Minggu, 21 Januari 2024

Jika Hanya Sebuah Prasangka Sungguh Aku Tak Peduli

Jika kamu mendengar kebaikanku dari orang lain, jangan langsung percaya. 

Pun jika kamu dengar keburukanku dari orang lain jangan juga langsung percaya. 

Apapun yang hanya kamu dengar dari orang lain, bukan dari orangnya langsung jangan pernah langsung percaya. Cari tahu sendiri, mengalami sendiri.

Lagi pula baik atau buruknya aku di mata orang lain, aku nggak terlalu peduli. 

Aku menikmati diriku apa adanya. 

Aku menikmati setiap momen pertumbuhanku. 

Tak hanya tumbuh secara fisik tapi juga tumbuh secara spiritual. 

Hingga matang di akhir. Dan berpulang dengan tenang. 

Sampai sini paham?

Jumat, 12 Januari 2024

Malam Yang Tanpa Salah Paham

Selalu rindu bangun malam. Selalu rindu untuk stay di 1/3 malam. Meskipun siangnya melelahkan. Tapi momen saat ini adalah yang terbaik. Energinya besar, suasananya tenang, vibrasinya memulihkan. 

Entah kenapa di saat seperti ini paling baik untuk kita kontemplasi bonusnya kita dapat inspirasi.

Sekarang kepikiran, misal ada satu momen kurang baik yang melibatkan beberapa pihak. Tapi, lagi - lagi yang disalahkan hanya satu pihak. Bukan karena kesalahannya ada di dia 100%. Tapi, karena dia mudah mengalah. Nggak suka keributan, nggak suka konflik, apa adanya nggak banyak drama. 

Ya resikonya, lagi - lagi hanya dia yang terbakar. Seperti lilin, dia menerangi, dia pula yang terbakar. Gapapa. It's okay. 

Lagi - lagi dia percaya kalau Tuhan itu nggak tidur. Semesta selalu bisa menangkap setiap detail kejadian. Tahu kebenaran sejatinya. Tanpa perlu kita banyak menjelaskan. 

Manusia punya banyak sisi kehidupan. Rumah tangganya, pekerjaannya dan kehidupan lainnya. 

Mungkin ada beberapa orang yang unggul di satu sisi hidup nya. Tapi di sisi kehidupan lainnya dia hancur. 

Jadi ya nggak perlu wow banget ngelihat orang dan nggak perlu skeptis juga ke orang lainnya. Biasa aja. Karena kita punya kehidupan masing - masing. Kita punya keunggulan masing-masing. 



Rabu, 10 Januari 2024

Hati Adalah Nahkoda

Hati adalah nahkoda kita dalam menjalankan peran. Bukan pikiran yang mungkin hanya memikirkan keuntungan. 

Apapun kejadian buruk yang terjadi, jika hati kita sebagai nahkoda. Kejadian itu nggak lantas membuat kita reaktif. Kolaborasi antara otak dan hati seperti, oh ya coba saya analisa dulu kenapa ini bisa terjadi dan lantas logika akan mencari pesan apa yang ada dalam kejadian buruk itu. 

Jangan gegabah menilai sesuatu itu buruk hanya karena nggak sesuai sama kepentingan kita.

Yang terucap di mulut adalah cerminan yang ada di hati. Tapi ada juga yang terucap di mulut tidak langsung dari hati. Keduanya bisa dibedakan jika kita selalu melatih hati kita sebagai nahkoda dalam menjalankan segala aktivitas.

Jadikan hati sebagai nahkoda dan pikiran akan mengikutinya. 

Tapi, lagi - lagi terkadang hal ini terlupakan karena level kesadaran kita yang belum stabil. 

Karena ada saja kejadian yang membuat trauma - trauma kita muncul lantas membuat level kesadaran kita turun. 

Senin, 08 Januari 2024

Mengenal Ego

Dulu, saya kewalahan menghadapi ego setiap orang yang selalu ingin dimengerti. Akhirnya saya kalah banyak. Mereka menang banyak. 

Manipulatif. Adalah karena kita terlalu mengedepankan ego. Minim untuk berkaca pada diri sendiri. 

Memangnya mereka pikir, cuma mereka yang boleh marah. Saya nggak boleh marah? 

Dulu, saya pura - pura bodoh ketika mereka seenaknya membohongi saya. Cukup tahu. Dan suatu saat saya pastikan mereka terima balasannya tanpa perlu saya yang membalasnya. 

Dulu mereka bersikap seolah mereka yang tersakiti. 

Saya selalu disalahpahami. It's okay. Saya nggak perlu memberikan penjelasan panjang kali lebar. Percuma. Yang mereka mau, saya yang salah. 

Dulu, mereka banyak mengkritik kesalahan. Tapi, giliran mereka salah. Saya coba memberikan pengertian. Tidak perlu saya hakimi berlebihan. 

Kadang capek banget menghadapi ego mereka yang tinggi. 

Saya coba cari solusi, minimal untuk pertahanan diri saya sendiri. 

Agar ketika saya menghadapi ego mereka, nggak lantas membuat saya down.

Lagi - lagi yang dipermasalahkan adalah benar - salah. 

Tanpa mempertimbangkan sisi yang lainnya.

Kini, ketika menghadapi ego mereka. Saya coba terima dengan hati terbuka, memberikan ruang untuk ego mereka menumpahkan segalanya. Dan tumpahan egonya nggak lantas membuat saya terbawa emosi. Fokus mencari solusi. 

Sabtu, 06 Januari 2024

Manusia Digital

Di jaman ini manusia digital tercipta.

Manusia yang kesibukannya beralih ke dunia digital.

Hai, hai si manusia digital. Bagaimana kabar duniamu? 

Sudah berapa banyak receh yang kau habiskan di dunia digital?

Sudah berapa banyak hal kamu bagikan hanya untuk kebutuhan akan validasi orang - orang?

Sudah seberapa bahagia kamu hidup di dunia digital?

Musim viral apa lagi bulan ini?

Tetap waspada di dunia digital. Sama seperti di dunia realitas, ada saja kejahatan - kejahatan yang dibuat oleh manusia digital.

Kejahatan yang lebih halus, tak kasar mata, tipu - tipu yang semakin besar dibandingkan di dunia realitas. Semakin besar namun semakin halus.

Kebingungan adalah hal biasa yang dialami oleh manusia peralihan.

Hidup di antara era non digital dan terpaksa beralih ke dunia digital.

Adaptasi yang agak kaku terpaksa dijalani.

Hai manusia Digital, semakin banyak topeng yang kamu buat.

Padahal bisa aja sih nggak pakai topeng, tapi lagi - lagi ketakukan akan tidak diterimanya eksistensimu membuatmu terbuai sama topeng yang diciptakan.

Kelelahan yang bukan lagi lelah fisik karena aktivitas nyata. Tapi, kelelahan pikiran semakin dirasa.

Pikiran yang sibuk ke sana kemari. Tak berhenti mencari sebelum kuota habis. Tapi, lagi - lagi langsung cepat terisi demi eksistensi diri. 

Kamis, 04 Januari 2024

Menerima

Hal tersulit dalam hidup ini adalah menerima. Terutama menerima kekurangan diri sendiri. Menerima bahwa hal buruk yang terjadi dalam hidup adalah akibat perbuatan kita sendiri di masa lalu. Kita dihujat karena dulunya, sadar atau nggak pasti kita pernah menghujat orang lain. Kita sakit, karena kita nggak bisa merawat tubuh dengan menjaga pola makan, gaya hidup atau pengelolaan stress. 

Nggak ada satu keburukan pun yang kita lakukan yang luput kembali ke kita. Pun kebaikan. 

Semua yang kita keluarkan akan kembali ke kita. 

Ketika kita menghujat seseorang sadarilah kalau kita sedang menanam itu untuk diri kita sendiri di kemudian hari. 

Kita melihat kekurangan orang, tapi buta sama kekurangan diri sendiri. 

Disamping kita juga lebih suka membicarakan kelebihan diri sendiri kita pun sangat senang membicarakan kekurangan orang lain. Jadi mengganggap dirinya paling sempurna. 

Lagi - lagi lupa kalau dirinya juga punya luka, punya dosa. 

Kita semakin sulit membedakan mana yang real mana yang maya. 

Realitas yang selalu disangkal ketika yang terjadi nggak sesuai keinginan. 

Akhirnya menyalahkan faktor eksternal. Selalu yang disalahkan orang lain. 

Atau yang lebih ekstrem menyalahkan Tuhan. Kalau Tuhan aja disalahkan, gimana manusia lain. Nggak ada nilainya di matanya. Hina sekali. 

Semakin reaktif kita, semakin menunjukkan bahwa luka kita banyak. Ego kita besar. Dan kesadaran kita minim.

You know lah, manusia itu gampang dipanas-panasin. Gampang dikomporin. Jadi nggak usah diseriusin amat sih. Berita hoaks. Gosip itu tujuannya cuma buat nunjukkin si penggosip lebih baik dari yang digosipin. Sesimpel itu. 

Terus kita jadi ikut - ikutan memjelekkan. Kita jadi ikut - ikutan menyebar kebencian. Padahal yang punya kepentingan si penggosip.  Yang ingin lebih unggul dalam segala hal. Nggak mau kalah saing. Gengsinya besar. Nggak mau rugi. Jadinya sikut - sikutan. Capek banget lihatnya. 

Mampu menerima diri secara utuh akan berdampak pada kemampuan menerima orang lain secara utuh. Tidak mudah dihasut, tidak mudah dipengaruhi hal - hal negatif, tidak mudah percaya hoaks dan senantiasa membawa hati yang damai.