dunia.


Rabu, 05 Oktober 2022

Amuk di Kanjuruhan

Di setiap pertandingan, selalu ada yang jadi pemenang. Pemenang hanya simbol dari kegigihan usaha yang dilakukan. Sama seperti pemenang, yang kalah juga simbol bahwa harus lebih giat lagi berusaha. Adalah hal wajar ketika kalah mengakui dan menerima kekalahan dengan lapang dada. Dan ketika menang, merayakannya dengan bersuka cita dan tetap rendah hati merangkul yang kalah untuk sama - sama merayakan kemenangan itu dan tetap menyemangatinya. Memahami bahwa semuanya adalah takdir yang harus diterima.

Suporter yang "beringas" adalah simbol adanya kemarahan di dalam dirinya entah marah ke siapa. Kekalahan club nya hanyalah pemicu kecil dari emosi besar yang sudah ada jauh di dalam dirinya. 

Jiwa - jiwa muda yang sedang bergejolak itu awalnya memang sudah rentan. Hal ini bisa dilihat dari mudahnya mereka terprovokasi. Hal ini tentu bisa saja dimanfaatkan oleh pihak - pihak yang tidak bertanggung jawab. Pihak yang hanya mencari "keuntungan" dari mereka yang masih beranjak remaja. Jiwa muda ini tentu tidak takut mati dan tidak mempertimbangkan akibat perbuatannya ternyata membuat banyak teman - teman mudanya yang mati sia - sia. 

Penonton yang melebihi kapasitas pun menjadi tanggung jawab panitia yang mungkin hanya mementingkan pemasukan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Demi uang ratusan nyawa melayang.

Polisi yang panik dengan membludaknya puluhan ribu penonton yang ribuan supporter yang memaksa masuk secara tidak sadar menembakkan gas air mata, termasuk ke beberapa tribun yang banyak terdapat perempuan dan anak - anak. Alhasil, mereka berhamburan. 

Efek gas air mata, tidak main - main. Semua kejadian ini berawal dari emosi yang tidak terkendali. Perilaku yang tidak disadari. 

Selamat jalan para pemuda. Selamat menuai apa yang sudah kau tanam. Yang masih selamat, marilah kita mulai melihat ke diri masing - masing, merefleksi diri atas kejadian yang sangat memilukan ini.

sumber foto : detik.com


Jumat, 29 Juli 2022

Zoom Out

Untuk apa manusia hidup jika tak ada kebaikan.

Untuk apa manusia hidup jika tak ada persahabatan.

Untuk apa manusia hidup jika tak ada kebermanfaatan.

Kejahatan yang dilakukan sebenarnya buat apa?

Perselisihan yang terjadi sebenernya untuk siapa?

Dan kesia – siaan sebenernya apa?

Tengoklah jauh ke dalam dirimu .

Sebelum kamu tengok kanan kirimu.

Lihatlah sisi kelammu .

Sebelum kamu menemukan sisi terangmu.

Nilailah dirimu sebelum kamu menilai orang lain.

Cukuplah  menyuarakan kebaikan tanpa adanya keteladanan.

Cukuplah kau menilai buruk orang lain tanpa pernah berkaca pada diri sendiri.

Dunia ini begitu luas.

Alam semesta ini sungguh tak terbatas.

Tapi kita, masih saja membatasi diri dengan menilai seseorang hanya dari satu. Tanpa melihat secara utuh.

Kejahatan, perselisihan dan kesia-siaan terlihat begitu konyol.

Kita hanyalah butiran debu di alam semesta ini.

Zoom out.

Agar kita bisa jauh lebih tenang.

Jauh lebih fokus pada hal – hal penting.

Dan jauh lebih bijaksana.