Minggu, 21 Juni 2015

Mt. Papandayan Is My First Love (Lanjutan 3)


Kami kembali turun dari Tegal Alun menuju area Hutan Mati yang lebih luas. Di sini tak kalah menakjubkan. Aku tambah terpukau dengan pesona kumpulan pohon-pohon yang sudah mati karena erupsi, mereka sudah tak bernyawa, menyisakan batang-batang pohon yang telah menghitam, hangus terbakar akibat letusan, namun masih tegap berdiri dengan ranting-rantingnya, membuat panorama yang begitu eksotis.

Lebih dari sejam rombongan Batavia Publishing berada di area Hutan Mati. Ada yang sibuk memotret setiap sudut bagian Hutan Mati, ada juga yang sibuk foto selfie, ada yang hanya menikmati suasana, merasakan setiap detik sensasi yang timbul dari area ini. Aku termasuk yang sibuk merasakan setiap detik sensasi menakjubkan dari Maha Karya Tuhan yang satu ini.

Tak terasa gelap pun jatuh. Udara dingin menerobos jaket tebal yang kukenakan bahkan hingga menusuk-nusuk tulang.

Menjelang di ujung malam api unggun sudah mulai berkobar-kobar, siap menghangatkan kami yang sudah mulai menggigil kedinginan. Kami berkumpul membentuk lingkaran, duduk mengitari api unggun, melakukan kegiatan sharing atau curhat atas apa yang telah dirasakan selama pendakian hari ini sekaligus membahas soal kegiatan menulis yang dipandu Kak Aida.

Azmi bercerita kalau dia dibohongi kakaknya soal larangan makan malam saat berada di gunung. Dia percaya dengan omongan sang kakak, padahal kakaknya sendiri belum pernah mendaki gunung. Tapi malah nasihat kakanya dilakukan, sehingga seminggu sebelum berangkat, di setiap malamnya dia tak pernah menyentuh makanan. Kasian. Berat badanya turun beberapa kilo. Tidak hanya karena itu, tapi dia juga setiap pagi lari tujuh putaran untuk pemanasan.

Zul bercerita soal pengalamannya naik gunung di Aceh bersama rombongan santri dan pembimbingnya (pak ustadz) yang nekat mengenakan sarung pada saat mendaki.

Jamil juga bercerita soal pengalaman camping bersama rombongan pramuka, dia sama seperti Zul, sudah terbiasa menghadapi medan terjal dan udara dingin pegunungan. Lihat saja mereka berdua kompak tak mengenakan jaket tebal malam ini. Sementara yang lain menggigil kedinginan.

Bang Ipang memberikan masukan soal pendakian diantaranya, sebelum berangkat lakukan olahraga teratur, tidur teratur, makan teratur, dan carilah informasi tentang gunung tersebut. Gunakanlah standar perlengkapan gunung lengkap (sepatu, tas dll), aturlah nafas dengan baik, aturlah langkah kaki dengan benar (langkah kecil-kecil), jangan terlalu banyak minum, dan senantiasa berdoa.

Kak Cimot menceritakan pengalaman pertamanya naik Gunung Salak ketika masih SMP. Dia bahkan bilang kalau pendaki saat ini beruntung karena sekarang jalur pendakian sudah ditata sedemikian rupa agar pendaki merasa lebih nyaman dan aman. Dia juga pernah mengalami kesulitan besar kala itu, namun semua bisa teratasi bahkan menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan membuatnya ketagihan untuk naik ke dua puluh gunung lainnya.

Di sela sesi sharing Bang Ipang dengan baik hati membuatkan teh manis hangat. Semua menikmati suasana malam ini. Di sini juga banyak pendaki lain yang melakukan berbagai aktivitas seperti, bernyanyi, bermain, bercerita, dan kegiatan lain yang bisa mengalihkan dinginnya malam.

Angin mulai berhembus kencang, rintik-rintik air jatuh dari langit. Aku mulai khawatir dengan keadaanku sendiri, dan tiba-tiba saja aku teringat ucapan Kak Cimot (kejadian meninggalnya pendaki karena kedinginan).

Selesai diskusi aku izin istirahat di dalam tenda. Namun, percuma mataku tak bisa terpejam dan tubuhku tak bisa rileks. Tak lama Zul mengajak untuk memasak martabak mie. Namun yang terjadi malah jauh dari bentuk martabak mie dan rasanya juga asin pake banget. Semua tertawa melihat kegagalan kami memasak malam ini.

Lalu Zul dan Jamil balik ke dalam tenda. Istirahat. Aku hendak mengambil air ke tempat saluran mata air dekat toilet umum. Aku berjalan menggunakan headlamp di tengah malam yang dingin dan gelap namun masih ramai oleh suara dan lalu lalang pendaki lain. Di ujung malam, menuju pagi yang dingin akhirnya semua terlelap.

Dini hari. Hujan es, kabut tebal, dan suara para pendaki lain yang terdengar mulai ramai membangunkanku. Aku membuka tenda. Melihat sekitar yang hanya terselimuti kabut tebal. Jarak pandang hanya beberapa meter.

Setelah kabut dan hujan mulai meredam. Kami mulai beraktivitas kembali. salat, sarapan pagi, bersih-bersih badan, lalu siap-siap melakukan agenda pelatihan menulis bersama Kak Aida.

Kami diberikan materi seputar penulisan bertema Travelling. Lalu kami diberi tugas untuk menulis dengan tema yang sudah dipilih secara acak. Aku kebagian tema “Pondok Salada”. Aku menceritakan apapun yang berhubungan dengan pondok salada yang kuberi judul “Kehangatan di Pondok Salada”. Dua puluh menit semua peserta selesai mengerjakan tugas dan bersiap mendengar penilaian dari Kak Aida tentang masing-masing tulisan.

Penilaian diukur dari poin 5P 1H. Tulisan yang menarik harus menggunakan konsep 5P 1H(5 Panca Indera, 1 Hati). Semua peserta sudah cukup keatif menuangkan ide-idenya. Namun, dibutuhkan latihan rutin untuk dapat menghasilkan tulisan yang dahsyat dengan konsep tersebut.

Selesai penilaian, diumumkan tulisan terbaik dari yang terbaik. Dan ternyata tulisan dengan judul “Kehangatan di Pondok Salada” mendapat apresiasi lebih. Yap, aku bersyukur dengan apresiasi yang telah diberikan. Semoga aku bisa lebih baik dalam menulis. Terima kasih Kak Aida atas hadiahnya.

Selesai agenda pelatihan menulis, kami siap-siap untuk turun. Tepatnya setelah makan siang dan salat zuhur.

Siang hari. Kami turun melewati jalur Hutan Mati. Siang hari kabut tak terlihat. Pemandangan semakin eksotis tanpa kabut yang menghalangi, tebing-tebing menjulang tinggi, uap-uang belerang keluar dari dalam bebatuan, suara khas uap belerang yang keluar memanjakan telinga.

Luar biasa perjalanan turun kali ini. Di sisi kanan dan kiri kita bisa melihat dan merasakan betapa menakjubkan Maha Karya Tuhan yang berhasil disuguhkan begitu sempurna tanpa ada kabut yang menghalangi. Perjalanan yang bahkan terasa begitu cepat.

Pemandangan alam yang indah telah kurasakan, membuatku jatuh hati. Kapan-kapan aku akan kembali saat rindu menghampiri. Salam cinta untuk semua yang ada di sini.

Cinta memang butuh perjuangan. Perjuanganku untuk Papandayan adalah bukti cintaku. Inilah kisahku dengan cinta pertamaku. Mt. Papandayan Is My First Love.

Sabtu, 20 Juni 2015

Mt. Papandayan Is My First Love (Lanjutan)


Setelah membangun tenda lalu makan siang dan salat zuhur kami mendaki lagi. Tujuan selanjutnya adalah Hutan Mati dan Tegal Alun. Berbekal air mineral, cemilan secukupnya, dan sebanyak-banyaknya tekad kami berjalan menelusuri hutan-hutan, lalu sungai, dan bebatuan. Sekitar kurang dari sejam perjalanan kami sampai di kawasan Hutan Mati. Udara terasa hangat. Dari sini kita bisa melihat Pondok Salada yang dihiasi warna-warni tenda para pendaki. Terlihat sangat kecil, seperti titik-titik warna, merah, kuning, hijau, dan biru.

Karena Kawasan Hutan Mati begitu luas sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan pendakian ke Tegal Alun dan akan kembali ke Hutan Mati setelah turun dari Tegal Alun.

Lagi dan lagi nafasku mulai tersengal.

“Fera masih kuat nggak? Karena kita masih akan menanjak cukup lama. Kalau nggak kuat jangan dipaksa, kita main-main aja di hutan mati.” Ucap Bang Ipank.

Sementara keputusan lanjut atau tidaknya ada di tanganku dan otomatis jika aku bilang stop sampai di sini, aku nggak kuat, mereka juga akan berhenti di sini.

Wajah-wajah penuh harap, wajah-wajah yang seolah-olah mengatakan, “lanjut saja. Kamu pasti kuat. Kita selalu ada untukmu. Tegal Alun sudah menanti kita. Ayo semangat!”

Hening sejenak. Menunggu keputusan. Sementara yang lain bantu menyemangati.

Aku berpikir keras dan mengumpulkan seluruh keyakinan dan tenaga yang masih tersisa. Seketika terbesit di otakku tentang nasihat lama yaitu, kamu bisa jika kamu berpikir bahwa kamu bisa. Kamu kuat jika kamu berpikir bahwa kamu kuat. Namun, kamu akan menyerah jika kamu berpikir kamu tidak bisa.”

Akhirnya, aku memutuskan untuk LANJUT! Wajah-wajah cemas itu seketika berubah menjadi senyum yang merekah.

Perjuangan luar biasa untuk sampai di Padang Edelweis karena harus melewati tanjakan bernama “Tanjakan Mamang”. Tanjakannya terjal, curam, licin, dan sempit (lebar jalan tidak lebih dari setengah meter).

Biasanya di sini banyak pendaki yang terpeleset karena memang licin. Tanjakkan ini cukup menguras energi maka tidak jarang ada pendaki yang berhenti di tengah untuk istirahat sejenak atau mengabadikan momen dengan berfoto ria.

Setelah “Tanjakan Mamang” kita melewati jalur biasa, datar yang hanya beberapa meter dari sini akan terdengar suara orang-orang yang sudah lebih dulu sampai. Yap, kami telah tiba di Tegal Alun. Hamparan bunga Edelweis terbentang luas. Aku yang masih takjub dengan sensasi yang ada di Tegal Alun tak ngeh ketika Jamil memberikan beberapa kertas kosong dan spidol. Untuk apa ya kertas ini?

“Ini kertasnya, ambil aja beberapa, nanti sisanya kasih ke yang lain ya.” Ucap Jamil lalu beranjak pergi ke area lain. Aku membiarkannya pergi dan menyangka kalau dia mau bertafakur sejenak, mencari tempat yang agak sepi. Mungkinkah ini sisi lain dari seorang Jamil yang hobi foto-foto? Ucapku dalam hati.

Sementara aku yang masih terpaku, melihat betapa dahsyat pemandangan, udara dingin, dan kabut yang semakin tebal. Tak lama setelah itu zul datang, menghampiriku, meminta kertas, disusul Kak Aida. Sampai kertas itu habis, aku masih belum sadar ada apa dengan kertas itu.

Lalu Azmi nyeletuk, “Masih ada kertas lagi nggak yang kosong buat difoto? Nanti tulisannya biar bisa diedit-edit.”

Sementara Kak Aida terlihat sedang menuliskan ajakan kepada seseorang untuk datang ke sini, Tegal Alun. Dan aku baru tersadar bahwa kertas itu untuk dituliskan kepada orang-orang terdekat. Aku kehabisan kertas padahal tadi aku yang pegang banyak. Ckckck

Jamil? Aku melihatnya dari kejauhan. Ternyata dia bukan sedang bertafakur tapi malah asyik selfie dengan tulisan-tulisan yang ada di kertas itu. Hahaha.

Satu per satu mereka berfoto dengan kertas yang sudah dituliskan. Aku juga sempat diminta Jamil memotret dirinya dan kertanya. Sementara aku yang bingung kehabisan kertas, berusaha mencari apapun yang bisa dituliskan. Terbesit rasa syukur yang ingin kutulis di kertas itu.

Setelah satu per satu puas berfoto dengan kertasnya, Zul meminta kesediaan pendaki lain untuk memotret rombongan Batavia Publishing. Jepret! Jepret! Jepret! Selesai bernarsis ria dengan tiga gaya.

Hari semakin sore. Kabut semakin tebal. Udara semakin dingin. Kak Aida mengusulkan untuk beranjak dari sini, turun ke Hutan Mat, lalu kembali ke Pondok Salada. Aku masih mencari-cari kertas. Kebetulan aku lihat ada rombongan lain yang juga sedang berkumpul, menuliskan ini-itu. Aku mendekati mereka.

“Permisi akang-akang, wah lagi pada sibuk nih bikin ucapan di kertas. Ngomong-ngomong ini rombongan dari mana? Salam Kenal, aku Fera dari Jakarta. Oh iya, boleh minta kertasnya?”

Kami berkenalan. Lalu rombongan pendaki asal Tangerang itu dengan senang hati memberikan dua kerta berserta spidol.

“Kak sebentar ya, aku mau menuliskan sesuatu.” Pintaku soal waktu kepada Kak Aida.

Tanganku gemetar ketika menuliskan rasa itu di selembar kertas. Selesai. Aku meminta Azmi untuk memotret.

Kak Aida tersenyum melihat gayaku berfoto sambil menampilkan apa yang telah kutulis. Tersenyum melihat tulisan di kertas itu. Ia terlihat juga sedang membisikan sesuatu ke telinga Bang Ipank. Zul, menyusul memotretku. Dua kamera, dua fotografer, satu objek dengan tulisan “Terima kasih Allah ^_^” .

Terima kasih Allah, terima kasih Tegal Alun, terima kasih para Edelweis yang cantik, terima kasih Tanjakan Mamang, terima kasih udara dingin, terima kasih kabut, dan terima kasih teman-teman.

--------Bersambung---------

Selasa, 09 Juni 2015

Mt. Papandayan Is My First Love


Sabtu, 6 Juni 2015 pukul 05.00 rombongan Batavia Publishing tiba di Camp David. Setiba di sana kita salat subuh dan sarapan. Rombongan yang tergabung dalam kegiatan Traveling Writing ini terdiri dari empat lelaki dan tiga perempuan.

Pukul 07.00. pendakian dimulai. Bang Ipank sebagai ketua tim. Luar biasa yang dilakukannya ini, menyemangati, mendukung, memastikan segalanya berjalan dengan baik, dan membawa peralatan paling banyak seperti: tenda, kompor, matras, bahan makanan, dan obat-obatan. Kak Aida sebagai pembimbing. Kasih sayangnya tiada tara. Perhatian banget. Lalu ada Kak Cimot yang sebenarnya juga perhatian tapi jarang ditunjukkan. Azmi yang supel dan bersahabat. Zul yang selalu mengulurkan tangannya untuk siapa saja yang kelelahan saat dalam perjalanan, dan Jamil yang selalu semangat foto-foto. Masing-masing punya karakter yang menjadi ciri khasnya. Saling melengkapi. Saling mengisi. Saling berbagi.

Kabut menemani saat langkah demi langkah dilalui. Trek terjal mulai ditapaki, udara dingin mulai menghampiri, dan angin lembut mulai merasuki tubuh ini. Di tengah-tengah perjalanan terjal dan berbatu, perasaanku mulai terasa sendu. Aku bertanya dalam hati, kamu sanggup?


Kami melewati trek menuju kawah belerang. Menanjak. Licin. Terjal. Bebatuan. Bau belerang yang sangat menyengat, menusuk hidung. Aku mengambil masker dari dalam tas dan memakainya untuk mengurangi bau tersebut. Rekomendasi dari Kak Aida. Di sini nafasku mulai tersengal. Dadaku mulai terasa sesak. Kak Aida menanyakan keadaanku, memastikan aku dalam keadaan baik-baik saja. Aku tampak loyo. Semangatku pudar. tiba-tiba aku teringat perkataan kakak di rumah, memastikan bahwa apa yang dia katakan itu hanya kebohongan. Aku mengutuknya dalam hati. Katanya landai? Apaanya yang landai? Dasar penipu!

“Dek, Papandayan itu landai lho. Treknya nggak berat untuk pendaki pemula. “ Ucapnya beberapa waktu lalu sebelum aku berangkat. Dengan modal pengetahuan seadanya aku memberanikan diri untuk mengikuti kegiatan ini. Aku mendaftarkan diri dengan semangat menggebu-gebu. Aku menanamkan erat-erat dalam ingatanku ucapan kakak tadi. Papandayan landai.

Mungkin bagi yang sudah terbiasa mendaki gunung, jalur di papandayan tidak begitu sulit. Apalagi untuk ukuran seorang lelaki (kakak) yang memiliki tubuh tinggi besar. Sementara tubuhku ringkih (beda 180 derajat). Sementara pendakian ini adalah pendakian pertama bagiku. Jadi aku merasa sangat tertipu oleh ucapan kakak. Teganya dia bilang treknya landai? Padahal taruhannya nyawa.

Harus pelan-pelan dan be carefull. Meskipun aku merasa sudah sangat hati-hati dalam melangkah, namun beberapa kali hampir terpeleset. Berkat uluran tangan dan dukungan teman-teman, aku bisa melewati semua rintangan ini. Terima kasih ya.

Ingin rasanya menumpahkan air mata ini ketika melihat tebing-tebing menjulang tinggi dan kokoh, warna-warni bebatuan yang sungguh menawan, uap-uap belerang yang keluar dengan suaranya yang khas dan bau yang menyengat. Aku memilih menahan tumpahan air mata ini yang seolah-seolah ikut merasakan kekaguman yang aku rasakan. Maha Besar Allah atas segala ciptaanNya.

Setelah tiba di pos kawah belerang kami istirahat sejenak, menghela nafas panjang, minum, dan tak lupa foto-foto. Jamil terlihat sangat antusias melakukan hobi narsisnya. Dan seperti biasa, aku yang sering dimintai memfoto dirinya. Bergaya macam foto model. Hahaha.

Perjalanan dilanjutkan. Sekitar setengah jam melewati trek menanjak dan sempit, akhirnya kami tiba di jalur trek terakhir, melewati sungai dengan aliran langsung mata air, banyak pendaki yang berhenti untuk meminum air sungai ini. Pemandangannya pun luar biasa, hamparan pepohonan hijau menjulang dari atas ke bawah, terlihat beberapa pendaki yang masih berada di bawah.

Beberapa ratus meter sebelum sampai di pondok saladah, kami mendaftarkan diri ke pengurus di sana. Kirain sudah sampai di sini bangun tendanya. Ternyata masih harus naik sedikit lagi.

“Semangat ya. Lima menit lagi kita sampai.” Ucap Kak Aida.

Lima menit sudah berlalu, sementara trek semakin sempit dan menanjak.

“Kak, ini udah lebih dari lima menit lho. Kok belum sampai?”Aku protes. Seperti anak kecil yang menagih janji ibunya untuk dibelikan boneka.

“Fera kalo capek istirahat aja.” Sahut Kak Ipank sambil menatapku dengan tatapan prihatin.

Lanjutan....

Sabar Fera, sedikit lagi sampai. Kuatkan lagi tekadmu. Atur nafas dengan baik. Bisikku dalam hati.

Sejauh mata memandang akhirnya aku bisa melihat beberapa tenda terpasang. Setelah melalui jalanan sempit dan menanjak yang persisi seperti melewati sebuah hutan, terlihat secercah cahaya. Matahari begitu terang dengan sedikit kabut yang masih setia. Kita sudah keluar dari hutan.

Setelah berkeliling akhirnya didapat area untuk mendirikan tenda. Sementara Bang Ipank mengeluarkan perlengkapan tenda, Jamila dan Zul yang asik foto-foto, aku langsung menghempaskan tubuh di atas rumput-rumput yang terasa dingin. Nyeeeeesss. Huuuuuuuft. Akhirnya sampai di pondok salada. Perjuangan luar biasa terbayar dengan pemandangan cantik, udara sejuk. Nampak beberapa awan begitu dekat jaraknya, bergerak perlahan, disusul awan lain. Selfie dulu ah. Hahaha.

----- bersambung-----