Sabtu, 21 Juni 2014

Murid (Kesayangan)

Ini cerita tentang pengalamanku saat mengajar anak-anak. Aku merasa nyaman mengajar karena bisa bertemu dengan malaikat-malaikat kecil yang masih polos, penuh canda tawa, dan kejahilan serta kenakalan khas mereka. Anak-anak itu polos, lugu, nakal, dan pintar.

“Kak, aku mau tanya,” Seorang anak menunjuk tangan ketika aku sedang menerangkan materi di kelas.

“Silahkan, Nicholas. Mau bertanya apa?”

“Kak, apa bahasa inggrisnya rumah?” Anak-anak yang lain menimpali “Haaaaaaaaa-uuuuu-ssssss.(HOUSE).” Seluruh isi ruangan ramai oleh tawa. Aku mengangkat bahu dan ikut tertawa. Ternyata itu bentuk ekspresi mereka saat sedang kehausan. Bagaimanapun aku tidak bisa marah. Aku tertawa melihat kenakalan demi kenakalan, tapi juga diimbangi dengan peningkatan prestasi mereka.

Bel istirahat berbunyi.

“Nah, waktunya istirahat anak-anak. Yang haus boleh minum sepuasnya.” Anak-anak kembali tertawa. Satu per satu meninggalkan ruang kelas.

Lalu, saat sedang istirahat. Ada seorang anak perempuan yang mengatakan, “Kak, coba kakak jadi Ibu aku.”

“Lho memangnya Ibu kamu kemana, Nak?”

“Kak, Ibu aku kan lagi sakit keras, mau dioperasi. Doain yah kak supaya cepat sembuh.” Aku tersenyum lalu memeluknya. Bagaimanapun aku dan kebanyakan orang dewasa harus banyak belajar dari anak-anak. Terutama tentang kejujuran dan apa adanya mereka. Itulah kenapa aku merasa puas walaupun tidak dibayar mahal. Karena rezeki bukan hanya sekedar materi.

Bayi Lucu dan Gadis Cantik di Gerbong

Whoooooooong! Whooooong!

Suasana ramai mudik lebaran, penuh sesak oleh orang-orang yang rindu kampung halaman . Darmo yang duduk disampingku terlihat asik membaca koran. Dari gerbong sebelah datang seorang ibu dengan bayinya. “Eh, maaf anak muda. Bisa tolong gendong bayi ini sebentar? Saya mau mengambil uang di dalam tas. Sebentar lagi saya turun.”

“Oh, iya, bu.” Sambil tersenyum aku menerima bayi tersebut. Aku memangkunya sambil sesekali bercanda.

Darmo yang tadinya sedang asik membaca tiba-tiba melirik dan meledekku, “Hei, lihatlah. Kau sudah cocok punya anak. Ayolah, menikah, broo!”

Tiba-tiba aku merasa ada air hangat yang mengalir di celana panjangku. Belum sempat aku lihat, ibu itu meminta bayinya dan berterimakasih sambil berlalu cepat.

Aku pun turun di stasiun tersebut untuk ke toilet. Aku kembali ke gerbong dan melihat disamping darmo ada seorang gadis cantik. “E-h, maaaf mba. Ini tempat duduk saya. Tadi saya tinggal ke toilet sebentar.”

Gadis cantik itu jengkel, wajahnya terlihat menyeramkan. “Hei, salah sendiri kenapa kau tinggalkan. Lagi pula tempat duduk ini untuk semua penumpang. Kau seharusnya bisa mengalah dengan penumpang perempuan. Astaga, kau mengompol pula? Dasar laki-laki aneh.” Gadis itu terlihat keheranan dan berlalu meninggalkanku.

Aku hanya mematung sementara darmo tertawa terbahak-bahak.