Kamis, 26 Mei 2022

Qiana Cahaya Maulidya (Part 2)

Qiana (part 1)

"Bu ini sudah ada pengapuran plasenta. Kayanya bener di awal pemeriksaan waktu usia kehamilan 5 Minggu, HPL 9 November bukan yang terakhir ibu cek, akhir November atau awal Desember. Ini harus segera dikeluarkan. Tidak apa, besar di luar saja, karena bayi Ibu IUGR."

Hari itu adalah malam Minggu dan dokter menyarankan untuk dilakukan operasi sesar besoknya. Meskipun dokter libur praktek tapi melihat kondisimu, dokter rela mengorbankan waktu liburnya demi menyelamatkan kamu. 

"Tapi, dok saya belum ada persiapan apa-apa. Bagaimana kalau Senin saja?"

Dan akhirnya, dokter menyetujui untuk dilakukan operasi pada hari Senin. Di perjalanan pulang sekitar jam 10 malam, pikiran umma kalang kabut, harus melakukan persiapan, mengabarkan ke keluarga dan mungkin mereka juga akan kaget.

Di satu sisi umma senang karena akan segera ketemu bidadari cantik, di sisi lain, teringat trauma ketika persalinan pertama yang membuat umma merasa cemas.

Senin, 2 November pukul 10.00 WIB. UGD RS Hermina. Setelah dilakukan CTG selama setengah jam lebih dan tidak terlihat pergerakanmu. Namun, detak jantungmu masih terdengar. Beda dengan kakak kamu yang ketika di CTG hampir satu menit sekali melakukan tendangan di perut umma.

Selesai CTG, suster langsung menghubungi dokter Vera. Dan dokter memutuskan segera lakukan operasi. 

Umma dibawa ke lantai 3 untuk mengganti pakaian. Momen yang ditunggu segera tiba. 

Selesai mengganti pakaian, umma di bawa ke ruang operasi. Sebelum memulai operasi, dokter dan tim berdoa demi kelancaran dan keselamatan. 

Operasi dimulai, terasa sekali dingin ruangan dan ketika perut umma mulai disayat. Dokter sambil berbincang satu sama lain. 

Tangis umma pun pecaaah ketika mendengar suara tangis pertama mu di dunia. Dan umma bisa melihatmu dari pantulan dinding ruangan. Tubuhmu yang mungil, kemerahan, dan tangismu yang kencang. 

Salah satu suster memperlihatkanmu ke umma setelah kamu dibersihkan. "Bu berat dedenya 1,99 kg ya. Gpp Bu nanti gede di luar ko. Banyak kasus seperti ini, bahkan salah satu dokter di sini juga pernah bayinya IUGR. Tapi Alhamdulillah gemuk sekarang."

"Terima kasih suster. Iya tidak apa yang penting tidak kurang satu apapun."

Meskipun kecil, tapi Alhamdulillah kamu sehat, nak. Tidak perlu berada di ruang Nicu dan tidak dipakai alat apa-apa. 

Hanya ditaruh di inkubator supaya suhunya tetap hangat. 

Cantik sekali anak umma, Masya Allah. Matamu berbinar, bibirmu merah, kulitmu putih. Banyak yang bilang ini Farhan versi perempuan.


Senin, 23 Mei 2022

Meluruhkan Kesombongan

Pernah merasa lebih baik dari orang lain? Atau menganggap orang lain lebih rendah dari kita? 

Menjudge orang lain tanpa tahu hal atau kejadian apa saja yang sudah dilalui dan dialami orang yang kita jelekkan adalah perbuatan sia - sia.

Di jaman hiperkoneksi saat ini, yang kesempurnaan bagaikan dewa yang selalu diagung - agungkan. 

Semua berlomba - lomba menampilkan sisi kesempurnaan tanpa mau peduli dengan keadaan di dalam diri masing - masing atau  malah justru mengotori lisan kita sendiri dengan menjelek - jelekkan orang lain yang justru kita nggak bener - bener mengenalnya? 

Selain karena nggak mengenal orang tersebut, kita juga sepertinya nggak mengenal diri sendiri.

Sehingga begitu mudah melihat kekurangan orang lain dan begitu sulit melihat kekurangan diri sendiri.

Atau yang lebih parah lagi di depan terlihat baik dan di belakang justru menjelek - jelekkan. Begitukah kita diajarkan oleh Nabi?

Bukankah kita tahu bahwa Nabi saja dijelekkan, dilempar batu, diludahi tetap tidak mau melawan?

Bahkan Nabi mendoakan orang - orang zhalim itu agar diberikan hidayah dan kesadaran diri. Hingga Allah yang mendatangkan musibah kepada mereka agar mau bertaubat. 

Sekian.




Minggu, 22 Mei 2022

Tenggelam dalam Kefanaan


Dunia semakin hari menuntut manusia untuk terlihat sempurna.
Manusia semakin hari dituntut untuk kehidupan yang serba wah.
Media sosial adalah topeng kebahagiaan yang kerap ditampilkan. Kefanaan yang semakin diabaikan menggerus kepekaan.
Kelelahan fisik hingga menyebabkan tubuh tak mampu lagi menahan beban mental. Hingga maraknya fenomena kerasukan Yang selalu dikaitkan dengan hal – hal mistis, nyatanya itu semua adalah gangguan psikologis.
Kesadaran diri akan pentingnya menjaga fisik dan psikis semakin berkurang. Sebab,semuanya disediakan serba instan dan praktis.

Bagaimana mungkin kita mengabaikan penyakit mental yangKerap menjadi sumber permasalahan. Semakin diabaikan kelelahan mental akan membuat kita terlihat tidak natural.
Sama halnya seperti kelelahan fisik hingga terjadi sakit. Namun, kelelahan mental hingga penyakit mental masih saja dikesampingkan. Trauma masa lalu yang dianggap tabu hingga membuat malu.Membuat manusia menutup rapat memori kelam itu.

Berusaha terlihat baik – baik saja adalah awal dari kepalsuan diri. Manusia yang terbatas melihat yang hanya bisa terlihat. Bahkan lupa kalau yang bisa dilihat justru kefanaan.
Dan yang tidak terlihat adalah kekekalan. Fisik yang terlihat dan jiwa tidak bisa dilihat. Baju bagus yang dipakai tidak menjamin jiwa yang bagus pula.

Tubuh manusia adalah bungkus dari jiwa yang tak terlihat. Dan kita lebih sering fokus pada yang terlihat.
Selamat datang di dunia fana. Selamat bersenang – senang sampai kematian datang.