Senin, 24 Oktober 2022

Menangislah, Tanda Kamu Manusia Bukan Batu!

"Nangis aja jangan ditahan, kamu bukan batu. Nangis aja nangis, gak usah maksa selalu pengen terlihat kuat gitu sih. Air mata gak akan abis ko. Oh tetep gamau. Giliran baca novel, nonton film/drakor ko langsung banjir itu. Bisa jadi itu sedih yang terpendam. Tapi gak sadar aja. Bener ga?"

Tiba - tiba suara hatiku mengatakan demikian. Entah kenapa banyak orang yang salah kaprah tentang air mata.

Dia yang nggak pernah nangis itu bukan berarti orang yang kuat (stroong)! sebaliknya orang yang mudah menangis bukan berarti dia lemah. 

Bahagia bukan juga berarti nggak pernah mengeluarkan air mata. Itu salah besar. 

Nangis itu menandakan kita manusia, punya hati. That's it!

Orang yg nggak pernah nangis bisa jadi hatinya keras seperti batu. Terus jadi nya lebih sering marah - marah. Lebih banyak mengkritik diri dan orang lain! Terlalu menuntut kesempurnaan. Harus serba bisa, serba Okay di mata orang lain. Hatinya belum tentu merasa cukup dan tenang. 😆

Tapi nggak juga nangis terus setiap hari ya. Ya, dikira - kira aja. Intinya kalau sedih itu nggak apa-apa nangis aja ko, wajar banget. Mau kamu perempuan atau laki - laki. Sama - sama punya stok air mata yang nggak akan habis.

Jumat, 14 Oktober 2022

Bullying membawa Petaka

Sebuah film yang berjudul, "Kalian Pantas Mati" yang bergenre horror ini pantas diberikan apresiasi karena related dengan kehidupan anak remaja jika dilihat dari sisi kenakalannya. Remaja yang notabenenya dilahirkan dari orang tua berada namun orang tuanya kurang memberikan perannya serta lebih sibuk diluar rumah membuat anak - anak tumbuh tanpa aturan. Mereka merasa bebas melakukan apapun yang mereka suka. Termasuk membully teman yang berasal dari keluarga miskin namun memiliki segudang prestasi. 
Bully di kalangan remaja memang sangat memprihatinkan. Banyak kasus perundungan yang melukai fisik dan psikis korban. 
Hal inilah yang harus diwaspadai oleh pihak sekolah dan kerjasama dari pihak orang tua untuk terus mengawasi pergaulan putra putrinya. 
Dari film tersebut, kita bisa lihat karakter Dini, seorang gadis remaja yang cantik, pintar dan berbakat di bidang seni tari. 
Namun, karena dini anak dari penjaga sekolah. Dia tidak punya power untuk melawan ketika teman - temannya yang tergabung dalam sebuah geng anak - anak tajir membully nya.
Dampak dari bully ini membuat dia merasa rendah diri dan ingin lepas dari kehidupan ayahnya yang hanya seorang penjaga sekolah. 
Namun, sayangnya kecelakaan membuat nyawanya tak tertolong. Hal inilah yang membuat ayahnya sangat kehilangan dan mempunyai dendam terhadap murid - murid yang sudah membully anaknya. 
Dengan belajar ilmu hitam, dia pun bisa memanggil arwah dini untuk membalas perbuatannya teman - temannya. 
Namun, dini aslinya adalah anak yang baik dan tidak pendendam, maka sosok hantu dini muncul dengan karakter yang baik. 
Sementara, hantu dini yang lain adalah sisi jahat dari ilmu hitam yang ayahnya lakukan untuk menyakiti teman - teman dini yang sudah membully nya.
Sementara Raka, adalah murid yang bisa melihat makhluk astral. 
So, segitu aja infonya dari saya. Film ini layak untuk ditonton. 
Film horor yang gak horor banget. Kebanyakan film horor dari awal sampai akhir bikin tegang. Kalau film ini sangat beda, ada sisi humornya, romantis, horor dan anak muda banget.

Sabtu, 08 Oktober 2022

Pentingnya Menyadari Kesehatan Mental Sejak Dini

Beberapa orang yang saya kenal ternyata mempunyai isu tentang keluarga. Beraneka ragam problematika. Dengan berbagai emosi yang bergejolak. Bahkan di usia yang masih sangat kecil salah satu teman saya sudah menyaksikan orang tuanya bertengkar hebat dan akhirnya berpisah. Sejak saat itu dia diasuh oleh kakek dan neneknya. Ibunya yang sejak kejadian itu tak pernah lagi menemuinya. Dan ayahnya yang masih ada namun selalu terasa asing bagi anaknya sendiri. 

Emosi terkadang menjadi bumerang bagi yang memilikinya. Apalagi jika emosi yang sudah bertahun-tahun itu disimpan dan terus terakumulasi sehingga tanpa sadar kadarnya membesar. Ketika ada pemicu yang pas, di saat itulah ego mengendalikan diri,  menghancurkan naluri. 

Sisi baik yang sudah terbentuk pun seolah tak ada artinya. 

Banyak sekali orang tua yang ternyata masih menyimpan emosi entah itu kemarahan, ketakutan dan kesedihan nya terhadap orang tua mereka namun sayangnya emosi itu diabaikan tanpa diproses dengan benar sehingga puluhan tahun kemudian emosi itu kembali menghampiri ketika dia sudah menikah. 

Sisi kekanak - kanakan nya muncul setelah mereka punya pasangan dan anak.

Jarang sekali ada orang tua yang rendah hati mau mengakui emosi yang masih tersimpan puluhan tahun ini. Mereka terus berasumsi bahwa mereka baik - baik saja. "mana mungkin saya masih menyimpan kemarahan saya terhadap orang tua saya."

Ditambah doktrin bahwa orang tua harus dipatuhi dan tidak boleh dilawan. 

Seorang anak yang sering melihat, mendengar dan merasakan kemarahan orang tuanya akan merekam semua itu dan menganggapnya itu adalah hal yang normal. Dan ketika dia menikah pun keadaan yang harmonis menjadi sangat asing dan tidak normal. Sehingga keributan - keributan yang dipicu hal - hal sederhana menjadi konflik yang selalu ada dan menyertai di hari - harinya.

Orang tua yang dulunya terluka tanpa sadar ketika dewasa luka itu masih ada dan ditularkan ke pasangan serta anaknya. Tanpa adanya kesadaran, hal ini terus terjadi bagaikan lingkaran setan. 

Mereka yang terlihat "baik - baik saja" ternyata masih menyimpan kemarahan. Di usia saya yang masih remaja saya pun mengalami penyakit psikosomatik yang ternyata disebabkan oleh kemarahan yang saya pendam bertahun - tahun dan terus terakumulasi. Penyakit ini pun seolah tak bisa hilang dengan obat - obatan medis. Penyakit yang kambuh - kambuhan. Ternyata akarnya adalah kemarahan yang saya tahan saat masih anak - anak sampai menginjak usia dewasa. Beberapa tahun belakangan ini, isu kesehatan mental menjadi sangat booming. Dan saya mencoba mempelajari dan mendalami itu. Hingga saya menyadarinya, menerimanya dan memasrahkannya. Hingga kini saya tak pernah lagi merasakan sakit seperti dulu.

Banyak anak yang tumbuh dengan luka dan luka itu tak pernah disadari keberadaanya. 

Selamat hari kesehatan mental dunia.


Rabu, 05 Oktober 2022

Amuk di Kanjuruhan

Di setiap pertandingan, selalu ada yang jadi pemenang. Pemenang hanya simbol dari kegigihan usaha yang dilakukan. Sama seperti pemenang, yang kalah juga simbol bahwa harus lebih giat lagi berusaha. Adalah hal wajar ketika kalah mengakui dan menerima kekalahan dengan lapang dada. Dan ketika menang, merayakannya dengan bersuka cita dan tetap rendah hati merangkul yang kalah untuk sama - sama merayakan kemenangan itu dan tetap menyemangatinya. Memahami bahwa semuanya adalah takdir yang harus diterima.

Suporter yang "beringas" adalah simbol adanya kemarahan di dalam dirinya entah marah ke siapa. Kekalahan club nya hanyalah pemicu kecil dari emosi besar yang sudah ada jauh di dalam dirinya. 

Jiwa - jiwa muda yang sedang bergejolak itu awalnya memang sudah rentan. Hal ini bisa dilihat dari mudahnya mereka terprovokasi. Hal ini tentu bisa saja dimanfaatkan oleh pihak - pihak yang tidak bertanggung jawab. Pihak yang hanya mencari "keuntungan" dari mereka yang masih beranjak remaja. Jiwa muda ini tentu tidak takut mati dan tidak mempertimbangkan akibat perbuatannya ternyata membuat banyak teman - teman mudanya yang mati sia - sia. 

Penonton yang melebihi kapasitas pun menjadi tanggung jawab panitia yang mungkin hanya mementingkan pemasukan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Demi uang ratusan nyawa melayang.

Polisi yang panik dengan membludaknya puluhan ribu penonton yang ribuan supporter yang memaksa masuk secara tidak sadar menembakkan gas air mata, termasuk ke beberapa tribun yang banyak terdapat perempuan dan anak - anak. Alhasil, mereka berhamburan. 

Efek gas air mata, tidak main - main. Semua kejadian ini berawal dari emosi yang tidak terkendali. Perilaku yang tidak disadari. 

Selamat jalan para pemuda. Selamat menuai apa yang sudah kau tanam. Yang masih selamat, marilah kita mulai melihat ke diri masing - masing, merefleksi diri atas kejadian yang sangat memilukan ini.

sumber foto : detik.com