Jumat, 29 Juli 2022

Zoom Out

Untuk apa manusia hidup jika tak ada kebaikan.

Untuk apa manusia hidup jika tak ada persahabatan.

Untuk apa manusia hidup jika tak ada kebermanfaatan.

Kejahatan yang dilakukan sebenarnya buat apa?

Perselisihan yang terjadi sebenernya untuk siapa?

Dan kesia – siaan sebenernya apa?

Tengoklah jauh ke dalam dirimu .

Sebelum kamu tengok kanan kirimu.

Lihatlah sisi kelammu .

Sebelum kamu menemukan sisi terangmu.

Nilailah dirimu sebelum kamu menilai orang lain.

Cukuplah  menyuarakan kebaikan tanpa adanya keteladanan.

Cukuplah kau menilai buruk orang lain tanpa pernah berkaca pada diri sendiri.

Dunia ini begitu luas.

Alam semesta ini sungguh tak terbatas.

Tapi kita, masih saja membatasi diri dengan menilai seseorang hanya dari satu. Tanpa melihat secara utuh.

Kejahatan, perselisihan dan kesia-siaan terlihat begitu konyol.

Kita hanyalah butiran debu di alam semesta ini.

Zoom out.

Agar kita bisa jauh lebih tenang.

Jauh lebih fokus pada hal – hal penting.

Dan jauh lebih bijaksana.

Rabu, 27 Juli 2022

Mengatasi Kecemasan Remaja Di Era Hiperkoneksi

Tak dapat dipungkiri bahwa kesehatan mental saat ini menjadi isu yang sangat mendunia. Bahkan di kalangan perkotaan negara – negara berkembang isu ini sudah mulai banyak diperbincangkan. Kesadaran untuk menjaga kesehatan mental mulai dikampanyekan oleh berbagai elemen masyarakat. Terlebih kesadaran akan kesetaraan pentingnya menjaga kesehatan mental layaknya kita menjaga kesehatan fisik.

Menurut WHO Kesehatan mental adalah kondisi sejahtera seseorang, ketika seseorang menyadari kemampuan dirinya, mampu untuk mengelola stress yang dimiliki serta beradaptasi dengan baik, dapat bekerja secara produktif dan berkontribusi untuk lingkungannya.

Kecemasan dan depresi adalah gangguan mental yang sering dialami remaja di era digital saat ini. Menurut data Riskesdas (riset kesehatan dasar) 2018 presentasi depresi pada usia remaja (15 – 24 tahun) sebesar 6,2%. Depresi berat akan mengakibatkan remaja menyakiti diri sendiri bahkan berpikir untuk bunuh diri. Menurut ahli Suciodologist, sebesar 4,2% siswa di Indonesia pernah berpikir untuk bunuh diri. Pada kalangan mahasiswa sebesar 6,9% mempunyai niat bunuh diri sedangkan 3% nya melakukan percobaan bunuh diri.

Peran keluarga menjadi sangat penting dalam menumbuhkan mental yang sehat pada remaja. Seorang remaja yang dibesarkan dengan figur pengasuh yang baik akan tumbuh dengan karakter yang kuat. Karakter yang kuat sangat erat kaitannya dengan kesehatan mental.

Pengetahuan tentang mental health haruslah diberikan mulai dari lingkup terkecil keluarga, sekolah, masyarakat hingga negara. Namun, peran keluarga diharapkan lebih aktif demi menjaga anak-anak remaja mereka agar terhindar dari mental illness dan meminimalisir resiko yang ditimbulkan dari gejala mental illness yang cenderung diakibatkan karena faktor luar, seperti tekanan dalam bidang akademik, perundungan (bullying), kecemburuan sosial dan sebagainya.

Pada remaja masa kini, umumnya gangguan kecemasan timbul akibat adanya perubahan yang cukup ekstrem pada kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Tekanan dan ekspektasi yang tinggi dari keluarga maupun sosial terhadap diri seorang remaja sangat berpengaruh atas timbulnya rasa kecemasan yang berlebih ini. Tekanan dan ekspektasi ini tidak dibarengi dengan support system yang melingkarinya dalam hal ini keluarga. Banyak orang tua menganggap sepele rasa kecemasan yang dirasakan oleh remaja dan membandingkan masa remaja yang dialaminya dengan yang dialami oleh anak-anaknya.

Padahal memasuki masa remaja di era digital seperti sekarang ini juga merupakan tantangan yang harus dilewati oleh remaja dan tentunya akan lebih banyak lagi kecemasan yang dirasakan. Media sosial menjadi salah satu pengaruh besar terhadap kecemasan remaja.

Dengan terbiasa melihat kehidupan orang lain di media sosial membuat diri kita sebagai remaja tanpa sadar menjadi lebih sering membandingkan hidup kita dengan orang lain meskipun hanya melihat dari unggahan foto ataupun story yang hanya beberapa hitungan detik saja. Selain itu, kita pun akan lebih banyak dan lebih mudah mendapatkan informasi dari berbagai macam sumber yang tentunya tidak selalu valid. Informasi tersebut tentunya akan menumpuk di dalam kepala dan menimbulkan banyak pertanyaan sehingga timbul rasa cemas berlebihan karena takut tidak bisa mengimbangi dunia luar.

Untuk itu, penggunaan media sosial perlu diawasi oleh orang tua serta diberikan pemahaman tentang bijak dalam menggunakan media sosial, tidak mudah terbawa arus tren dunia maya dan tidak mudah percaya dengan informasi yang dilihat di dunia maya. Agar pengawasan dan pemahaman ini dapat tersampaikan kepada remaja, orang tua perlu menempatkan dirinya sebagai teman bagi mereka.

Orang tua yang memiliki anak menginjak masa remaja haruslah bisa menjadi teman yang asik untuk diajak berdiskusi. Ketika orang tua sudah dianggap teman, mereka akan lebih nyaman untuk bercerita apapun yang mereka alami dan mereka rasakan. Mereka tidak akan canggung kepada orang tua, namun tetap bisa menjaga rasa hormat kepada kedua orang tua.

Penting bagi orang tua untuk menanamkan nilai – nilai spiritual di masa remaja anaknya. Nilai – nilai spiritual yang dimaksud menurut Prof. Notonegoro adalah ; (1) nilai kebenaran yang bersumber pada akal manusia sesuai fakta – fakta yang ada, (2) nilai estetis atau nilai keindahan yang bersumber pada unsur – unsur perasaan manusia, (3) nilai kebaikan atau nilai moral mengenai baik buruknya suatu perbuatan dan (4) nilai religius yang berisi filsafat – filsafat hidup yang dapat diyakini kebenarannya.

Orang tua juga dilarang menghakimi anak remaja ketika berbuat kesalahan. Penghakiman hanya akan membuat anak semakin membenci orang tuanya. Jangan pula menghukum anak remaja dengan hukuman yang tidak sepadan dengan kesalahan yang dilakukan. Berilah apresiasi ketika anak remaja melakukan perbuatan baik sekecil apapun. Penghargaan yang diberikan orang tua akan memunculkan rasa percaya diri mereka. Sehingga mereka akan termotivasi untuk berbuat yang lebih baik lagi.